|
|
|
|
|
|

Thursday, 26 February 2009

Ikan Laut Tak Selalu Ikan Asin

Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat
dan salah seorang Guru Ekonomi Syariahku Mas Syakir Sula yang saya ibaratkan sebagai ikan berenang dilaut namun tidak serta merta menjadi ikan asin.

Marketing Bahlul, demikian nama judul dari sebuah buku saku hasil karya Mas Syakir Sula yang terakhir terbitan Raja Grafindo Persada pada akhir tahun 2008 lalu. Rasanya tak berlebihan bila saya menganjurkan para pembaca blog saya kali ini untuk dapat memilikinya dijaringan toko buku terdekat dimanapun anda berada diseluruh Indonesia.
Kenapa saya ingin sekali anda sekalian membaca buku setebal 370 halaman ini? Pertimbangan saya antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, ketika dunia dimana kita bertempat tinggal sekarang ini sudah terasa sangat bergetah, diantara rasa keputus asaan tempat bergantung satu-satunya hanyalah kepada The One and The All Mighty semata, Allah SWT Jalal Jalalu; Kedua, disaat kita sangat bersedih ternyata sebenarnya kita tidak pernah benar-benar sendirian karena ada Allah SWT bersama kita dan bekerja melalui ion-ion diudara yang merupakan kamera-Nya. Dan Ia lebih dekat dari urat leher kita; Ketiga, didalam menjalani kehidupan ini menjadi khalifatullah, kita tidak harus terjerumus kedalam sebuah sistem maksiat yang sangat jelas dilarang didalam Al Quran dan dijelaskan didalam Al Hadist. Buku berjudul “Marketing Bahlul” tersebut diatas mengajarkan memberi penjelasan tanpa mengajari kita bagaimana ibarat ikan berenang didalam lautan tapi tidak harus menjadi ikan asin yang tergarami oleh asinnya air laut.
Diminta untuk menjadi salah seorang endorser pada halaman belakang buku tersebut sekaligus menjadi salah seorang pembicara utama bersanding dengan para Kekasih Allah penggerak Sistem Ekonomi Syariah sekelas Mas Adiwarman, membuat saya full konsentrasi menjalankan fungsi sebagai Duta MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) didalam menjelaskan kebaikan Islam rahmatan lil alamin.

Islamophobia dinegeri barat memberikan peluang bagi ummat Islam untuk menunjukkan bahwa bukan seperti itu image negatif yang diajarkan untuk kita semua ummat Islam diseluruh dunia. Rasa keterpanggilan yang tinggi membuat saya yang terlahir sebagai Islam karena dilahirkan dari kedua orang tua yang Islam mencari makna hakiki Islam sebanyak-banyaknya. Berlalunya usia seakan sedang lari sprint dan marathon, membuat semangat saya seakan tidak ingin terkalahkan oleh usia didalam mengejar ilmu Allah yang diturunkan melalui wahyu terakhir kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Didalam kegigihan mencari ilmu Allah sebanyak-banyaknya inilah saya dipertemukan-Nya dengan pada Kekasih-Nya yang lain. Ibarat ketok bambu permainan desa disaat saya masih tinggal di Palembang Sumatra Selatan saat kecil dulu, dari mulut kemulut pertalian silaturahim ini menjadi semakin panjang saja barisannya. Tentu rasa bahagia mendalam serta rasa syukur tak berkesudahan menjadi semakin sering terucapkan. Rasanya Allah SWT tak kepalang tanggung didalam mengijabah doa ummat yang aniaya seperti saya ini. Karena beberapa kepercayaan terkait dengan gerakan sosialisasi ekonomi syariah ini kemudian berkembang luas menjadi persaudaraan sejati didalam Islamic Brotherhood dan Sisterhood di Indonesia. Didalam gambar diatas juga tampak Ratih Sanggarwati yang turut terundang untuk semakin memperluas ikatan persaudaraan syariah ini.

Membahas isi dari buku Mas Syakir Sula Marketing Bahlul, berisi bagaimana sebagai bussines person dikota besar seperti Jakarta dapat melakukan kegiatan marketingnya tanpa harus terjebak dengan langkah-langkah maksiat yang selama ini dikenal sebagai bisnis bukan sekedar uang belaka namun termasuk servis maksiat didalamnya. Metode yang dipakai Mas Syakir adalah metode PAR (Participatory Action Research), dimana sang penulis terlibat aktif didalamnya. Bila dalam metode PRA sebelum ini periset terlibat sebagai salah seorang pelakunya, maka hebatnya Mas Syakir mampu memberi jarak melibatkan diri tanpa harus menjadi terlibat. Luar biasa!

