|
|
|
|
|
|

Monday, 9 March 2009

78% Persembahanku untuk PPP Tercinta

Ya Allah berilah diriku kesabaran lebih besar lagi didalam melangkah perjuangan menjadi Kalifatullah, Ya Allah berilah diriku fokus yang tak terayu didalam berjuang dijalan-Mu, dan Ya Allah berilah diriku kehanifan didalam mengayuhkan perahu kehidupan ini menuju NUN Muara-Mu wahai Kekasih Abadiku…

Alhamdulillah…tak disangka tak dinyana, keikhlasan merajut persaudaraan PPP dari berbagai aliran Keislaman melalui wilayah administratif Jabar 1, diijabah Allah dengan diberikannya kepercayaan tinggi dari rakyat Indonesia melalui Global TV pada awal Maret 2009 lalu. Kemenangan 78% untuk kekompakan PPP Baru. Ya Allah… terimakasih, terimakasih… terimakasih… Ya Allah. Allahu Akbar!

Keikhlasan merajut kembali persaudaraan PPP di Jabar 1 (Kota Bandung dan Kota Cimahi) adalah energi luar biasa besar bagiku didalam melangkah belakangan ini. Energi pengabdian kemasyarakatan diikat dalam koridor kekeluargaan dalam kaidah Islamiyah untuk semata beribadah hanya kepada Allah SWT Jalal Jalalu – the All Mighty.Saudara dan saudari Petilu di Jabar 1 yang saya kasihi… terimakasih banyak untuk semua kebersamaan kita selama ini dalam perjuangan membesarkan kembali PPP yang tengah tercabik berbagai ‘arogansi’ kelompok aliran Islam ini. Maafkan saya atas kekurang fahaman saya yang penuh terhadap ilmu Islam yang sangat luas tersebut. Namun saya yang telah mulai sangat mencintai Petilu merasakan teramat sangat kelewat sayang apabila potensi besar yang selama ini menjadi aset para pendirinya kemudian dibelakang hari harus hancur lebur berkeping karena kekepalabatuan kita semua didalam memegang prinsip Islam yang paling benar dan menafikan keberadaan yang lainnya. Sekali lagi dengan segala kerendahan hati mohon diterima permintaan maaf atas keterbatasan ilmu Islam saya selama ini.

Doa ikhlasku yang sangat panjang malam ini adalah agar kedepannya kita terus dapat selalu kompak selamanya. Bismillahi tawakaltu Allaaaahhh… la haula wala quwwata illa billaaaah…

Read more!

Thursday, 5 March 2009

Eep Syaifuloh Temanku Dulu Di Ohio

Siapa yang tak mengenal gambar pasangan tersebut disamping, yaitu sicantik Sandrina Malakiano yang selama ini menjadi salah seorang ikon utama Metro TV dan sicerdas Eep Saifuloh Fatah dosen FISIP jurusan Politik Universitas Indonesia, pengamat politik serta penulis politik Indonesia yang selalu mampu menyajikan hal-hal rumit terkait dinamika politik Indonesia dengan cara renyah terkadang sedikit ‘nakal’ namun bernas. Mereka sekarang telah dikaruniai seorang anak perempuan dengan nama unik Kaskaya yang saya yakini kelak akan secantik ibunya dan secerdas ayahnya.

Kenapa Eep yang menjadi inspirasi tulisanku kali ini? Setelah melalui diskusi panjang dengan para redaktur papan atas harian Kompas dari grup Gramedia dan penolakan atas tulisan bantahan saya terhadap tulisan Eep menyangkut para figur publik yang turun kekancah politik praktis Indonesia untuk dimasukkan kedalam Surat Pembaca Kompas, atas saran dari salah satunya sahabat baruku Kang Pepih Nugraha dari kompasiana.com, maka tulisan di blog pribadi ini menjadi salah satu jalan keluar dari seluruh keberatan personal serta profesi yang saya rasakan sebagai tindakan diskriminatif dan pelecehan intelektualitas yang ditulis Eep Syafuloh Fatah secara nyata dengan menyebut nama saya Marissa Haque didalam tulisannya dihalaman muka bersambung kehalaman 15 harian Kompas tertanggal 9 Desember 2008 lalu. Berikut dibawah ini copy dari surat pembaca yang saya layangkan ke harian Kompas atas kebratan saya terhadap tulisan Eep yang pernah saya kenal baik selama kuliah di Ohio, Amerika Serikat dimasa lalu:

Komentar yang ditolak pemuatannya
atas keberatan tulisan saudara Eep Saifuloh Fatah pada harian Kompas 9 Desember 2008

Surat Pembaca:

Analisis Politik Eep Saifuloh Fatah
Hanya Semata Delik Culpa?

