|
|
|
|
|
|

Saturday, 27 September 2008

Suamiku Ikang Fawzi Alhamdulillah Ayah Teladan


Terimakasih Ya Allah atas diberikannya ni’mat berkeluarga bagiku dengan memiliki Ikang Fawzi, Isabella Fawzi dan Marsha Chikita Fawzi yang melengkapi hidup dan kehidupanku sebagai seorang perempuan, ibu, dan khalifah-Mu Ya Rob…
Doa syukurku, Marissa Grace Haque.




www.gusmus.net

Ikang Fawzi sang Bapak Siaga
26 September 2008 22:19:38

Meski sudah berumur kepala empat, Ikang Fawzi yang dikenal sebagai rocker kawakan di era 1980-an masih tetap enerjik. Ditemui reporter gusmus.net seusai syuting sebuah acara musik di salah satu teve swasta, Ikang, panggilan akrabnya, tetap antusias menjawab pertanyaan seputar dinamika politik tanah air.

“Politisi kita umumnya tidak mau bekerja keras, sehingga terlihat lucu di mata publik”. Namun Ikang memakluminya sebagai sebuah proses demokratisasi dimana para politisi baru belajar berpolitik.

Terus, apakah sang istri Marissa Haque sebagai salah satu politisi DPR juga termasuk politisi yang lucu? “Yang saya tahu istri saya bekerja keras dan dia sangat serius dengan pekerjaannya sebagai anggota dewan”, demikian jawab Ikang. Sebagai seorang suami dari istri yang mendapat amanah sebagai wakil rakyat, Ikang selalu mendukung tugas istrinya. Sebaliknya, Marissa sebagai istri juga mendukung karier suaminya, termasuk keinginan Ikang untuk come back ke panggung belantika musik Indonesia.

Walaupun sama-sama sibuk dengan profesinya masing-masing, Ikang dan Marissa tetap memperhatikan dua putrinya. Bahkan Ikang mengajak putri pertamanya, Isabella yang baru lulus dari Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris untuk berduet dengannya dalam sebuah lagu dalam album yang baru dirilisnya. Baginya, keluarga adalah nomor satu sehingga sesibuk apapun, Ikang tetap memperhatikan keluarganya. Wah, salah satu contoh bapak siaga nih yang sekaligus juga Bapak Teladan Indonesia.

Read more!

Tuesday, 26 August 2008

Selebriti Menjawab Tantangan Zaman

Dalam kisah saya ini walau mungkin sedikit sudah agak ‘basi’,

saya ingin berbagi dengan saudara-saudariku setanah air sebuah tulisanku yang dimuat oleh

sahabatku Achmad Subechi yang kini menjadi Pemred di grup Kompas-Gramedia di Balikpapan, Kaltim, pada

rubrik Kolom Marissa tertanggal: Selasa, 26 Agustus 2008 | 14:38 WIB

Selebriti Menjawab Tantangan Zaman

BERBAGAI media masa Indonesia belakangan ini dipenuhsesaki oleh hiruk-pikuk sejumlah besar pesohor Indonesia memasuki pencalegan menuju kursi Wakil Rakyat 2009 di DPR RI maupun DPRD tingkat satu atau dua. Sikap pro maupun kontra mewarnai aktivitas ini, dari yang setuju sampai dengan yang sama sekali benar-benar tidak setuju. Atas kejadian tersebut, kelihatannya sebagai anak bangsa dari sebuah negeri yang dikatakan sebagai negara demokrasi prosedural, hendaknya kita semua tanpa terkecuali berendah hati dengan kepala dingin saling introspeksi diri dengan melakukan muhasabah, murakobah, serta ber-tabbayun satu dengan lainnya.