Cerita demi cerita seakan tak mampu saya tahan untuk bersegera diselesaikan. Buku tebal sedang tersebut habis saya lahap didalam dua hari saja, alhamdulillah. Pendekatan undercover terasa gurih dan crispy seperti renyahnya keripik singkong buatan Kota Cimahi, Jabar 1 (Dapil Pileg saya dari PPP) yang menemani saya sembari membaca buku tersebut. Hanya saja ada yang sedikit menggangu ketika tokoh-tokoh didalamnya kenapa ada yang harus disertakan initial namanya, sehingga saya khawatir bila kelak Mas Syakir Sula harus berhadapan dengan gugatan delik pidana pencemaran nama baik dalam Pasal 310 dan 311 KUHP terkait dengan pencemaran nama baik serta perbuatan tidak menyenangkan. Namun semoga saja tidak terjadi, karena siapa juga kan yang faham dengan kehidupan dunia papan atas yang eksklusif berikut para pelakunya selama ini? Apalagi didalam buku tersebut banyak diselingi humor ringan namun sangat menggelitik, sehingga kita sebagai pembaca tidak merasa digurui.

Selamat berkarya lagi dalam waktu dekat wahai Kekasih Allah Mas Syakir Sula saudaraku… All the best ya? Allahu Akbar!

Read more!

Friday, 2 January 2009

Indonesia’s Cinematic Art Stumble and Surge

Indonesia’s Cinematic Art Stumble and Surge

World Paper, New York, USA
June, 2001


By. Marissa Haque Fawzi
An Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University


Indonesia as a country among many countries in the world, cannot escape of the effect of globalization. More specially, the Indonesia film industry is influenced and shaped by the cultures and trends of many other nations. This assimilation necessary and positive for progress and increased quality as long as an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This process is guaranteed by the fact that our world grows smaller everyday and the boundaries that once existed are no more.

The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was the first Indonesia artist to graduate from the School of Film at the University of California Los Angles as early as the 1940s. Generations to follow in the 1970’s were strongly predisposed to Russian production style and technique with Indonesian graduate from Moscow University such as Syumandjaja and Amy Priono.

Many artists to follow, Producers and Directors are products of Indonesia education and training. Their work, also distinguished, is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts has been “Edutainment” or educational entertainment for the Indonesian citizen.

The only trouble with this is seen in the extremely small ratio of these artists in relation to the population of Indonesia, which far exceeds 200 million. If the love of money is the root of all evil it has also been the demise of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed the production of movies as a monetary printing press.

The typical Indonesian film left nothing for the viewing public; there was no moral message and no real meaning. By the end of 1980s the film industry has stagnated and come to screeching halt. The Indonesia government further stifled the industry’s creativity and quality, and the differences from one film to the next became almost impossible to discern. It was a frustrating time for the movie-going public and even exasperating for those production teams that sought to create.

In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated from University of Indonesia with a degree in Law and attended Indonesia’s Institut Kesenian Jakarta (Indonesian Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented an Eastern European style of production. Many Indonesian viewers did not understand this style of production and found the storylines difficult to follow, but his works have been honored (and have placed) at almost every international film festivals in which those have appeared.

Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film graduates that, to date, do not wish to be identified with other movie production teams, came together to produce. They represent the new techno generation, seeking something new and different from all who came before them, and it is known to Indonesians today as the movie Kuldesak. This independent production team used a grassroots style marketing strategy throughout production. The film smacks of Quentin Tarantino. The theme song from thia movie was also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.

The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director), Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their award-winning production Petualangan Sherina or the Adventures of Sherina. The British honored this production with the presentation of the British Chavening Award Scholarship to Riza. This is only logical because Riza finished his Master of Arts in screenwriting at a British Institution in 1999. Riza ia rich with British style.

What do we see in the future of the Indonesian film industry? What style do we hope will prevail? There are so many possibilities, but that which cannot be denied and is clear to even those who would close their eyes is that American films are shown on every channel of Indonesian television and fill Indonesian theatres. In this lies an undeniable answer.

We are also aware that American film is a collection of assimilations from across the world. Thus we come full circle of globalization and interdependent world in which we live. We will, each and every one of us, learn from all of those around us without exception, if we hope to progress. This is a continual process that will go on for as long as we breathe.