Biasanya saya sangat menyukai gaya penulisan saudara Eep teman disaat kuliah di Ohio, Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu. Namun pada tulisannya di Harian Kompas tertanggal 9 Desember 2008, saya agak mengeryitkan alis mata karena gaya prejudis dan tendensius atas apa yang telah ditulisnya. Rasanya sangat bukan saudara Eep. Karena terkesan menghakimi dan apriori tanpa melengkapinya dengan keterangan tambahan lain yang memang diperlukan. Gaya penulisan saudara Eep sebelumnya jauh dari pembunuhan karakter seperti ini. Semisal penyebutan nama tanpa memberikan pembobotan sebagai referensi, dimana ciri ini bukanlah ciri dari seorang calon ilmuwan (scholar) Ph.D sekelas lulusan Ohio State University, AS, apalagi dari jurusan Ilmu Politik terutama bila rujukan kita adalah dosen saudara Eep di Ohio sana yang bernama Prof. William Liddle (Pak Bill Liddle) seorang Guru Besar OSU, dimana sampai sekarang alumnusnya telah bertebaran diseluruh pelosok tanah air Indonesia.

Saya Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor dari PSL-IPB yang sedang menunggu jadwal ujian terbuka (tertutup resmi sudah) didalam minggu-minggu ini, merasa sangat keberatan atas apa yang ditulis oleh saudara Eep Sebagai sesama calon Ph.D dimana tentu ada rambu-rambu/koridor/hal-hal tabu tertentu yang didalam pengklasifikasian seorang manusia juga sebaiknya dilengkapi dengan karya maupun atribut yang melekat dari padanya seperti layaknya oknum penulis analis politik lain di Indonesia. Sejujurnya didalam tulisan tersebut diatas, saudara Eep telah terjebak kedalam stereotipi clustering tersebut. Dengan mengatakan bahwa stigma ‘artis’ (istri kedua saudara Eep sekarangpun sebenarnya termasuk dalam kategori artis) tidak layak menjadi politisi dan duduk di DPR RI mewakili jeritan rakyat yang sebagian besar hak-haknya selama ini ’dikebiri’ dengan perlakuan yang tidak adil, setara, serta pelayanan tebang pilih hanya untuk golongan status quo semata. Bahwa sejatinya tidak semua artis tidak mempunyai latar belakang pendidikan tinggi, tidak mempunyai latar belakang berorganisasi yang panjang (baik sosial/kemasyarakatan/nir-laba, dll), tidak mempunyai pengalaman berpolitik praktis, tidak mempunyai kemampuan bekerja menjujurkan keadilan dengan daya tahan (endurance) yang tangguh/tinggi, tidak mempunyai pemahaman bagaimana caranya membingkai politik Indonesia yang diduga ‘liar’ ini dengan hukum, dlsb, didalam tulisan saudara Eep kelihatannya menganggap tidak perlu untuk turut diulas didalam tulisannya.
Saudara Eep Saifuloh Fatah sebagai seorang calon Doktor dari OSU tersebut juga culpa (lalai) bahwa Marissa Haque Fawzi temannya saat kuliah di Ohio, Amerika Serikat saat lalu belajar Ilmu Film, insya Allah sebentar lagi menjadi Doktor. Bahwa saya yang artis sejauh ini telah bekerja tanpa pamrih bagi rakyat dengan taruhan kehilangan kursi empuk di DPR RI karena tidak bersedia mendukung Cagub yang ’diduga’ memakai ijazah S1 palsu karena hanya diselesaikan dalam 8 bulan semata, dan perlalwanan terus menerus terhadap Mafia Peradilan disaat saya meminta keadilan atas seluruh kecurangan pelaksanaan Pilkada Banten 2006, kelihatannya luput atau dianggap tidak penting oleh saudara Eep. Termasuk ketika ditahun pertama bekerja sebagai wakil rakyat didalam koridor fungsi pengawasan jalannya pemerintahan, saya ’turut menggiring’ mantan Menteri Agama kepenjara karena terbukti menyalahgunakan dana abadi ummat untuk Haji (dapat dilihat pada: www.marissahaque-haji2005.com).

