|
|
|
|
|
|

Wednesday, 8 April 2009

Surat Marissa Haque buat Linda Djalil Teman Wartawannya

A special letter for my darest sister Linda Djalil:

Terimakasih banyak mbak Linda Djalil saudariku yangtelah kukenal sejak masa kecilku dulu atas pembelaanmu dari ribuan serangan pembusukan karakter dari – yang diduga keras – dilakukan dan dipantau oleh tim media center Ratu Atut Chosiyah, SE yang selama ini berupaya keras melakukan tindakan pembusukan karakter terhadap saya dan keluarga besarku baik dimedia TV, cetak, dan sekarang melalui internet.

Namun saya haqqul yakin mbakyuku sayang, bahwa Allah SWTtidak pernah tidur. It is a matter of time, bahwa kebenaran yang sedang terus bermarathon selama dua tahun ini saya perjuangkan untuk sebagian besar masyarakat Provinsi Banten yang memakan nasi aking kebenarannya dimata Allah untuk Indonesia yang telah lama terdzolimi segera akan terwujud.

Wallahi, demi Allah bukan untuk kepentingan saya saya pribadi karena saya sudah tidak bersedia menjadi Wagub/Cawagub-nya Dr. Zulkieflimansyah, SE, MSc. Namun jihad Banten yang sedang terus berproses ini adalah persembahan dari seorang anak mantu ‘budak Banten’ yang sangat mencintai almarhumah ibu mertuanya yang berasal dari Kabupaten Lebak beserta seluruh keluarga besar Banten/baraya di Lebak, Banten — bagi rakyat Banten secara keseluruhan dan umum.

Masyarakat di Provinsi Banten dan Indonesia seluruhnya saya pikir sangat faham bahwa sampai hari ini selama dua tahun berturut-turut saya berjuang sendirian tanpa partisipasi aktif sama sekali dari Dr. Zulkieflimasyah, SE, MSc calon Gubernur Banten mantan runningmate-ku disaat Pilkada Banten 2006 lalu yang dipenuhi oleh kejahatan sistemik dan by design oleh ‘oknum Orba Status Quo’ yang kita semua sudah tahu siapa-siapa saja mereka itu semuanya.

Tak puas mendapatkan posisi semu Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, SE dan keluarganya memang sedang sangat berusaha agar saya ‘habis dan mati‘ didalam langkah berpolitik. Hal ini secara sistemik telah mereka lakukan sampai dengan saya dipecat oleh PDIP saat lalu. Mbak Linda juga pasti tahu bahwa saya tidak pernah meninggalkan PDIP ya mbak? Saya mencintai para kader binaan saya diakar rumput – baik di Kabupaten Bandung maupun 6 wilayah administrasi Provinsi Banten. Sampai hari ini sebagian hati saya masih bersama mereka.

Insya Allah, alhamdulillah… semangat saya didalam menjujurkan keadilan insya Allah tidak akan pernah luntur sampai kapanpun, walaupun secara sistemik ‘oknum tim media Ratu Atut Chosiyah’ berusaha menggiring saya dan kita semua untuk mem’basi’kan seluruh jihad Banten ini. Kita saling mendoakan ya mbakyuku yang disayang Allah…

Salam kasih,

Marissa Grace Haque Fawzi di Majesty Apartement, Kota Bandung (Dapilku di Jabar 1: Kota Bandung dan Kota Cimahi).



***


Foward: The copy of Linda Djalil’s Letter/a beautiful support comment for Marissa Haque on http://agushermawan.kompasiana.com:

Saya setuju dengan Taufik. Kasih kesempatan Atut bicara. Saya juga penasaran seperti apa tulisannya, yang menjadi cerminan perjuangannya. Mau itu Marissa, Atut, Megawati, asal memang setia kepada nurani yang bersih, pemikiran yang jernih, monggo-monggo saja menjadi pemimpin.

Saya senang semakin banyak wanita berkiprah di berbagai bidang khususnya politik semacam ini, semakin bagus kan? Hanya saja, ya itu. Bergantung lah pada nurani. Dan rauplah wawasan selebar-lebarnya. Jadilan pemimpin atau pimpinan yang matang, bijak dan tidak emosional.
Jangan pula gampang terjebak oleh pertanyaan wartawan, di media cetak maupun media layar kaca. Body language akan terekam secara rinci lho. Cara menjawab, isi jawaban, semua menjadi sasaran empuk bagi ‘tim penilai’ yang sedang menonton di rumah masing-masing sembari ngemil kacang goreng.