Read more!

Thursday, 1 January 2009

Selamat dengan Ekonomi Syariah di Indonesia

Marissa Haque-Ekonomi Syariah Dukung Sektor Riil

.Saudara dan saudariku terkasih setanah air, berikut ini saya sekedar memforwardkan berita posistif dari perkembangan ekonomi syariah ditanah air. Semoga dapat sedikit mencerahkan bagi kita semua ya? Salam kasih, Marissa.

http://www.pkesinteraktif.com/content/view/3289/68/lang,id/

Rabu, 05 November 2008

Jakarta (4/11). Marissa Grace Haque (lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962; umur 46 tahun) adalah seorang aktris, sutradara, produser film dan politikus Indonesia. Menikah dengan Ahmad Zulfikar Fawzi (Ikang Fawzi) dan dianugerahi dua orang putri, yaitu Isabella Muliawati Fawzi (Bella) dan Marsha Chikita Fawzi (Kiki). Ia adalah kakak kandung dari Soraya Haque dan Shahnaz Haque.

Ia juga aktif menulis di media dan sebagai pengacara non-ligitasi, Direktur Utama PT SAI (Saya Anak Indonesia) Films, Direktur Eksekutif e-Gov Institute di Jakarta dan Surabaya, juru bicara dari Ristra Beauty Clinic and Cosmetics, Duta Lingkungan Hidup dari KLH, Duta WWF untuk Badak Cula Satu, dan Duta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Marissa telah menyelesaikan berbagai disiplin ilmu yaitu, Doktor S3 dari Institut Pertanian Bogor, jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup dan kini ia akan menjalani studi S2 Hukum Pidana Universitas padjadjaran.

Motto hidup duta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini yaitu menjalani hidup dengan mengalir seperti air (go with the flow) dan ikhlas menjalani ketentuan Allah Swt. Manusia berusia, namun tuhan yang menentukan hasilnya sesuai usaha tersebut.

Filosofi kehidupan bermasyarakat Marrissa yaitu jujurkan keadilan dan adilkan kejujuran. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia berharap pemerintah tidak hanya menjalankan trilogi pembangunan yang terdiri dari stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Namun juga, ekonomi yang berpihak pada sektor Usaha Kecil dan Mikro (UKM).

Ekonomi syariah berpihak pada sektor riil yang mayoritas ada pada masyarakat Indonesia. UKM tersebut menjadi penolong di saat krisis global, yang muncul akibat runtuhnya pasar modal.

Ia berharap ekonomi syariah dapat maju menjawab tantangan jaman. Apalagi krisis global yang melanda beberapa negara saat ini dapat diatasi dengan sistem ekonomi yang berkeadilan seperti ekonomi syariah. Ekonomi syariah berada di pertengahan sistem ekonomi kapitalis dan ekonomi komunis. (Nola, www.pkesinteraktif.com)

Read more!

En Kleine Kadotje van Oom Fanny Habibie

Kalau Allah SWT sudah ingin bersegera menjawab ‘doa rintihan’ kita, maka jarak lintas laut dan benua bukan hal yang mustahil bagi-Nya.

Seucap Nyata

Adalah seorang hamba Allah orang Indonesia nomor wahid di Negeri Belanda yang menelpon di cellphone-ku menjelang tengah malam buta waktu Indonesia bagian barat 3 (tiga) hari yang lalu.
Setengah hati kuangkat telpon yang deringnya mengganggu konsentrasi gelombang alpha dzikir panjangku diatas sajadah empuk sederhana dikamar tidur.

Ah! Private number lagi… cobaan apa lagi ini yang datang tak henti-henti menerorku sejak dua hari berselang? Kenapa justru ditengah malam buta disaat saya sedang ‘senang-senangnya’ bersenandung lirih untuk-Nya?
“Marissa… apa khabarnya?,” kata suara laki-laki diseberang sana dengan nada semangat. “Masya Allah… saya senang sekali dengan tulisan kamu,” sambungnya lagi.

Saya terkesiap: “Ups, tulisan yang mana dan dimana, dan dengan siapa ini?” Saya memang perlu meyakinkan diri ini bahwa saya memang menulis bagus dan mendapatkan apresiasi. Karena pemberitaan diberbagai media terkait dengan langkah jihadku belakangan ini malah lebih banyak yang kontra produktif terhadap perjuangan itu daripada positifnya sendiri.