***

Tulisan sederhana yang merupakan wakil dari sebagian ekspresi masyarakat umum ini, semoga dapat menjadi pencerahan bagi kita semua tanpa terkecuali. Karena menari tango selalunya terdiri dari dua orang. Cover both side stories, demikianlah kira-kira. Sebuah wawancara secara random (acak) yang saya umpankan, memberikan beragam ekspresi jujur tanpa beban yang mengemuka secara spontan. Diharapkan hasil yang muncul ini dapatlah mewakili kepedihan hati sebagian dari kami para selebriti film dan televisi yang telah secara serius mempersiapkan diri dengan menyempurnakan kapasitas diri melalui pendidikan formal dan informal, mengasah diri dalam berbagai organisasi sosial-politik, serta uji identitas diri lainnya.Keinginan untuk di-wongke secara adil dan setara dengan para politisi senior lainnya menjadi keprihatinan sebagian besar dari kami. Karena sejujurnya sebagian oknum politisi senior telah terbukti terlibat didalam beberapa kasus besar korupsi ditanah air.

Bahkan gambar meraka bermunculan silih berganti diberagam media Indonesia. Sementara para aktor-aktris yang telah terlebih dulu masuk di Senayan, alhamdulillah bersih dari aktivitas korupsi yang memalukan bangsa. Kalaupun ada yang sempat satu-dua muncul dimedia, itu karena para suami mereka yang melakukan korupsi. Bukanlah sang artis yang bersangkutan yang melakukannya.

Karenanya tak heran saat pertanyaan balik diekspresikan para responden kepada saya. Antara lain sebagai berikut: ”Apa yang salah dengan para artis menjadi politisi?”, “Wong selama ini juga banyak politisi mendadak jadi artis.” Atau mengartiskan diri. “Lihatlah bagaimana teknik para politisi senior tersebut mulai Menjadi penyanyi dadakanlah, pembaca puisi dadakanlah, photo model dadakanlah, pembaca berita dadakanlah, penyiar radio dadakanlah, dan lain sebagainya.” “Katanya Indonesia negara demokrasi, kok diskriminatif sekali ya?” “Memangnya para pengamat politik itu sudah berbuat karya nyata apa sih buat Indonesia selain menjadi pengamat semata?” Bahkan: “Lha, wong Presiden-ne juga mendadak rekaman lagu, jadi yo podo ngartise.” Demikianlah kurang-lebih kalimat-kalimat yang muncul dalam wawancara sederhana yang saya umpankan kepada mereka.Sejujurnya, sebenarnya sudah sangat lama saya merasa terganggu disaat media tv, radio, internet bahkan cetak menyebutkan sepotong kata ‘artis’ yang merujuk kepada kami para aktor-aktris film serta sintron. Padahal menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan ejaan yang baik dan benar yang telah disempurnakan oleh Prof. Yus Badudu dan Prof. Anton Moeliono – para Guru Besar Bahasa Indonesia – kata artis merupakan sepengal kata serapan dari bahasa Inggris atas artist (pekerja seni). Kata ini merujuk kepada para pekerja seni dari seluruh bidang kesenian. Antara lain; pelukis, penari, pemahat, penyair, pemain teater, penyayi, dan pemain film serta pemain sinetron. Maka kesalahkapahaman kita selama ini, yang didalam Ilmu Keberbahasaan / Linguistics disebut hiper-corrections.