Jangan sampai pula, para perempuan yang telah memimpin ( apapun), apabila menjawab pertanyaan masyarakat atau wartawan, memberikan kesan kepada dunia luas, “Lho? Yang ngomong ini calon pemimpin kita atawa ibu rumpi rumah tangga biasa yang nyinyir?”

Sekejap tentang Marissa. Ini tak ada kaitannya dengan politik lho. Mungkin nyaris 25 tahun silam, anak tertua dari tiga bersaudara ini memang jelita sejak kecil. Saya pernah datang pagi-pagi untuk bertemu Soraya yang baru menjadi foto model, Marissa muncul dari kamar tidurnya dengan rambut agak awut-awutan. Tapi wajahnya itu rek… menurut saya cuantik buanget. Kan kata orang, wanita baru bangun tidur di pagi hari adalah kecantikan alami yang asli. Nah mungkin dia seperti itu.

Saat itu ia sudah populer. Hampir segala iklan dibintanginya, sampai-sampai wajahnya yang cantik juga ada di atas knalpot bis umum. Saya juga ingat, tiap suara azan terdengar, ibunya selalu mengingatkan dia. “Ayo, waktunya sembahyang!”. Sementara Shahnaz masih SD, pulang sekolah dengan seragam bau keringat, tomboy, legam, waahh kini menjelma menjadi wanita jelita dan elok laku. Balik ke Marissa. Ia menjadi wanita matang ketika saya menjenguk dia usai melahirkan anak pertamanya. Selanjutnya, saya hanya tahu dari media, dan baru-baru saja setelah zaman SMS, saya beberapa kali berkomunikasi dengannya.
Ternyata Marissa doyan belajar. Sekolah dan sekolah melulu. Dan berpolitik, dan ikut partai, dan hari-hari pertamanya di gedung DPR membuat orang jengah. Dan akhirnya ribut dengan partai, dan pindah, dan ada cerita Atut.

Saya hanya terkesima. Betapa beraninya Marissa. Entah yang ia perjuangkan benar adanya, atau dari ‘pihak sebelah’ yang benar, saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu. Sebab saya sudah kehilangan enerji. Melihat orang ribut, melihat televisi yang sebelumnya tenang-tenang karena ada ‘mamah dedeh’ tau-tau berita demo, cakar-cakaran, timpuk batu, belum lagi infotaiment yang berkisah pasangan-pasangan muda bercerai berai dengan begitu mudahnya, waduh..duh..betul-betul puyeng rasanya.

Kapan kita bisa damai. Dan berdamai. Paling sulit memang mengakui kesalahan. Tapi lebih sulit lagi memaafkan kesalahan orang. Saya pun masih belajar untuk hal yang satu ini. Marissa, teruskan apa yang kamu anggap benar. Begitu pula Atut. Buktikan kepada rakyat, bahwa Anda memang bekerja-berjuang, berkeringat, memang murni untuk rakyat. Dan Tuhan lah yang menyaksikannya dengan leluasa dan amat perkasa….

agushermawan: Halo, mbak Linda. Saya suka kutipannya: “Lho? Yang ngomong ini calon pemimpin kita atawa ibu rumpi rumah tangga biasa yang nyinyir?” He..he.. saya langsung terbayang orang dimaksud

***


Ps: Mbak Linda Djalil my sister … jaga kesehatan njenengan ya mbak? Doaku untukmu selalu. Kapan ya kita ngariung bersama Soraya dan Shahnaz dirumah cantikmu itu?

Love, Marissa Haque.

Read more!

Tuesday, 7 April 2009

Dharma Pongrekun: Polisi Kekasih Allah

Dharma Pongrekun is our Banten’s hero… Indonesia kedepannya sangat membutuhkan polisi-polisi lurus lahir dan bathin seperti dia!

Tidak ada kata lain yang sanggup saya ungkapkan atas dilakukannya Gelar Perkara Pertama terhadap SP3 Kasus Delik Pidana Dugaan Ijazah Palsu Ratu Atut Chosiyah, SE dari Universitas Borobudur, Jakarta Timur yang dipimpinnya pada tanggal 22 Desember 2008 yang lalu, kecuali dari hati sanubari yang terdalam: “Terimakasih yang tak terhingga Pak Komanadan Wadireskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dharma Pongrekun yang peka hati… may God bless you!