“Tapi,… maaf, dengan siapa ini saya bicara Pak?,” tanyaku ulang.“Masya Allah, tidak ingat suara saya? Ini lho saya yang suka duduk disamping kamu kalau di BKSAP-DPR RI (Badan Kerjasana Antar Parlemen), dan yang paling sering memarahi kamu kalau langkah dan ucapanmu di DPR RI kemarin kurang pada tempatnya. Kalau kamu kerja bagus saya selalu katakan bagus, namun kalau tidak bagus saya juga selalu mengatakan apa adanya ke kamu. Masih belum ingat?” sambung suara tersebut kembali.Saya malah menjawab dengan lirih: ”Maafkan saya Pak…saya tidak ingat, karena selama saya bekerja di DPR RI sebagai wakil rakyat saya sering kali dimarahi orang,” jawabku jujur apa adanya. Terdengar tawa renyah diseberang lautan sana sebagai respon atas jawabanku.

Ah, saya masih terus menerka-nerka siapa gerangan sang Bapak ini. Namun beliau langsung menyebut namanya dan saya merasa sangat surprise! “Saya Oom Fanny… Fanny Habibie, ayahnya Ade. Saya telpon dari Amsterdam, Belanda” jelas sang pemilik suara. Dan Bapak Fanny Habibie adalah Duta Besar Indonesia untuk negeri Belanda pada periode Presiden SBY ini.“Allahu Akbar! Saya sangat senang masih diingat oleh Oom Fanny,” jawabku. Sejak di DPR RI dulu, saya memang selalu memanggilnya Oom bukan Bapak. Karena anak beliau yang lulusan Fakultas Film dari Chicago School of Film adalah teman diskusi saya didalam pembuatan film beberapa saat sepulang saya dari Amerika Serikat. Istri beliau baru saja meniggal dunia dan dimakamkan dekat dengan mertua Shahnaz adikku – Bapak Ramadhan KH – di Pemakaman Tanah Kusir, Jaksel. Ibu Miriam binti Supardi yang dikasihi Allah yang telah lebih dahulu kembali kepangkuan-Nya, yang malam ini sengaja kukirimkan doa khusus untuknya.

***

Sejujurnya sebelum telpon tadi berdering, saya baru saja mengadukan kepada-Nya perihal ‘nasib’ ujian terbuka Doktorku dari IPB Bogor yang terus menerus molor karena masalah biaya. Dari 11 (sebelas) langkah menuju seorang PhD. Alhamdulillah saya telah melalui 10 (sepuluh) langkah. Satu langkah yang selama tiga bulan terakhir tidak maju-maju karena berbagai kendala ini dan itu.

Jarang ada yang percaya bahwa orang seperti saya lebih sering berkendala dengan dana terkait dengan pendidikan, karena tanggung jawab menuju akhirat kami terkait dengan pendidikan anak-anak asuh kami juga memakan biaya tidak kecil.

Singkat kata, pada akhirnya Oom Fanny menyatakan sangat senang dengan tulisanku terakhir di blogdetik.com ini yang berjudul “Tak Ada Dendam dan Tak Perlu Membalas.” Saya sangat surprise bahwa beliau begitu perhatiannya kepada tulisan sederhana ungkapan hati dicatatan harian terbuka ini. Namun saya juga sadar bahwa keluarga besar Habibie adalah keluarga intelektual yang dari dulu sudah sangat melek dunia ICT (Information Communication and technology) disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum menyentuhnya.

Saya bercerita bahwa telpon Oom Fanny sebagai jawaban langsung dari Allah SWT ketika saya meminta jawaban ‘bantuan’ atas nasib ujian terbuka Doktorku yang sudah 4 (empat) bulan ini terkatung-katung. Sudah Doktor sih secara ‘ijab-kabul’, namun belum resmi karena belum ada muawiyah-nya (ramai-ramainya).

Saya bertanya terus kepada Oom Fanny, apa yang membuat beliau ter’ketuk hati’ untuk menelpon saya setelah saya tahu bahwa ketika beliau menelpon kenomor lama HP-ku tidak nyambung-nyambung. Lalu beliau secara berputar mencari nomor kontak saya melalui adik ibunya Gilang Ramadhan Bi’ Herna yang sesama Deplu dan pernah tinggal dan kerja di Belanda. Bi’ Herna kemudian bertanya ke Shahnaz. Setelah dapat, lalu kembali lagi menelpon balik Oom Fanny. Dan baru setelahnya tersambung kesaya. Oom Fanny mengatakan, kalau Allah sudah ingin menggerakkan hati seseorang walau jarah setengah perjalanan bumi dan terpisah ribuan mil samudra luas, kebaikan itu pasti akan bersegera datang.