Besar harapan saya, dengan segala kerendahan hati melalui tulisan sederhana ini semoga menjadi pencerahan bagi kita semua adanya. Khususnya dikala rasa keadilan anda terganggu atas berbondong-bondongnya kehadiran para selebriti-politisi dadakan didalam upaya pencalegkan diri menuju kursi Wakil Rakyat 2009. Mari kita periksa apa-siapa para aktor-aktris DPR RI pada periode 2004-9. Tercatat ada lima pesohor yang berhasil masuk di Senayan. Kenapa pesohor saya pakai? Karena ada yang bukan aktor-aktris yang sebenarnya, namun karena kisah percintaannya dengan sang aktor, maka ia didaulat media infotainment sebagai ’artis.’ Lima pesohor yang masuk terdiri dari tiga pria dan dua perempuan: Adjie Massaid, Dede Yusuf, Qomar, Angelina Sondakh, dan saya Marissa Haque.Sejujurnya juga, hanya empat dari kami berlima yang sesungguhnya aktor-aktris. Angelina Sondakh adalah Putri Indonesia. Tiga artis kondang Nurul Arifin, Puput Novel (keduanya dari Partai Golkar) dan Rieke Pitaloka (Wasekjen PKB versi Gus Dur) belum beruntung memasuki Senayan. Ketiganya terpental bukan karena sekedar nomor urut yang tidak strategis, namun juga karena kesalahan membaca wilayah basis masa pendukung partainya (konstituen) di wilayah Dapil (daerah Pemilihan) masing-masing. Karena Rieke Pitaloka dari PKB berada dalam nomor urut 1 di Dapilnya yang lalu. Seorang Qomar yang pelawak (dari Partai Demokrat) lebih sering dianggap sedang melawak pada saat ia ingin serius menunjukkan dedikasinya. Sebagai contoh disaat ia dengan keihklasan luar biasa memberikan tiga bulan penuh gajinya kepada seorang guru SMP didaerah Melawai, Kebayoran Baru saat sang guru didzolimi penguasa lokal. Kejadian tersebut membubuhkan kesan positif terdalam dihati saya.

Dan saya yakini juga masyarakat penonton infotainment diseluruh Indonesia. Begitu juga dengan Dede Yusuf dan Adjie Massaid, berbagai aktivitas sosial mereka lakukan baik secara diam-diam maupun dengan publikasi media. Angelina Sondakh sendiri dengan seluruh energi luar biasanya melakukan belasan langkah signifikan dalam pelestarian lingkungan hidup Indonesia. Saya pribadi, telah melakukan kerja plus-plus atas kerja pengawasan dengan memakai media audio-visual tanpa gaji tambahan dari negara.Semoga pembaca masih yang ingat bagaimana ditahun pertama saya sebagai anggota Komisi VIII yang membawahi bidang Perempuan, Agama, dan Sosial, termasuk salah seorang anggota dewan yang terpilih untuk dikirim ke Saudi Arabia guna mengungkap Kejahatan Mafia Perhajian

Pengawasan Haji 2005 yang saya lakukan bersama tim pemantau Haji 2005, berdampak atas digiringnya mantan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Said Agil kepenjara atas tuduhan penyalahgunaan Dana Abadi Ummat. Tahun kedua saya dipindah Fraksi PDI Perjuangan ke Komisi 4 yang membawahi bidang Kehutanan, Perikanan, Pertanian & Bulog sesuai kopetensi saya yang mahasiswi Program Doktor Jurusan PSL-IPB (Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor).

Kita semua tahu bahwa disaat tersebut mantan Menteri Perikanan dan Ketua Bulog tergiring pula kepenjara. Bahkan ketika saya bersikukuh tidak bersedia mendukung seorang kader partai lain yang didukung PDIP dengan alasan dugaan ijazah aspal (asli tapi palsu) dan terdapatnya laporan BPK selama 2 semester berturut-turut (2005-2006) diduga korupsi, untuk menjadi Cagub Banten dalam Pilkada Banten 2006. Bahkan sayapun tidak bersedia mengundurkan diri ketika diancam pecat sebagai anggota dewan. Alasan saya kepada oknum elit PDIP saat itu karena tidak ada dalam filosofi hidup saya mengundurkan diri dari tanggung jawab yang disumpah dibawah Al Quran. Kalau mau silahkan pecat jawab saya saat itu.

Karena kedepannya dengan saya dipecat partai akan menjadi jelas bagi saya untuk menjelaskannya kembali kepada konstituen saya dari Dapil Jabar 2 (Kabupaten Bandung, Jabar). Dan bukanlah semata karena ingin menjadi Wakil Gubernur Banten niatan saya kemarin ikut dalam Pilkada 2006 itu. Melainkan, semata berjihad di Propinsi Banten untuk menjujurkan keadilan serta membingkai politik disana dengan hukum. Oleh karenanya saya tidak berkecil hati saat kehilangan kursi empuk DPR RI pada Januari 2007.