Dan tentunya, hutang budi luar biasa dari saya dan sebagian besar masyarakat Provinsi Banten yang mendambakan kejujuran penegakan hukum ditanah air, yang tidak akan mampu terbayar lunas sampai kapanpun juga kepada seorang Polisi baik hati tersebut diatas yang ‘menjamin’kan karir Kepolisiannya hanya untuk ‘sekedar’ menolong seorang penjujur keadilan seperti saya dan masyarakat umum dari Provinsi Banten atas seluruh kecurangan pelaksanaan Pilkada Banten 2006 yang lalu dengan fokus pada dugaan penggunaan ijazah aspal (asli tapi palsu) Ratu Atut Chosiyah, SE pada saat menjadi kandidat Calon Gubernur Provinsi Banten 2006.Presiden SBY atau Wapres JK yang melindungi Kejahatan Delik Pidana Dugaan Ijazah Palsu Ratu Atut Chosiyah, SE selama ini?Bila memang ternyata kejahatan delik pidana kebohongan publik yang telah dilakukan oleh Ratu Atut Chosiyah, SE selama ini dianggap bukan masalah serius oleh elit pemerintah yang berkuasa saat ini, termasuk oleh institusi pendidikan di Indonesia, alangkah mengerikannya masa depan NKRI yang hari ini diduga sedang menuju jurang kehancuran/the failure state.Seorang polisi yang lurus seperti AKBP Dharma Pongrekun tentu tidak akan memiliki masa depan yang lebih baik, yang performance-nya secara professional seharusnya dibobot oleh isntitusi Polri sebagai Alat Negara Penegak Hukum berdasarkan merit based system. Dan bilamana yang bersangkutan terus berada didalam sistem rusak Polri yang sedang sakit parah ini menuju NKRI yang sedang koma dimana kian hari secara perlahan namun pasti menuju ambang kematiannya — maka bila akal sehat menghampiri kita semua masyarakat Indonesia tanpa terkecuali — kita wajib meneriakkan revolusi ditubuh Polri!

Bukan sekedar reformasi birokrasi yang perhari ini semata hanya terdengar gaung ‘semu’nya belaka yang diduga muncul kepermukaan demi kampanye politik Pilpres jangka pendek tanpa tujuan signifikan murni yang ditujukan bagi keberpihakan pada rakyat dan kebenaran hakiki.

Innalillahi wa innailaihi rojiuuunn…

Read more!

Sunday, 5 April 2009

Bunda Marissa Haque Insya Allah Selamanya di PPP

Bunda Marissa Haque Insya Allah Selamanya di PPP, kenapa tidak ya mbak? Bismillah…
Doaku: RA. Menik Haryani Kodrat, di Solo. Jakarta -Akrtis tenar di tahun 80-an Marissa Haque kembali akan diuji kemampuan politiknya. Istri Ikang Fauzi ini kembali akan bertarung pada pemilu 2009. Dia menjadi caleg PPP No. 2 di Daerah Pemilihan Jabar I (Kota Bandung-Kota Cimahi), dapil komunitas intelektual.Perempuan yang mengaku STW alias setengan tua ini, tidak gentar dengan penempatan dirinya di zona kaum terpelajar itu.
Maklum saja Mbak Icha, demikian Marissa Haque sering dipanggil, sekarang sudah menyandang predikat Doktor dari Institut Pertanian Bogor sejak bulan Februari lalu. “Saya ditempatkan di komunitas perkotaan dan intelektual, yang diharapkan PPP mampu mengimbangi dinamika konstituen yang intelektual,” ujar Mbak Icha kepada Opiniindonesia.com di dalam sebuah acara di DPD beberapa hari lalu.

Popularitas Marrisa Haque tidak diragukan, terbukti pada pemilu 2004, dia terpilih menjadi anggota DPR waktu itu menggunakan kendaraan politik PDIP. Ia pun kemudian menjadi anggota Komisi VI DPR RI, hingga akhirnya keluar dari Senayan dan mencalonkan diri pada Pilgub Banten, namun ia dikalahkan secara curang oleh Ratu Atut Chosiyah putri pertama dari istri tertua jawara Banten terkenal Chasan Sochib.

Marissa Haque kini di PPP, partai Islam berlambang Ka’bah. Partai ini telah mengusung dirinya menjadi salah satu caleg yang berasal dari kalangan artis. Ia menolak kalau disebut sebagai kutu loncat, dan menduga semua itu hasil rekayasa oknum PDIP partai lama Marissa salah seorang asprinya Sekjen PDIP Pramono Anung Wibisono.