Sehingga, bilamana saudara Eep Saifulloh Fatah tidak pernah mencatat perjuangan saya selama ini, dan hasil LSI bulan Oktober yang lalu bahwa rakyat diseluruh Indonesia mencatat langkah perjuangan saya menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum, menjadi tanda tanya besar akan parameter apa yang telah dipakai saudara Eep sebagai bahan argumen dasar penulisannya di harian kompas yang lalu itu. Ketika rakyat Indonesia memilih saya sebagai yang paling diinginkan ke 3 tertinggi dari total 21 nama yang muncul untuk terpilih sebagai wakilnya untuk didudukkan kedalam DPR RI, maka bukan salah saya maupun seluruh rakyat Indonesia bilamana nama seorang Ferry Mursidan Baldan hari ini berada jauh dibawah kami semua para artis dengan menempati urutan ke 21 dibuntut barisan nama-nama yang keluar dari hasil survey tersebut.

Bila saudara Eep Saifuloh Fatah jarang melihat acara hiburan diberbagai televisi, maka sebaiknya saudara Eep bertanya kepada sang istri Sandrina Malakiano – sebagai langkah cross and checks – apakah seorang Marissa Haque belakangan ini masih sesering saudara Eko Patrio didalam pemunculannya sebagai artis dimedia layar kaca selama 2 tahun belakangan ini? Apabila intensitas pemunculan seorang Marissa Haque Fawzi sudah jarang dilayar kaca, maka artinya intensitas kerja menyapa rakyat langsung dilapangan adalah sangat tinggi. Dengan berbagai perjumpaan langsung eye to eye dan shoulder to shoulder serta face to face dimasyarakat luas, maka wajah kejujuran dan suara nurani muncul tanpa dapat dihindarkan. Dari hati sanubari terdalam saya haturkan terimakasih yang luar biasa tinggi kepada LSI yang sudah melakukan survey panjang dengan hasil memberikan semangat bagi kami para artis yang belum pernah ada satupun terkena skandal kasus korupsi untuk menjalani fungsi baru sebagai wakil rakyat dan memperjuangan the silent voices yang selama ini terabaikan.

Jangan pula didalam tulisan saudara Eep kami dibenturkan – antara saya Marissa Haque Fawzi dengan Ferry Mursidan Baldan – karena kami adalah sesama teman di DPR RI periode lalu. Kenapa score saudara Ferry anjlok tajam? Diduga karena selama ini kerja Mas Ferry yang bagus itu hanya berkutat hanya dan untuk partainya semata. Berkutat dari satu sidang ke sidang panja dan pansus penggoalan UU Pilpres semata – demikian yang diberitakan pada Kompas selama ini. Sementara dilain pihak rakyat yang sudah mulai kehilangan kepercayaan kepada partai mengidentifikasikan diri saudara Ferry Mursidan Baldan sebagai sangat lekat dengan partainya. Kristalisasi image melekat pada partai mungkin dimasa lalu menguntungkan dirinya, namun hari ini the silent voices menunjukkan arah aslinya yang bertolak belakang. Saat ini rakyat mendukung orang secara in persona, dan bukan lagi seperti masa lalu dimana rakyat dipaksa/terpaksa mendukung orang yang menempel pada sebuah partai besar.

Saya pikir saudara Eep yang saya akui kecerdasannya sebagai seorang pengamat politik sekaligus calon Ph.D dalam Ilmu Politik, hal-hal tersebut diatas secara nyata sangat disayangkan bilamana luput dari kejelian pengamatan yang tidak menghakimi. Saudara Eep Saifuloh Fatah adalah seseorang yang pernah saya kagumi isi kepala maupun cara dan gayanya didalam aktivitas penulisan esei politik. Apalagi Aci mantan istrinya terdahulu, saya dan suami saya kenal baik saat kuliah di Ohio, Amerika Serikat dulu. Dimana saudari Aci adalah keponakan W.S. Rendra dan seorang penyiar Radio di Utan Kayu (Grup Tempo), Jaktim sekaligus merangkap seorang dosen di Universitas Indonusa Unggul, Jakarta Barat.