Sedihkah saya disaat kehilangan jabatan dan kursi empuk DPR RI? Sejujurnya ya, saat itu saya memang sedikit terluka. Terluka karena saya sangat mencintai Ibu Politik pertama saya Megawati Soekarnoputri dan PDIP sebagai partai. Namun kesadaran cepat datang. Menyadari bahwa dengan segala kelebihan sekaligus kelemahannya, Ketua Umum PDIP hanyalah manusia biasa seperti kita semua. Keikhlasan memaafkan Megawati, membuat luka dihati saya cepat sembuhnya. Namun bukan berarti saya berhenti untuk terus berjuang di Banten untuk menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum.

Bahkan alhamdulilllah, hari ini saya dapat tersenyum lepas ketika menyadari bahwa Allah SWT adalah Maha ’Bercanda.’ Allah SWT telah menyelamatkan saya dari bencana dipermalukan pada Komisi 4 DPR RI. Karena kita semua faham bahwa hari ini mantan Ketua Komisi 4 dan 2 orang mantan anggota Komisi 4 berada didalam penjara KPK.Termasuk juga beberapa oknum anggota Komisi 4 dari berbagai macam latar belakang partai yang masih aktif, mereka masah terus bermasalah dengan KPK. Tentulah, sisa dari anggota komisi 4 yang tadinya berjumlah 50 orang tentu hari-harinya belakangan ini sedang tidak nyaman berada dikursi empuk DPR RI. Karena boleh dikatakan bahwa seluruh langkah kegiatan politik mereka sedang dalam pengawasan KPK. Bahkan termasuk seluruh pembicaraan melalui telpon genggam mereka. Beruntung saya sebagai selebriti sudah tidak berada disana. Dapat dibayangkan bagaimana media infotainment akan membuat sang selebriti menjadi bulan-bulanan mereka?

Selepas dari DPR RI dan selama kurang-lebih setahun tidak berpartai, saya masih tetap dengan perjuangan menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum. Gugatan Penyelundupan Hukum Pilkada Banten terus saya kerjakan di 2 peradilan – umum dan TUN (Tata Usaha Negara).

Sekali lagi tentunya dengan segala kerendahan hati, saya sang ’artis’ yang bukan siapa-siapa serta belum berhasil menjadi seorang negarawati ini, paling tidak mau dan mampu berjanji kepada rakyat pemilih / konstituen baik di Dapil saya maupun diseluruh Indonesia untuk tetap hanif dan istiqomah didalam perjuangan menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum. Insya Allah selama hayat dikandung badan.

Semoga semangat ini dapat menular kepada teman-teman selebriti yunior lain kedepannya. Bismillah, dimulai dengan langkah kanan, positive thinking!

Salam kasih…

Read more!

Sunday, 27 July 2008

Bunda Khofifah Sahabat Jawatimuran-ku

TULISAN ini saya buat pada tanggal 27 Juli 2008, saat pencanangan pertama Pilkada Jatim 2008 sebagai moral support saya untuk Bunda Khofifah Indar Parawansa.

SEJAK tiga hari lalu sepulang dari umroh, membuat hati dan diri ini —masih didominasi ‘selimuti alam pikir’ gelombang alpha– menjadi semakin sering bersenandung “Ya nabi salam ‘alaika” serta berbagai dzikir muhasabah. Entah kenapa tiba-tiba pikiran ini seakan-akan menjadi melayang-kayang memikirkan sosok perempuan Indonesia yang selama ini saya kagumi. Dia adalah Khofifah Indar Parawansa, salah satu kandidat Gubernur Jatim.
Saya mengenal sosok Khofifah ketika kali pertama ia terpilih menjadi salah seorang menteri pada Kabinet Presiden Gus Dur. Ia memegang amanah sebagai Menteri Negara Urusan Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP). Sebagai salah satu menteri, Khofifah bukanlah wanita berpendidikan paling tinggi di lingkungannya. Ada nama lain yang sekarang juga sedang menjabat. Ia adalah Prof Dr Meutia Hatta. Kalau boleh berkata jujur, dari dua tokoh wanita itu, Khofifah, menurut alam pikiran saya merupakan wanita paling vokal. Sepanjang karir politiknya, ia juga sangat menonjol saat menjadi anggota DPR RI dari FPKB.