Mbak Icha yang adalah salah seorang cicit KH Cholil asal Madura, juga membantah dirinya sebagai kader PKS yang masuk ke PPP. Sebab menurutnya, pemahaman keislaman kader-kader PKS dengan dirinya berbeda.“Secara pemahaman keislaman saya berbeda dengan PKS, PKS itu wahabi sementara saya ini NU meskipun NU jadi-jadian,” kata aktris senior ini. Marrisa Haque menurut polling yang diadakan LSI masuk dalam urutan ke-3 sebagi caleg populer. Tentu saja itu akan menjadi modal pemain film “Serpihak Mutiara Retak” ini untuk meraih sukses kedua melaju ke gedung DPR Senayan nanti.

PS: Bismillah… Maju terus mbak Marissa Haque Kekasih Allah!

Read more!

Monday, 23 March 2009

Marissa Haque Sangat Melek Teknologi Informasi

Source : marissahaque.kompasiana.com
Kontribusi dari Administrator
Thursday, 14 April 2005;

Diperbaharui Saturday, 14 April 2007; Terakhir diperbaharui Monday, March 22 2009.
Siapa tidak kenal dengan artis Marissa Haque yang juga berprofesi sebagai politisi ini?

Barangkali tidak ada yang menyangka jika Marissa Haque ini sangat melek internet bahkan menyediakan website khusus tentang dirinya yang bisa menjadi arena berinteraksi antara dirinya dan juga penggemar.

Artis yang juga istri dari rocker Ikang Fawzi ini rupanya tidak hanya memanfaatkan internet untuk urusan menang keren. Dia sendiri mengaku sudah mengamati pentingnya internet sejak melanjutkan kuliah di School of Film di Ohio University, Athens, Ohio di Amerika Serikat. Saat berkuliah di Ohio, Marissa Haque seringkali membuat paper atau tugas kuliah yang mengamati tentang perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di Indonesia. Salah satu papernya menyoroti tentang penggunaan situs-situs internet oleh para politisi dalam rangka pemilihan presiden. Marissa berusaha untuk mengetahui secara mendalam bagaimana para politisi ini memanfaatkan internet untuk bisa menggaet massa.

“Apa yang sebenarnya menjadi tolok ukur para politisi ketika membuat situs internet,” kata Marissa Haque. Meskipun sekarang aktif sebagai anggota parlemen, Marissa Haque masih juga berperan sebagai seorang sutradara film, sinetron, dan iklan, sekaligus sebagai produsernya, termasuk film editor dan penulis skenario film dan sinetron.

Marissa mengakui, dia terjun ke politik karena sangat mungkin para publik figur ini akan menang dan melenggang secara leluasa lebih dulu dibanding para kandidat umum lainnya. “Meskipun yang lebih penting, adalah visi dan misi yang dibawanya sebagai pembawa aspirasi dari rakyat yang diwakilinya,” ujarnya.

Semoga Marissa bisa menularkan pengenalannya yang mendalam terhadap dunia internet kepada para anggota DPR RI lainnya yang konon sebagian besar masih sangat gagap teknologi.

Read more!

Monday, 9 March 2009

78% Persembahanku untuk PPP Tercinta

Ya Allah berilah diriku kesabaran lebih besar lagi didalam melangkah perjuangan menjadi Kalifatullah, Ya Allah berilah diriku fokus yang tak terayu didalam berjuang dijalan-Mu, dan Ya Allah berilah diriku kehanifan didalam mengayuhkan perahu kehidupan ini menuju NUN Muara-Mu wahai Kekasih Abadiku…

Alhamdulillah…tak disangka tak dinyana, keikhlasan merajut persaudaraan PPP dari berbagai aliran Keislaman melalui wilayah administratif Jabar 1, diijabah Allah dengan diberikannya kepercayaan tinggi dari rakyat Indonesia melalui Global TV pada awal Maret 2009 lalu. Kemenangan 78% untuk kekompakan PPP Baru. Ya Allah… terimakasih, terimakasih… terimakasih… Ya Allah. Allahu Akbar!