Ya, Allahu Akbar! Saya teringat cerita The Al Chemist oleh Pablo Coelho, diceritakan bila kita meminta dengan hati bening kepada-Nya, maka seluruh isi dunia akan membantu sang peminta untuk mendapatkan apa yang didoakannya.

Oom Fanny spontan menyatakan ada dana halalnya yang harus dikeluarkan, dan itu akan diberikan langsung kerekening saya di BRI Senin besok ini. Dan masya Allah… jumlahnya persis seperti yang saya butuhkan yang saya pintakan kepada-Nya sampai dengan diwisuda bulan February 2009 nanti. Beliau hanya meminta jaminan kelulusan saya menjadi Doktor resmi sebelum tahun baru 2009.

Allahu Akbar! Jazakumullah khoir… Oom Fanny Habibie Kekasih Allah. Beliau yang juga sedang berduka karena kehilangan istri tercintanya, masih sempat memikirkan orang lain yang bukan siapa-siapanya ini dan mendoakan kesuksesan studi saya. Saya lalu meminta nama lengkap almarhumah istri beliau. Nama Ibu Miriam binti Supardi kemudian kukirimi doa paling dalam untuk ketenangan, kesejukan dialam kuburnya, dan menunggu saat tepat suatu masa nanti bersama-sama suaminya menuju Sang Kekasih Abadi dalam kondisi segalanya hanya yang terbaik dimata-Nya.

Didalam QS Ali Imran ayat 31 Allah SWT berfirman, dikatakan: “ Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikuti Aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyang.”

Allahu Akbar Oom Fanny… njenengan datang dikirim Allah untuk menjawab doa panjang saya kepada-Nya… Salam kasih saya buat Mas Ade dan istri manisnya yang pernah main di filmnya Mbak Nia Dinata, dan cium sayangku buat sang cucu mungil dirumah KBRI di Wassenar, Amsterdam sana. Sudah masuk musim dingin kelihatannya ya? Jaga kesehatan Oom, jangan lupa ’mencuri’ waktu untuk tetap cukup beristirahat. Indonesia membutuhkan anda, juga keluarga besar Habibie yang lain para Kekasih Allah. Mas Adrie Subono sedang sering bersama Ikang dirumahnya, dari pengajian bareng Aa’ Gym dan lainnya sampai bicara soal konsert musik bareng.Kami bangga dengan keluarga besar Habibie. Sesuai dengan makna nama tersebut didalam Bahasa Arab yang artinya Kekasih. Ya, Kekasih Allah… insya Allah demikian ya Oom Fanny.

Jazakumullah khoir sekali lagi atas kebaikan hatinya. Sukses selalu ditempat kerja di KBRI Kerajaan Belanda ya Oom? Dan insya Allah membawa nama bangsa kita kearah kerjasama bilateral yang lebih harum lagi.

We trust you…

God bless you!

Read more!

Wednesday, 31 December 2008

Doa Cepat Sembuh untuk Rano Karno.

Rano Karno adalah Guru acting-ku yang Pertama. Pertama berpasangan difilm pertama saya berjudul “Kembang Semusim” dimana Mieke Widjaja dinobatkan pertama kali menjadi aktris terbaik FFI 1981 di Surabaya.

Dedikasi Rano Karno di Kabupaten Tangerang, Banten, 2008, membuatnya terserang sakit demam berdarah pasca penyeprotan anti nyamuk demam berdarah.

Rano adalah salah seorang artis / figur publik yang berhasil mulus menjadi seorang birokrat.

Kasihan Rano, semoga Dewi dapat terus merawat dan memberikan sentuhan kasih sehingga Rano segera dapat kerja seperti semula sebagai Wakil Bupati di Kabupaten Tangerang, Banten.

Totalitasnya didalam bekerja hampir selalu membuahkan kekaguman dari penggemarnya. Sampai diusia matang sekarangpun hampir pada setiap langkahnya Rano berhasil menerobos dinding penghalang.Kebanggan kami, doa ikhlas kami sekeluarga — Ikang, Icha, Bella, dan Kiki — untuk Uwak Rano Karno. Semoga cepat sembuh ya Ran? Bismillah…

Read more!

Tuesday, 30 December 2008

Saya Tidak Membenci Ratu Atut Chosiyah

SAYA memaafkan apapun kejahatan/delik pidana yang telah dilakukan Ratu Atut Chosiyah kepada saya Marissa Haque Fawzi.