Saya mengenal Khofifah lebih dalam setelah menyaksikan bagaimana wanita itu memberikan spirit atau dorongan yang amat luar biasa kepada suaminya, Indar Parawansa (kakak kelasku di IPB Bogor). Lebih-lebih ketika suaminya menghadapi situasi cukup genting, untuk meraih gelar tertinggi akademik dari PSL-IPB (Pusat Studi Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor).Perkawanan saya dengan wanita itu semakin dekat pada saat Neno Warisman, selama tiga bulan menjadi juri Pildacil di La TV, beberapa bulan yang lalu. Bersama Khofifah, kami berdua seringkali menyelipkan berbagai pesan lingkungan hidup berbasis argumen ilmu Al Quran. Sejak di semi final hingga final, para peserta kami coba untuk memasuki wilayah pemahaman terhadap ilmu sistem lingkungan hidup yang holistic serta integrated dengan bahasa sederhana, mudah dimengerti orang awam.TIGA bulan lalu saat Khofifah dan pasangannya mendeklarasikan diri sebagai calon Gubernur Jatim — bertempat Stadion Gelora 10 November Surabaya– saya, Mbak Emilia Contessa (wong Banyuwangi), Neno Warisman dan beberapa artis lokal dari Jawa Timur, serta sebagian keluarga besar PPP dan warga Nahdiyin Jawa Timur (NU), berbaur menjadi satu dengan seluruh pendukung dari unsur partai pendukung lainnya. Kami semua sepakat mencalonkan pasangan Ka-Ji.

Dan hari ini, tanggal 23 Juli 2008, akan menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam kehidupan Bunda Khofifah (panggilan sayang seluruh kru, juri dan peserta acara Pildacil). Saat yang dinant- nantikan selama tiga bulan nan cukup melelahkan, akhirnya terlampau juga. Hari ini masyarakat Jawa Timur mengadakan pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih pemimpin terbaiknya

Saya mendoakan semoga semuanya berjalan lancar tanpa ada tangan-tangan dzolim seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Banten. Terkait dengan Pilkada Jatim, saya menyiapkan hipotesa. Menang atau kalah, Khofifah dan pasangannya, akan menghadapi setumpuk persoalan menyangkut kegelisahan hukum berkepanjangan.

Sebagai seorang warga negara, kurang lebih dua tahun saya telah merasakan kegelisahan yang tidak penting ini. Tidak penting! Peranan hukum tergerogoti oleh ulah segelintir manusia yang mencoba memainkan hukum hanya untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Dugaan atau asumsi itu akhirnya menjadi kenyataan ketika satu persatu aparat hukum yang seharusnya menjadi suri tauladan bagi rakyat, aibnya terbongkar. Kita semua tahu bagaimana bobroknya mental atau aparat hukum, terkait dengan berbagai kasus besar yang melanda negeri ini. Misalnya saja skandal melibatkan Jaksa Urip, belum lama ini.

Hukum benar-benar diadili. Hukum benar-benar menjadi sorotan publik. Hukum benar-benar mandul tak bisa bicara apa-apa ketika kepentingan-kepentingan finansial telah merasuk, menyusup, lalu menyelinap ke dalam pasal-pasal… Sungguh ironi dan amat menyesakkan dada. Nafas seakan-akan nyaris terhenti. Nalar manusia pun akhirnya tak bisa berjalan dengan sempurna akibat keboborokan- kebobrokan yang telah dipertontonkan aparat hukum. Semua manusia menjadi muak, skeptis bahkan cenderung apatis. Apatis lahir dari tidak adanya secuil harapan, terutama dalam mencari kebenaran hakiki. Kebenaran-kebenaran yang dirindukan itu, ternyata masih tersimpan di dasar jiwa. Kebenaran- kebenaran itu, tak juga bisa terangkat keluar dan menempati posisi atau derajat tertingginya karena hilangnya atau memudarnya cahaya suci dari lubuk hati manusia akibat terkontaminasi perilaku-perilaku buruk yang dinamakan penyakit hati.