Apapun yang telah dilakukan saudara Eep terhadap pendiskreditan para artis yang memasuki ranah politik sejauh ini telah saya maafkan dengan hati ikhlas. Sekaligus saya panjatkan sebuah doa tulus saya terhadap pernikahan kedua saudara Eep termasuk ucapan selamat berbahagia atas kelahiran putri barunya bernama Kaskaya Saifuloh Fatah dari keluarga saya di Bintaro, Tangerang Selatan. Semoga saudara Eep cepat menyelesaikan program Doktornya dari School of Political Science di OSU, Columbus, Amerika Serikat. Dan setelahnya kita dapat mengobrol serta berdiskusi panjang sebagaimana saat lalu ketika saudara Eep bersama saudari Aci istri terdahulu, saya dan Ikang Fawzi suamiku yang sedang menegok istrinya yang sedang kuliah di Ohio, serta pasangan suami-istri Ira dan Syarif sebagai tuan rumah yang memberikan tumpangan menginap saya dan suami di Kota Columbus, Amerika Serikat bercanda cerdas bersama, dalam koridor intelektualitas civitas academica. God bless you!

Salam takzim,
Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor.

Read more!

Wednesday, 4 March 2009

Sang ‘Mualaf’ PPP

Politik Aliran Islam Indonesia, Masihkah Penting?

Tertegun saya membaca sebuah sms yang dikirim oleh seorang kader dan pengurus DPP PPP bernama Budi Pulungan pada tanggal 21 Februari 2009 yang berisi kalimat bernada minor dan ‘menghardik’ saya dengan kata-kata tajam berujung kalimat “… anda kan hanya mu’alaf di PPP.” Sakit hatikah saya? Didalam berpuasa 40 hari ini, dimana lebih banyak kebaikan yang datang bersama puluhan malaikat yang tak terlihat dialam perjuangan saya dan tim saat melakukan sosialisasi Pemilihan Legislatif 2009 di Dapil Jabar 1 berisi Kota Bandung dan Kota Cimahi, saya tidak menggubris sms minor tersebut. Bahkan saya malah berterimakasih pada Mas Budi Pulungan saudara separtaiku tersebut, karena dengan sms dia itu pahala puasa sunnah saya yang baru mencapai hari kedelapan dari total 40 hari saya yakini menjadi bertambah adanya.
Dari mana datangnya kata ‘Mualaf PPP’ tersebut? Saya tidak faham. Yang jelas pertama kali saya membaca dua kata yang ditujukan kepada saya didalam blog pribadi Kyai Asep Moushul Affandi. Dan didalam perjumpaan langsung dengan beliau disaat kantor PPP mengundang Bapak Prabowo Subianto untuk melakukan sosialisasi programnya sembari berguyon saya mengatakan kepada beliau sebagai berikut: “… iya nih Pak Yai saya memang mualaf di PPP, tapi ‘mau ah lap’ jadinya ‘auk ah lap begituuu…’,” demikian bercanda saya kepada Pak Kyai Asep yang disambut tawa cerah beliau yang terlihat senang dengan gaya akrab bercanda saya saat itu. Sayapun diperkenalkan dengan putra beliau seusia Bella putri sulungku yang rupanya selama ini membantu ayahnya meng-update blog serta mengurus pesantrennya di Tasikmalaya/Garut, Jawa Barat.Sebenarnya apakah benar saya seorang mualaf? Rasa lucu dan geli menggelitik tak kuasa menerjang hati yang aniaya ini. Selama ini saya selalu berkaca kepada perjuangan Rasulullah Muhammad SAW ketika hendak melangkah berbuat kebaikan yang tidak pernah dikisahkan mudah dimasanya, sehingga alhamdulillah semangat perjuangan saya dalam konteks kekinian untuk selalu berbuat kebaikan tidak mudah patah karenanya.

Saya memang belum menjadi seorang ustadzah, namun menjadi seorang ustadzah adalah salah satu cita-cita saya didalam kehidupan manusia yang singkat ini. Bila para lulusan pesantren mampu melakukan dakwah bil lisan, maka dengan segala keterbatasan saya selama ini didalam ilmu Islam alhamdulillah sejauh ini saya telah memulainya dengan dakwah bil hal. Benar atau salah dari segala sesuatu yang telah saya lakukan saya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT Jalal Jalalu.