Namun kebohongan publik yang ‘diduga’ telah dilakukan terkait dengan pidana pendidikan / jaringan mafioso pendidikan, lalu kemudian mendapatkan posisi birokrasi oleh karena buah upaya delik pidana berjamaah (konspirasi) tersebut, maka urusan equality before the law (bahwa dihadapan hukum adalah sama) — Hans Kelsen — tanggung jawabnya bukan lagi sekedar pribadi antara Atut dengan saya semata.

Namun pertanggung jawaban moral serta spiritual harus Atut berikan kepada agamanya, kepada seluruh anak bangsa Indonesia dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Termasuk siapapun dia ‘oknum’ yang ‘diduga’ melindungi / mempetieskan laporan delik pidana pendidikan ini diwilayah ruang kerja POLRI — Polda Metro Jaya dan Bareskrim Mabes Polri.

Juga Universitas Borobudur dan Yayasan Borobudur yang mengeluarkan ijazah Sarjana Ekonomi yang hanya diselesaikan Ratu Atut Chosiyah hanya didalam jangka waktu 17 (tujuh belas) bulan saja — masuk Januari 2003 dan skripsi asli yang ditemukan oleh Kompol Asep Adisaputra, SH, MH dari Kanit 4 Kamneg 4 Polda Metro Jaya, terketik bulan Mei 2004.

Kekhawatiran saya sebagai pribadi yang menjunjung tinggi institusi pendidikan, terdapat oknum diwilayah Dikti, Diknas yang terlibat. Karena jenis kejahatan seperti ini tidak pernah tunggal dan berdiri sendiri, namun dilakukan secara beramai-ramai / kejahatan berjamaah / konspirasi. Besar harapan saya yang terakhir ini tidak terjadi. karena betapa hancurnya masa depan kita bangsa Indonesia, karena kejahatan / delik pidana yang justru dilakukan oleh soko guru yang digugu dan ditiru.

Walaupun langit akan runtuh, namun hukum harus wajib tetap ditegakkan.

Allahu Akbar! Merdeka!

Salam kasih,

Marissa Haque Fawzi.

Read more!

Tak Ada Dendam dan Tak Perlu Membalas

Memaafkan Berbagai Kedzoliman

‘Oknum’ Pro DPP-PDIP & Ratu Atut Chosiyah kepada Saya Sekeluarga Baik Melalui TV, Koran, maupun Internet.

Tak ada Dendam dan Tak Perlu Membalas

Saya faham, ditengah masyarakat ‘bergetah’ Indonesia, tidak mudah menerima perlakukan tidak seimbang, curang, manipulasi, serta konspirasi dominan dari oknum kelompok elit disekitar kita. Indonesia memang sebuah negeri demokrasi, namun kalau boleh jujur level/kelasnya baru sampai pada demokrasi prosedural — sangat jauh dari harapan demokrasi konstitusional dalam koridor ruh sebuah negara berdaulat penuh seperti yang diharapkan oleh para founding fathers kita disaat kemerdekaan Indonesia dideklarasikan. Diperlukan dukungan doa dan moral support yang berkelanjutan (terus menerus secara kontinyu dan stabil) diantara para penjujur keadilan negeri ini. Demi menuju Indonesia yang lebih bermartabat, semoga dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi. Semoga,… amin.

Banalisasi - sebuah kejadian jahat yang berulang dan berkelanjutan sehingga dipercaya sebagai tidak jahat lagi - yang dilakukan oleh oknum atau beberapa oknum yang merupakan perpanjangan tangan oknumstatus quo Orde Baru belakangan ini, semakin hari semakin terasa menjadi-jadi. Padahal rakyat telah terpaksa mengakui bahwa didalam masa sepuluh tahun terakhir telah terjadi sebuah perubahan besar. Namun kiranya, reformasi Indonesia dianggap dianggap oleh sebagian besar rakyat Indonesia tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Seberapa jauh perubahan positif telah dirasakan oleh rakyat seperti apa yang mereka propagandakan dalam iklan layar kaca dan internet? Sampai hari ini rasanya tidak pernah benar-benar ada yang melaporkan telah melakukan riset intensif terkait dengan masalah tersebut. Apakah dengan menjadi bagianblogger network kita dapat menyumbang pemikiran progresif dan mengubah situasi status quo ketinggalan zaman warisan masa lalu, menjadi lebih promising bagi masyarakat lebih luas secara merata dan berkeadilan? Sejujurnya saya merasakan benar adanya, bahwa e-diplomacy atau jejaring diplomasi cyber/dunia maya adalah diplomasi masa depan ummat manusia dimuka bumi ini. Kurang lebihnya seperti our wolrd’s ‘second life’-lah. Besar harapan saya bahwa dunia keluarga besar blogger Indonesia kedepannya dapat menjadi sebuah industri mumpuni berbasis inovasi dan kreativitas seperti yang selama ini secara pesat terjadi di Korea Selatan. Dan membawa KESEJUKAN bagi Indonesia dengan menjadi media alternatiftabbayun (klarifikasi) dalam koridor komunikasi diplomatik.