Keikhlasan merajut kembali persaudaraan PPP di Jabar 1 (Kota Bandung dan Kota Cimahi) adalah energi luar biasa besar bagiku didalam melangkah belakangan ini. Energi pengabdian kemasyarakatan diikat dalam koridor kekeluargaan dalam kaidah Islamiyah untuk semata beribadah hanya kepada Allah SWT Jalal Jalalu – the All Mighty.Saudara dan saudari Petilu di Jabar 1 yang saya kasihi… terimakasih banyak untuk semua kebersamaan kita selama ini dalam perjuangan membesarkan kembali PPP yang tengah tercabik berbagai ‘arogansi’ kelompok aliran Islam ini. Maafkan saya atas kekurang fahaman saya yang penuh terhadap ilmu Islam yang sangat luas tersebut. Namun saya yang telah mulai sangat mencintai Petilu merasakan teramat sangat kelewat sayang apabila potensi besar yang selama ini menjadi aset para pendirinya kemudian dibelakang hari harus hancur lebur berkeping karena kekepalabatuan kita semua didalam memegang prinsip Islam yang paling benar dan menafikan keberadaan yang lainnya. Sekali lagi dengan segala kerendahan hati mohon diterima permintaan maaf atas keterbatasan ilmu Islam saya selama ini.

Doa ikhlasku yang sangat panjang malam ini adalah agar kedepannya kita terus dapat selalu kompak selamanya. Bismillahi tawakaltu Allaaaahhh… la haula wala quwwata illa billaaaah…

Read more!

Thursday, 5 March 2009

Eep Syaifuloh Temanku Dulu Di Ohio

Siapa yang tak mengenal gambar pasangan tersebut disamping, yaitu sicantik Sandrina Malakiano yang selama ini menjadi salah seorang ikon utama Metro TV dan sicerdas Eep Saifuloh Fatah dosen FISIP jurusan Politik Universitas Indonesia, pengamat politik serta penulis politik Indonesia yang selalu mampu menyajikan hal-hal rumit terkait dinamika politik Indonesia dengan cara renyah terkadang sedikit ‘nakal’ namun bernas. Mereka sekarang telah dikaruniai seorang anak perempuan dengan nama unik Kaskaya yang saya yakini kelak akan secantik ibunya dan secerdas ayahnya.

Kenapa Eep yang menjadi inspirasi tulisanku kali ini? Setelah melalui diskusi panjang dengan para redaktur papan atas harian Kompas dari grup Gramedia dan penolakan atas tulisan bantahan saya terhadap tulisan Eep menyangkut para figur publik yang turun kekancah politik praktis Indonesia untuk dimasukkan kedalam Surat Pembaca Kompas, atas saran dari salah satunya sahabat baruku Kang Pepih Nugraha dari kompasiana.com, maka tulisan di blog pribadi ini menjadi salah satu jalan keluar dari seluruh keberatan personal serta profesi yang saya rasakan sebagai tindakan diskriminatif dan pelecehan intelektualitas yang ditulis Eep Syafuloh Fatah secara nyata dengan menyebut nama saya Marissa Haque didalam tulisannya dihalaman muka bersambung kehalaman 15 harian Kompas tertanggal 9 Desember 2008 lalu. Berikut dibawah ini copy dari surat pembaca yang saya layangkan ke harian Kompas atas kebratan saya terhadap tulisan Eep yang pernah saya kenal baik selama kuliah di Ohio, Amerika Serikat dimasa lalu:

Komentar yang ditolak pemuatannya
atas keberatan tulisan saudara Eep Saifuloh Fatah pada harian Kompas 9 Desember 2008

Surat Pembaca:

Analisis Politik Eep Saifuloh Fatah
Hanya Semata Delik Culpa?

Biasanya saya sangat menyukai gaya penulisan saudara Eep teman disaat kuliah di Ohio, Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu. Namun pada tulisannya di Harian Kompas tertanggal 9 Desember 2008, saya agak mengeryitkan alis mata karena gaya prejudis dan tendensius atas apa yang telah ditulisnya. Rasanya sangat bukan saudara Eep. Karena terkesan menghakimi dan apriori tanpa melengkapinya dengan keterangan tambahan lain yang memang diperlukan. Gaya penulisan saudara Eep sebelumnya jauh dari pembunuhan karakter seperti ini. Semisal penyebutan nama tanpa memberikan pembobotan sebagai referensi, dimana ciri ini bukanlah ciri dari seorang calon ilmuwan (scholar) Ph.D sekelas lulusan Ohio State University, AS, apalagi dari jurusan Ilmu Politik terutama bila rujukan kita adalah dosen saudara Eep di Ohio sana yang bernama Prof. William Liddle (Pak Bill Liddle) seorang Guru Besar OSU, dimana sampai sekarang alumnusnya telah bertebaran diseluruh pelosok tanah air Indonesia.