Didalam dakwah bil hal di Dapil saya di Jabar 1 dengan wilayah Kota Bandung dan Kota Cimahi, saya tidak berkehendak mengkotak-kotakkan keluarga Islam Jabar 1 melalui aliran Islam yang mereka percayai. Timses (tim sukses) saya sendiri berisi beragam anggota dengan pemahaman Islam yang mereka percaya. Yang terpenting bagi saya adalah minus aliran Ahmadiyah yang saya yakini sesat itu.Alhamdulillah juga bahwa saya diberi kesempatan untuk muncul di Global TV dengan program rekaman pada hari Rabu tanggal 24 Februari 2009 yang akan ditayangkan pada hari Jumat tanggal 26 Februari 2009 dialog politik bagi Caleg DPR RI dengan 4 orang kandidat asal PPP, Hanura, PKPB, dan PDIP. Perwakilan caleg dari ketiga partai lain tersebut adalah mbak Elza Syarif, Farhat Abbas, dan Budiman Sudjatmiko. Semuanya berlatar belakang Fakultas Hukum. Setiap kandidat diperbolehkan membawa 30 orang pendukung, dan karenanya saya mempunyai keleluasaan mengajak anggota dari seluruh aliran Islam para tandemku yang berada di Jabar 1 dengan quota saya bagi rata. Alhamdulillah, mereka semua antusiatik! Dan sangat ingin menjadi pendukungku diacara shooting Global TV besok Rabu ini.

Terimakasih Ya Allah… Engkau telah memberikan amanah bagiku untuk turut membahagiakan mereka semua, para tandemku berserta seluruh pengikut mereka. Semoga kepercayaan yang telah mereka berikan kepadaku sebagai duta bagi PPP menjadi lebih baik tanpa sekat politik aliran dapat bertahan selamanya. Demi PPP sebagai partai tertua di Indonesia untuk segera bangkit, dan berkemas diri menjemput kebangkitan dalam waktu dekat dimuka ini, insya Allah… Allahu Akbar!

Read more!

Thursday, 26 February 2009

Ikan Laut Tak Selalu Ikan Asin

Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat
dan salah seorang Guru Ekonomi Syariahku Mas Syakir Sula yang saya ibaratkan sebagai ikan berenang dilaut namun tidak serta merta menjadi ikan asin.

Marketing Bahlul, demikian nama judul dari sebuah buku saku hasil karya Mas Syakir Sula yang terakhir terbitan Raja Grafindo Persada pada akhir tahun 2008 lalu. Rasanya tak berlebihan bila saya menganjurkan para pembaca blog saya kali ini untuk dapat memilikinya dijaringan toko buku terdekat dimanapun anda berada diseluruh Indonesia.
Kenapa saya ingin sekali anda sekalian membaca buku setebal 370 halaman ini? Pertimbangan saya antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, ketika dunia dimana kita bertempat tinggal sekarang ini sudah terasa sangat bergetah, diantara rasa keputus asaan tempat bergantung satu-satunya hanyalah kepada The One and The All Mighty semata, Allah SWT Jalal Jalalu; Kedua, disaat kita sangat bersedih ternyata sebenarnya kita tidak pernah benar-benar sendirian karena ada Allah SWT bersama kita dan bekerja melalui ion-ion diudara yang merupakan kamera-Nya. Dan Ia lebih dekat dari urat leher kita; Ketiga, didalam menjalani kehidupan ini menjadi khalifatullah, kita tidak harus terjerumus kedalam sebuah sistem maksiat yang sangat jelas dilarang didalam Al Quran dan dijelaskan didalam Al Hadist. Buku berjudul “Marketing Bahlul” tersebut diatas mengajarkan memberi penjelasan tanpa mengajari kita bagaimana ibarat ikan berenang didalam lautan tapi tidak harus menjadi ikan asin yang tergarami oleh asinnya air laut.
Diminta untuk menjadi salah seorang endorser pada halaman belakang buku tersebut sekaligus menjadi salah seorang pembicara utama bersanding dengan para Kekasih Allah penggerak Sistem Ekonomi Syariah sekelas Mas Adiwarman, membuat saya full konsentrasi menjalankan fungsi sebagai Duta MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) didalam menjelaskan kebaikan Islam rahmatan lil alamin.