***


Marsha Chita Fawzi, Seniman ‘Mungil’ku yang Mature.Sekitar dua mingguan yang lalu, Kiki bungsuku ini menelpon Ikang suamiku sambil menangis. Our angel ini sangat jarang menangis. Kalaupun juga hal ini dilakukan, pasti ada hal mendesak yang membuat rasa keadilannya terganggu namun belum mampu melakukan pembelaan atas gangguan tersebut. Sejak kecil karakter Kiki adalah jenis anak mandiri yang sebagian besar kebutuhan hidupnya ia selesaikan sendiri sampai tuntas. Seingat saya, Kiki menangis bila sedang sakit (menjelang operasi usu buntu saat TK dulu) atau atau menjelang haid diawal kejadian pertama kali mendapatkan haid. Rupanya dikampus MMU(Malaysian Multimedia University) dimana jaringan internet sangat baik dengan kilobytes per secon-nya yang tinggi, teman-teman Kiki menemukan berita bullying yang ‘diduga’ dilakukan oleh jaringan pendukung para vandalists Ratu Atut Chosiyah dan beberapa oknum dari DPP PDIP baik yang berada di DPR RI maupun yang tugas di kantor pusat Lenteng Agung. Berita yang diproduksi ‘diduga’ dengan niat pembunuhan karakter seperti misalnya melalui ruang respon dibeberapa mediacyber nasional semisal dan lainnya. Secara khusus dapat dilihat sejumlah dialog liar dan ‘liar’ yang bertebaran dalam ruang chating/diskusi dua arah dalam maupun blogs pribadi yang abal-abal! Astaghfirullahaladziiim… Ampuni mereka semua ya Allah…kelihatannya mereka tidak tahu apa yang mereka sedang lakukan.

Rupanya Chikita my baby tidak terima Ibunya tercinta dijelek-jelekkan oleh mereka yang ‘diduga’ dilakukan secara by design dan serius oleh jejaring mereka tersebut diatas. Tulisan sederhana saya kali ini, hanya sekedar memberikan sedikit gambaran kepada saudara dan saudariku pengunjung dan yang pernah mengetahui sepak terjangku didalam membela dan keberpihakan terhadap rakyat Indonesia semisal di: termasuk juga di

Curhat terbuka saya kepada seluruh saudara dan saudari baruku melalui blognet media dimanapun anda berada, semoga menjadi gambaran selintas bahwa kami para figur publik yang telah dan sedang serius membela rakyat dan negara jauh dari pujian dan tepuk tangan meriah. Sangat berbeda ketika kami sedang berada diatas panggung atau layar kaca/perak. Bahwa perjalanan panjang menuju menjadi Kekasih Allah sangat sering turut melibatkan stabilitas emosional orang-orang terdekat kita dirumah/anggota keluarga/mereka yang paling kita cintai dan dekat dihati.

Menurut Marsha Chikita ku tercinta yang sangat mengetahui perjalanan panjang jihad ibunya untuk masyarakat Banten melalui Pilkada 2006 yang lalu, berita mengenai saya Marissa Haque pada`media-media yang muncul tersebut sebagian besar tidak ada yang benar-benar lengkap yang secara holistik menceritakan kebenaran apa adanya. Berita yang muncul menurut Kiki terpenggal-penggal, entah sengaja atau tidak sengaja. Sehingga informasi yang sampai lepada pembacanya dimanapun berada terkesan ‘compang-camping’ dan cenderung kontra produktif bagi langkah perjuangan jihad Banten saya — Ibunya Chikita ini.