Saya Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor dari PSL-IPB yang sedang menunggu jadwal ujian terbuka (tertutup resmi sudah) didalam minggu-minggu ini, merasa sangat keberatan atas apa yang ditulis oleh saudara Eep Sebagai sesama calon Ph.D dimana tentu ada rambu-rambu/koridor/hal-hal tabu tertentu yang didalam pengklasifikasian seorang manusia juga sebaiknya dilengkapi dengan karya maupun atribut yang melekat dari padanya seperti layaknya oknum penulis analis politik lain di Indonesia. Sejujurnya didalam tulisan tersebut diatas, saudara Eep telah terjebak kedalam stereotipi clustering tersebut. Dengan mengatakan bahwa stigma ‘artis’ (istri kedua saudara Eep sekarangpun sebenarnya termasuk dalam kategori artis) tidak layak menjadi politisi dan duduk di DPR RI mewakili jeritan rakyat yang sebagian besar hak-haknya selama ini ’dikebiri’ dengan perlakuan yang tidak adil, setara, serta pelayanan tebang pilih hanya untuk golongan status quo semata. Bahwa sejatinya tidak semua artis tidak mempunyai latar belakang pendidikan tinggi, tidak mempunyai latar belakang berorganisasi yang panjang (baik sosial/kemasyarakatan/nir-laba, dll), tidak mempunyai pengalaman berpolitik praktis, tidak mempunyai kemampuan bekerja menjujurkan keadilan dengan daya tahan (endurance) yang tangguh/tinggi, tidak mempunyai pemahaman bagaimana caranya membingkai politik Indonesia yang diduga ‘liar’ ini dengan hukum, dlsb, didalam tulisan saudara Eep kelihatannya menganggap tidak perlu untuk turut diulas didalam tulisannya.
Saudara Eep Saifuloh Fatah sebagai seorang calon Doktor dari OSU tersebut juga culpa (lalai) bahwa Marissa Haque Fawzi temannya saat kuliah di Ohio, Amerika Serikat saat lalu belajar Ilmu Film, insya Allah sebentar lagi menjadi Doktor. Bahwa saya yang artis sejauh ini telah bekerja tanpa pamrih bagi rakyat dengan taruhan kehilangan kursi empuk di DPR RI karena tidak bersedia mendukung Cagub yang ’diduga’ memakai ijazah S1 palsu karena hanya diselesaikan dalam 8 bulan semata, dan perlalwanan terus menerus terhadap Mafia Peradilan disaat saya meminta keadilan atas seluruh kecurangan pelaksanaan Pilkada Banten 2006, kelihatannya luput atau dianggap tidak penting oleh saudara Eep. Termasuk ketika ditahun pertama bekerja sebagai wakil rakyat didalam koridor fungsi pengawasan jalannya pemerintahan, saya ’turut menggiring’ mantan Menteri Agama kepenjara karena terbukti menyalahgunakan dana abadi ummat untuk Haji (dapat dilihat pada: www.marissahaque-haji2005.com).

Sehingga, bilamana saudara Eep Saifulloh Fatah tidak pernah mencatat perjuangan saya selama ini, dan hasil LSI bulan Oktober yang lalu bahwa rakyat diseluruh Indonesia mencatat langkah perjuangan saya menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum, menjadi tanda tanya besar akan parameter apa yang telah dipakai saudara Eep sebagai bahan argumen dasar penulisannya di harian kompas yang lalu itu. Ketika rakyat Indonesia memilih saya sebagai yang paling diinginkan ke 3 tertinggi dari total 21 nama yang muncul untuk terpilih sebagai wakilnya untuk didudukkan kedalam DPR RI, maka bukan salah saya maupun seluruh rakyat Indonesia bilamana nama seorang Ferry Mursidan Baldan hari ini berada jauh dibawah kami semua para artis dengan menempati urutan ke 21 dibuntut barisan nama-nama yang keluar dari hasil survey tersebut.