Islamophobia dinegeri barat memberikan peluang bagi ummat Islam untuk menunjukkan bahwa bukan seperti itu image negatif yang diajarkan untuk kita semua ummat Islam diseluruh dunia. Rasa keterpanggilan yang tinggi membuat saya yang terlahir sebagai Islam karena dilahirkan dari kedua orang tua yang Islam mencari makna hakiki Islam sebanyak-banyaknya. Berlalunya usia seakan sedang lari sprint dan marathon, membuat semangat saya seakan tidak ingin terkalahkan oleh usia didalam mengejar ilmu Allah yang diturunkan melalui wahyu terakhir kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Didalam kegigihan mencari ilmu Allah sebanyak-banyaknya inilah saya dipertemukan-Nya dengan pada Kekasih-Nya yang lain. Ibarat ketok bambu permainan desa disaat saya masih tinggal di Palembang Sumatra Selatan saat kecil dulu, dari mulut kemulut pertalian silaturahim ini menjadi semakin panjang saja barisannya. Tentu rasa bahagia mendalam serta rasa syukur tak berkesudahan menjadi semakin sering terucapkan. Rasanya Allah SWT tak kepalang tanggung didalam mengijabah doa ummat yang aniaya seperti saya ini. Karena beberapa kepercayaan terkait dengan gerakan sosialisasi ekonomi syariah ini kemudian berkembang luas menjadi persaudaraan sejati didalam Islamic Brotherhood dan Sisterhood di Indonesia. Didalam gambar diatas juga tampak Ratih Sanggarwati yang turut terundang untuk semakin memperluas ikatan persaudaraan syariah ini.

Membahas isi dari buku Mas Syakir Sula Marketing Bahlul, berisi bagaimana sebagai bussines person dikota besar seperti Jakarta dapat melakukan kegiatan marketingnya tanpa harus terjebak dengan langkah-langkah maksiat yang selama ini dikenal sebagai bisnis bukan sekedar uang belaka namun termasuk servis maksiat didalamnya. Metode yang dipakai Mas Syakir adalah metode PAR (Participatory Action Research), dimana sang penulis terlibat aktif didalamnya. Bila dalam metode PRA sebelum ini periset terlibat sebagai salah seorang pelakunya, maka hebatnya Mas Syakir mampu memberi jarak melibatkan diri tanpa harus menjadi terlibat. Luar biasa!

Cerita demi cerita seakan tak mampu saya tahan untuk bersegera diselesaikan. Buku tebal sedang tersebut habis saya lahap didalam dua hari saja, alhamdulillah. Pendekatan undercover terasa gurih dan crispy seperti renyahnya keripik singkong buatan Kota Cimahi, Jabar 1 (Dapil Pileg saya dari PPP) yang menemani saya sembari membaca buku tersebut. Hanya saja ada yang sedikit menggangu ketika tokoh-tokoh didalamnya kenapa ada yang harus disertakan initial namanya, sehingga saya khawatir bila kelak Mas Syakir Sula harus berhadapan dengan gugatan delik pidana pencemaran nama baik dalam Pasal 310 dan 311 KUHP terkait dengan pencemaran nama baik serta perbuatan tidak menyenangkan. Namun semoga saja tidak terjadi, karena siapa juga kan yang faham dengan kehidupan dunia papan atas yang eksklusif berikut para pelakunya selama ini? Apalagi didalam buku tersebut banyak diselingi humor ringan namun sangat menggelitik, sehingga kita sebagai pembaca tidak merasa digurui.

Selamat berkarya lagi dalam waktu dekat wahai Kekasih Allah Mas Syakir Sula saudaraku… All the best ya? Allahu Akbar!

Read more!

Friday, 2 January 2009

Indonesia’s Cinematic Art Stumble and Surge

Indonesia’s Cinematic Art Stumble and Surge

World Paper, New York, USA
June, 2001


By. Marissa Haque Fawzi
An Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University


Indonesia as a country among many countries in the world, cannot escape of the effect of globalization. More specially, the Indonesia film industry is influenced and shaped by the cultures and trends of many other nations. This assimilation necessary and positive for progress and increased quality as long as an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This process is guaranteed by the fact that our world grows smaller everyday and the boundaries that once existed are no more.