Allahu Akbar, nak! Terimakasih banyak cintaku, atas keberpihakanmu kepada perjuangan panjang Ibumu untuk ranah Banten. Provinsi Banten adalah tanah leluhur nenek moyang Ayah Ikang dari pihak Mbah Yuya yang berasal dari Lebak, Banten. Ternyata kamu sudah semakin matang didalam menganalisa dan memajukan kritik nak. Ibu sangat bangga kepada perkembanganmu ini. Alhamdulillah Ya Rob…

I am okey nak, I am fine,” demikian jawabku melalui sarana komunikasi chatting di Yahoo Messanger beberapa hari yang lalu. Yahoo Messanger intrument ini benar-benar dapat memangkas biaya pulsa telpon Ikang dan saya disaat ingin mengecek keberadaan serta kondisi anak-anak kami dimanapun mereka berada. ”Duh! Alhamdulillah Chikita sayang putri kebanggan Ibu Icha dan Ayah Ikang. Banyak baca doa tolak bala ya nak? Kami berdua ditambah kak Bella setiap hari mendoakan keberhasilanmu didunia akademik dinegara tetangga Malaysia sana. Cepat pulang diakhir tahun nanti ya sayang? Tak sabar rasanya Ibu, Ayah, dan Kak Bella untuk segera memeluk dan menciummu nak.Bismillah sayang…

Keberuntungan Memiliki Suami Bijak dan Tenang Seperti Ikang.

Beruntung saya memiliki suami seperti Ikang yang tenang dan bijak. Apapun yang terjadi ia selalu mampu menjadi penyeimbang serta penyejuk raga bagi kami sekeluarga. Ditambah lagi Ikang mampu selalu bersenandung dan sering menyanyi bersama gitarelectricnya diruang musik keluarga dirumah kami di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan. Dan motto kami sekeluarga adalah OUR FAMILY ALWAYS STICKS TOGETHER.

Sehingga bila saudara-saudariku pengunjung bog saya ini selalu melihat saya mampu tampil tegar didalam memperjuangkan prinsip MEMBINGKAI POLITIK DENGAN HUKUM dan MENJUJURKAN KEADILAN, alhamdulillah selain karena doa kepada Allah SWT yang tak pernah henti, juga karena saya memiliki seorang suami yang luar biasa memberikan dukungan total kepada seluruh aktivitas istrinya, juga kedua anak-anak yang sholehah serta baik prestasi akademiknya.

Ahamdulillah Ya Allah… inilah yang dinyatakan didalam QS. AR-Rahman yang didalamnya disebut berkali-kali: “Fabi ayyi ala i Robbi kumma tukadzdzibaannn…” Nikmat mana lagi yang akan kau dustakan hai manusia… Terimakasih banyak Ya Allah… terimakasih… terimakasih… terimakasih… Tidak ada lagi yang kupinta, kecuali selamatkan generasi penerus Indonesia ini Ya Allah. Anak-anakku Bella dan Kiki, serta seluruh anak-anak Indonesia lainnya diseluruh tanah air. Merekalah semuathe agent of change yang sejati dari bangsa ini. “Yes, CHANGE we believe in,” kata Presiden AS Obama.Orang-orang mulia berhati kesatria adalah mereka yang bersedia berjuang tanpa kenal pamrih dan lelah. Hidup perjuangannya selalu tajam dalam fokus yang terarah. Aspirasi hajat hidup orang banyak dari kelompokthe silent majority adalah nafas perjuangannya. Manusia pejuang dihargai atas apa yang telah dilakukannya, tidak memperdulikan berhasil atau belum berhasil. Karena itu hanyalah masalah berikutnya dan pernyataan resmi didalam kepala.

The best way to escape from a problem is to solve it! Jadi jangan pernah lari dari perjuangan, sekali kita menyatakan maju dalam sebuah perjuangan yang kita yakini kebenarannya serta bersandar hanya kepada-Nya.

Orang-orang mulia pilihan Allah teruji dan insya Allah yang mampu lulus dalam pertahanan hidup serta kehidupan yang bersandar hanya kepada Allah SWT semata. Kenapa tidak agar Indonesia tahun 2009 kedepan juga mampu menghasilkan ‘kemewahan’ perubahan yang sama seperti apa yang telah terjadi disebuah negara adidaya berjarakhalf way round the world Amerika Serikat baru-baru ini. Perubahan Indonesia, perubahan pemimpin Indonesia, untuk masa depan Indonesia yang lebih bermartabat. Insya Allah…

Bismillahi tawakal Allallaaahh… la haula wala quwwata illabillaaaah… Allahu Akbar! Merdeka!

Read more!