Karena itu, saya maupun warga negara Indonesia lainnya yang melek hukum masih berusaha meyakinkan kepada diri sendiri bahwa negeri ini sebenar-benarnya adalah negara hukum seperti dijamin oleh UUD 45 pada pasal 1 ayat 3. Itu artinya ada optimistis bahwa suatu saat kelak, aparat hukum akan lebih banyak bicara dengan hati nuraninya dalam menegakkan pasal-pasal hukum demi menemukan hakikat dari sebuah kebenaran. Hati nurani itu akan lebih banyak berbicara manakala kesadaran diri sebagai makhluk paling sempurna sudah mendekati kepada pintu gerbang pencapaian makna –untuk apa manusia diturunkan ke muka bumi? Ketika kesadaran mulai lahir bahkan terbangunkan kembali, maka masing-masing manusia ikut melakukan pengawasan terhadap keabsahan jaminan hukum, agar kebenaran itu tidak tertidurkan kembali.

Kadang, saya ketawa geli, manakala melihat para aparat hukum dengan sengaja mempermainkan hukum. Lalu muncul pertanyaan, “Salahkah saya… kalau ketimpangan-ketimpangan itu saya jawab dengan senyuman? Atau salahkah saya, kalau kebenaran itu terus saya buru hingga sampai ke kaki langit? Atau… jangan-jangan semua ini terjadi akibat akal manusia sengaja ditidurkan?”

Segudang pertanyaan itu, masih hinggap di benak saya. Saya lalu bertanya kembali kepada hati dan jiwa. “Sudah separah itukah negeriku? Lalu mau kalian bawa kemana negeri ini ketika penguasa tak lagi bisa dipercaya?”

***

KEMARIN sore dalam perjalanan pulang dari Balikpapan menuju Jakarta, saya berpapasan dengan Cawagub Kaltim pasangan AFI (Awang Farouk – Farid Wajdi) yang salah satunya diusung oleh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Di ruang Executive Lounge Garuda Indonesia, saya menjalin sebuah diskusi cerdas dan hangat bersama Pak Farid.

Beliau dengan latar belakang seorang ustad dan pernah menjadi PNS Depag Kaltim, sangat menyayangkan beberapa komentar yang keluar dari sebuah ungkapan arogan berbau sangat provokatif. Misalnya, KPUD Kaltim tidak ada urusannya dengan MA (Mahkamah Agung). KPUD dapat menolak fatwa MA dan lain sebagainya.

Saya hanya mendengarkan dan mendengarkan. Apabila benar apa yang diceritakan itu, saya sungguh sangat menyayangkannya. Mengapa? Tak sepatutnya kita terjebak kepada wilayah emosi. Ujung dari perjalanan emosi biasanya akan kontraproduktif. Selain bisa membuat denyut jantung tak beraturan dan akhirnya bisa melahirkan penyakit, emosi yang lahir dari buah ketidaksabaran akan membahayakan semua pihak.

Artinya, manusia dapat dipastikan akan gelap mata. Nah, ketika mata menjadi gelap, maka jalannya pasti tertatih-tatih dan terantuk-antuk. Kalau sudah begitu, sakitlah tubuh fisik ini. Ketika fisik sakit, maka pikiran juga akan terkena imbasnya. Jika pikiran manusia sudah ‘tersakiti’ oleh perilaku-perilaku yang diciptakannya, maka semuanya akan menyeret badan.