Bila saudara Eep Saifuloh Fatah jarang melihat acara hiburan diberbagai televisi, maka sebaiknya saudara Eep bertanya kepada sang istri Sandrina Malakiano – sebagai langkah cross and checks – apakah seorang Marissa Haque belakangan ini masih sesering saudara Eko Patrio didalam pemunculannya sebagai artis dimedia layar kaca selama 2 tahun belakangan ini? Apabila intensitas pemunculan seorang Marissa Haque Fawzi sudah jarang dilayar kaca, maka artinya intensitas kerja menyapa rakyat langsung dilapangan adalah sangat tinggi. Dengan berbagai perjumpaan langsung eye to eye dan shoulder to shoulder serta face to face dimasyarakat luas, maka wajah kejujuran dan suara nurani muncul tanpa dapat dihindarkan. Dari hati sanubari terdalam saya haturkan terimakasih yang luar biasa tinggi kepada LSI yang sudah melakukan survey panjang dengan hasil memberikan semangat bagi kami para artis yang belum pernah ada satupun terkena skandal kasus korupsi untuk menjalani fungsi baru sebagai wakil rakyat dan memperjuangan the silent voices yang selama ini terabaikan.

Jangan pula didalam tulisan saudara Eep kami dibenturkan – antara saya Marissa Haque Fawzi dengan Ferry Mursidan Baldan – karena kami adalah sesama teman di DPR RI periode lalu. Kenapa score saudara Ferry anjlok tajam? Diduga karena selama ini kerja Mas Ferry yang bagus itu hanya berkutat hanya dan untuk partainya semata. Berkutat dari satu sidang ke sidang panja dan pansus penggoalan UU Pilpres semata – demikian yang diberitakan pada Kompas selama ini. Sementara dilain pihak rakyat yang sudah mulai kehilangan kepercayaan kepada partai mengidentifikasikan diri saudara Ferry Mursidan Baldan sebagai sangat lekat dengan partainya. Kristalisasi image melekat pada partai mungkin dimasa lalu menguntungkan dirinya, namun hari ini the silent voices menunjukkan arah aslinya yang bertolak belakang. Saat ini rakyat mendukung orang secara in persona, dan bukan lagi seperti masa lalu dimana rakyat dipaksa/terpaksa mendukung orang yang menempel pada sebuah partai besar.

Saya pikir saudara Eep yang saya akui kecerdasannya sebagai seorang pengamat politik sekaligus calon Ph.D dalam Ilmu Politik, hal-hal tersebut diatas secara nyata sangat disayangkan bilamana luput dari kejelian pengamatan yang tidak menghakimi. Saudara Eep Saifuloh Fatah adalah seseorang yang pernah saya kagumi isi kepala maupun cara dan gayanya didalam aktivitas penulisan esei politik. Apalagi Aci mantan istrinya terdahulu, saya dan suami saya kenal baik saat kuliah di Ohio, Amerika Serikat dulu. Dimana saudari Aci adalah keponakan W.S. Rendra dan seorang penyiar Radio di Utan Kayu (Grup Tempo), Jaktim sekaligus merangkap seorang dosen di Universitas Indonusa Unggul, Jakarta Barat.

Apapun yang telah dilakukan saudara Eep terhadap pendiskreditan para artis yang memasuki ranah politik sejauh ini telah saya maafkan dengan hati ikhlas. Sekaligus saya panjatkan sebuah doa tulus saya terhadap pernikahan kedua saudara Eep termasuk ucapan selamat berbahagia atas kelahiran putri barunya bernama Kaskaya Saifuloh Fatah dari keluarga saya di Bintaro, Tangerang Selatan. Semoga saudara Eep cepat menyelesaikan program Doktornya dari School of Political Science di OSU, Columbus, Amerika Serikat. Dan setelahnya kita dapat mengobrol serta berdiskusi panjang sebagaimana saat lalu ketika saudara Eep bersama saudari Aci istri terdahulu, saya dan Ikang Fawzi suamiku yang sedang menegok istrinya yang sedang kuliah di Ohio, serta pasangan suami-istri Ira dan Syarif sebagai tuan rumah yang memberikan tumpangan menginap saya dan suami di Kota Columbus, Amerika Serikat bercanda cerdas bersama, dalam koridor intelektualitas civitas academica. God bless you!

Salam takzim,
Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor.

Read more!

Wednesday, 4 March 2009

Sang ‘Mualaf’ PPP

Politik Aliran Islam Indonesia, Masihkah Penting?