Sembari menunggu pesawat, saya meluangkan waktu sedikit untuk melakukan kontemplasi, mengevaluasi konteks peristiwa yang sudah terjadi, termasuk ribut-ribut atau gontok-gontokan pasca Pilkada yang nyaris melanda seantero negeri ini.

Saya lalu teringat buku berjudul Il Principe, karya Nicolo Machiavelli. Dalam buku yang aslinya ditulis dalam bahasa Italia tersebut digambarkan dan dijelaskan bahwa hukum ’tak tertulis’ di dunia ini adalah bahwa pada 10 tahun masa pasca sekompok proletar berhasil menang atas kaum borjuis merebut kursi kekuasaan di pemerintahan, maka para kaum borjuis yang selama masa tersebut berpura-pura mereformasi diri demi bertahan terhadap gelombang perubahan sosial-politik, maka dengan kekuatan besarnya ia akan datang kembali dengan ’wajah serta baju baru.’ Kelompok reformis asal proletar tidak akan merasakan ancaman laten tersebut.

Hari ini bila kita mengacu kepada seluruh kekacauan yang pernah terjadi di negeri ini, sebenarnya cerminan (indikator) akan datangnya ’monster politik’ masa lalu yang saat ini sudah ada di depan kita dengan kekuatan lebih prima, amunisi lebih mumpuni, sumberdaya manusia lebih siap, serta memiliki network strategy tak tertandingi. Mereka hanya dapat dikalahkan apabila ada intervensi ’tangan’ Allah semata.

Lihatlah kasus Lapindo yang tak kunjung selesai yang akan menjadi pekerjaan rumah Khofifah bila ia menang nanti. Dengarkan jerit-tangis sebagian besar keluarga besar rakyat Jawa Timura yang telah kehilangan segalanya serta tercerabut dari akar budayanya. Doa panjangku untuk Bunda Khofifah dan pasangannya dalam Ka-Ji (www.kaji-manteb.com), semoga semakin mantab di dalam berjihad dijalan-Nya. Dan ’manteb’ pula nantinya di dalam mewakili jerit-derita wong Porong, Sidoarjo.Namun, bila nanti kalah karena faktor kedzoliman dari aspek keadilan yang tidak jujur. Maka janganlah bersedih dan berkecil hati. ”La tahzan,” saranku sebagai kawan baikmu, Bunda Khofifah, teruslah berjuang jangan pernah mengatakan kalah terhadap kebathilan seperti perjuanganku sampai dengan hari ini untuk ranah Propinsi Banten melalui berbagai upaya peradilan, walau kadang menyakitkan. Doa ikhlasku untukmu sobat! All the best semua hanya karena Allah… hanya karena Allah… hanya karena Allah….

Read more!

Thursday, 29 May 2008

Di Balik Semua Cita-cita saya

Sulit bagi saya untuk tidak memberikan andil di dunia maya ini. Dunia yang sekarang menjadi bagian besar dari kehidupan manusia. Bagian dari promosi, informasi bahkan provokasi positif maupun negatif yang dengan mudahnya bisa diakses oleh siapapun. Lalu mengapa saya sangat bersemangat 'mewarnai' dunia yang satu ini walaupun, sepertinya, hanya selembut debu? Sejujurnya saya katakan bahwa semangat ini muncul begitu saja. Muncul dari keinginan saya untuk membuka diri berbagi informasi, berbagi pemikiran, meluruskan yang bengkok, menambahkan untuk yang sudah lurus, yang paling tidak menurut nurani saya, sangat mewakili cita-cita saya dan keluarga untuk menyumbangkan kebaikan dan kebenaran melalui berbagai aktivitas yang selama ini saya 'nyalakan' terus dengan 'batubara' semangat saya beserta keluarga.
Semangat itu begitu 'panasnya' menyala di tubuh kami, sehingga banyak tampak dan terwujud di keluarga kami yang sangat 'getol' menuntut ilmu agar selalu 'in' dan fokus dalam menyumbangkan hal-hal yang saya sebutkan di atas untuk kemaslahatan ummat. Semampu kami tentunya, semampu dan sebanyak apa yang Allah limpahkan untuk kami, sebesar itulah yang akan kami dedikasikan untuk semuanya, dan untuk Anda tentunya.
Read more!

Monday, 12 July 2004

Manusia Sebenarnya Sedang Tidur

Jakarta, 12 Juli, 2004
Oleh Marissa Haque Fawzi

Untuk Majalah Noor edisi September 2004.

Dalam sebuah perenungan panjang, tatkala kutatap lalu lalang manusia yang menyemut dalam sebuah perjalanan panjang Bintaro ke Jakarta Pusat, terbayang wajah-wajah banyak manusia melangkah dengan mata terpejam. Ah, mereka sedang tidur!

Annemarie Schimmel, seorang wanita keras hati namun halus budi yang dititipi Allah kecerdasan diatas rata-rata dengan kemampuan verbal yang sangat lancar, adalah salah seorang role model ku didunia Sufisme/Tasawuf. Dalam salah satu buku tulisannya yang berjudul Jiwaku adalah Wanita, didalam paragraf pembukanya diceritakan sebuah kisah tentang seorang guru India yang sedang berkunjung ke Damaskus, Syria. Buku yang diceritakan tersebut adalah sebuah buku tua terbitan 1872 dengan judul Padmanaba dan Hasan. Disana sang guru India tersebut memperkenalkan awal langkah misteri kehidupan spiritual kepada seorang anak laki_laki yang bernama Hasan yang membawanya kesebuah ruang bawah tanah. Ada sebuah keranda yang berdampingan dengan bekas singgasana Raja teronggok, dikelilingi sekumpulan harta benda ratna mutu manikam yang tak ternilai. Pada keranda tersebut terpatri kata-kata “…sebenarnya manusia itu semua sedang tidur, ketika mereka meninggal dunia, pada saat itulah mereka sebenarnya terbangun.” Schimmel kemudian baru menyadari belakangan bahwa ternyata sepenggal kata-kata yang terpatri tersebut adalah hadis Rasulullah Muhammad yang amat disukai dikalangan para Sufi dan penyair dunia Islam.

Didalam konteks posisiku sebagai anggota DPR terpilih periode 2004-2009 melalui partai Politik PDI Perjuangan, aku merasakan sepotong tulisan yang saya kutip diatas dari buku Annemarie Schimmel, adalah sebuah metafora pula dari penggalan lain langkah kehidupanku dalam kaitan dengan dunia politik. Betapa kehidupan singkat manusia ini hanyalah sepenggal mimpi pendek bunga tidur yang akan menetukan sebuah kehidupan abadi lainnya setelah alam dunia ini. Betapa sesungguhnya mimpi pendek ini sangat silau dengan tipu daya yang menjerumuskan. Alangkah kita nantinya akan menyesali ayunan langkah kehidupan yang telah kita lakukan, saat kita menyadari bahwa dikala mati kelak tidak satupun harta dunia akan terbawa.

Menjadi seorang anggota DPR, merupakan amanah sekaligus ujian dan jebakan yang nyata, yang akan menguji apakah dipenghujung langkah hidupku kelak aku layak menjadi kekasih Allah dan sahabat Rasulullah. Dimana kebutuhan transendental merupakan intrinsik atau innate property yang membuat setiap manusia itu cinta Illahi—apapun agama yang dipeluknya—dan ingin bersatu dengan Nya dikehidupan abadi kelak. Saat itu adalah saat dimana manusia sudah benar-benar bangun dari tidurnya. Namun sekarang masalahnya. Apakah manusia mengetahui bahwa sebenarnya mereka itu sedang tidur pada saat mereka sedang melakukan aktifitas kesehariannya? Wallahualam bisawab. Semoga Allah SWT membimbing pada jalan keselamatan didunia dan di akhirat, dan mengumpulkan kita semua kelak didalam tempat yang sejuk serta penuh dengan cahaya cinta kasih abadi.

Read more!