Tertegun saya membaca sebuah sms yang dikirim oleh seorang kader dan pengurus DPP PPP bernama Budi Pulungan pada tanggal 21 Februari 2009 yang berisi kalimat bernada minor dan ‘menghardik’ saya dengan kata-kata tajam berujung kalimat “… anda kan hanya mu’alaf di PPP.” Sakit hatikah saya? Didalam berpuasa 40 hari ini, dimana lebih banyak kebaikan yang datang bersama puluhan malaikat yang tak terlihat dialam perjuangan saya dan tim saat melakukan sosialisasi Pemilihan Legislatif 2009 di Dapil Jabar 1 berisi Kota Bandung dan Kota Cimahi, saya tidak menggubris sms minor tersebut. Bahkan saya malah berterimakasih pada Mas Budi Pulungan saudara separtaiku tersebut, karena dengan sms dia itu pahala puasa sunnah saya yang baru mencapai hari kedelapan dari total 40 hari saya yakini menjadi bertambah adanya.
Dari mana datangnya kata ‘Mualaf PPP’ tersebut? Saya tidak faham. Yang jelas pertama kali saya membaca dua kata yang ditujukan kepada saya didalam blog pribadi Kyai Asep Moushul Affandi. Dan didalam perjumpaan langsung dengan beliau disaat kantor PPP mengundang Bapak Prabowo Subianto untuk melakukan sosialisasi programnya sembari berguyon saya mengatakan kepada beliau sebagai berikut: “… iya nih Pak Yai saya memang mualaf di PPP, tapi ‘mau ah lap’ jadinya ‘auk ah lap begituuu…’,” demikian bercanda saya kepada Pak Kyai Asep yang disambut tawa cerah beliau yang terlihat senang dengan gaya akrab bercanda saya saat itu. Sayapun diperkenalkan dengan putra beliau seusia Bella putri sulungku yang rupanya selama ini membantu ayahnya meng-update blog serta mengurus pesantrennya di Tasikmalaya/Garut, Jawa Barat.Sebenarnya apakah benar saya seorang mualaf? Rasa lucu dan geli menggelitik tak kuasa menerjang hati yang aniaya ini. Selama ini saya selalu berkaca kepada perjuangan Rasulullah Muhammad SAW ketika hendak melangkah berbuat kebaikan yang tidak pernah dikisahkan mudah dimasanya, sehingga alhamdulillah semangat perjuangan saya dalam konteks kekinian untuk selalu berbuat kebaikan tidak mudah patah karenanya.

Saya memang belum menjadi seorang ustadzah, namun menjadi seorang ustadzah adalah salah satu cita-cita saya didalam kehidupan manusia yang singkat ini. Bila para lulusan pesantren mampu melakukan dakwah bil lisan, maka dengan segala keterbatasan saya selama ini didalam ilmu Islam alhamdulillah sejauh ini saya telah memulainya dengan dakwah bil hal. Benar atau salah dari segala sesuatu yang telah saya lakukan saya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT Jalal Jalalu.

Didalam dakwah bil hal di Dapil saya di Jabar 1 dengan wilayah Kota Bandung dan Kota Cimahi, saya tidak berkehendak mengkotak-kotakkan keluarga Islam Jabar 1 melalui aliran Islam yang mereka percayai. Timses (tim sukses) saya sendiri berisi beragam anggota dengan pemahaman Islam yang mereka percaya. Yang terpenting bagi saya adalah minus aliran Ahmadiyah yang saya yakini sesat itu.Alhamdulillah juga bahwa saya diberi kesempatan untuk muncul di Global TV dengan program rekaman pada hari Rabu tanggal 24 Februari 2009 yang akan ditayangkan pada hari Jumat tanggal 26 Februari 2009 dialog politik bagi Caleg DPR RI dengan 4 orang kandidat asal PPP, Hanura, PKPB, dan PDIP. Perwakilan caleg dari ketiga partai lain tersebut adalah mbak Elza Syarif, Farhat Abbas, dan Budiman Sudjatmiko. Semuanya berlatar belakang Fakultas Hukum. Setiap kandidat diperbolehkan membawa 30 orang pendukung, dan karenanya saya mempunyai keleluasaan mengajak anggota dari seluruh aliran Islam para tandemku yang berada di Jabar 1 dengan quota saya bagi rata. Alhamdulillah, mereka semua antusiatik! Dan sangat ingin menjadi pendukungku diacara shooting Global TV besok Rabu ini.

Terimakasih Ya Allah… Engkau telah memberikan amanah bagiku untuk turut membahagiakan mereka semua, para tandemku berserta seluruh pengikut mereka. Semoga kepercayaan yang telah mereka berikan kepadaku sebagai duta bagi PPP menjadi lebih baik tanpa sekat politik aliran dapat bertahan selamanya. Demi PPP sebagai partai tertua di Indonesia untuk segera bangkit, dan berkemas diri menjemput kebangkitan dalam waktu dekat dimuka ini, insya Allah… Allahu Akbar!

Read more!