The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was the first Indonesia artist to graduate from the School of Film at the University of California Los Angles as early as the 1940s. Generations to follow in the 1970’s were strongly predisposed to Russian production style and technique with Indonesian graduate from Moscow University such as Syumandjaja and Amy Priono.

Many artists to follow, Producers and Directors are products of Indonesia education and training. Their work, also distinguished, is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts has been “Edutainment” or educational entertainment for the Indonesian citizen.

The only trouble with this is seen in the extremely small ratio of these artists in relation to the population of Indonesia, which far exceeds 200 million. If the love of money is the root of all evil it has also been the demise of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed the production of movies as a monetary printing press.

The typical Indonesian film left nothing for the viewing public; there was no moral message and no real meaning. By the end of 1980s the film industry has stagnated and come to screeching halt. The Indonesia government further stifled the industry’s creativity and quality, and the differences from one film to the next became almost impossible to discern. It was a frustrating time for the movie-going public and even exasperating for those production teams that sought to create.

In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated from University of Indonesia with a degree in Law and attended Indonesia’s Institut Kesenian Jakarta (Indonesian Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented an Eastern European style of production. Many Indonesian viewers did not understand this style of production and found the storylines difficult to follow, but his works have been honored (and have placed) at almost every international film festivals in which those have appeared.

Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film graduates that, to date, do not wish to be identified with other movie production teams, came together to produce. They represent the new techno generation, seeking something new and different from all who came before them, and it is known to Indonesians today as the movie Kuldesak. This independent production team used a grassroots style marketing strategy throughout production. The film smacks of Quentin Tarantino. The theme song from thia movie was also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.

The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director), Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their award-winning production Petualangan Sherina or the Adventures of Sherina. The British honored this production with the presentation of the British Chavening Award Scholarship to Riza. This is only logical because Riza finished his Master of Arts in screenwriting at a British Institution in 1999. Riza ia rich with British style.

What do we see in the future of the Indonesian film industry? What style do we hope will prevail? There are so many possibilities, but that which cannot be denied and is clear to even those who would close their eyes is that American films are shown on every channel of Indonesian television and fill Indonesian theatres. In this lies an undeniable answer.

We are also aware that American film is a collection of assimilations from across the world. Thus we come full circle of globalization and interdependent world in which we live. We will, each and every one of us, learn from all of those around us without exception, if we hope to progress. This is a continual process that will go on for as long as we breathe.

Read more!

Thursday, 1 January 2009

Selamat dengan Ekonomi Syariah di Indonesia

Marissa Haque-Ekonomi Syariah Dukung Sektor Riil

.Saudara dan saudariku terkasih setanah air, berikut ini saya sekedar memforwardkan berita posistif dari perkembangan ekonomi syariah ditanah air. Semoga dapat sedikit mencerahkan bagi kita semua ya? Salam kasih, Marissa.

http://www.pkesinteraktif.com/content/view/3289/68/lang,id/

Rabu, 05 November 2008

Jakarta (4/11). Marissa Grace Haque (lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962; umur 46 tahun) adalah seorang aktris, sutradara, produser film dan politikus Indonesia. Menikah dengan Ahmad Zulfikar Fawzi (Ikang Fawzi) dan dianugerahi dua orang putri, yaitu Isabella Muliawati Fawzi (Bella) dan Marsha Chikita Fawzi (Kiki). Ia adalah kakak kandung dari Soraya Haque dan Shahnaz Haque.

Ia juga aktif menulis di media dan sebagai pengacara non-ligitasi, Direktur Utama PT SAI (Saya Anak Indonesia) Films, Direktur Eksekutif e-Gov Institute di Jakarta dan Surabaya, juru bicara dari Ristra Beauty Clinic and Cosmetics, Duta Lingkungan Hidup dari KLH, Duta WWF untuk Badak Cula Satu, dan Duta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Marissa telah menyelesaikan berbagai disiplin ilmu yaitu, Doktor S3 dari Institut Pertanian Bogor, jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup dan kini ia akan menjalani studi S2 Hukum Pidana Universitas padjadjaran.

Motto hidup duta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini yaitu menjalani hidup dengan mengalir seperti air (go with the flow) dan ikhlas menjalani ketentuan Allah Swt. Manusia berusia, namun tuhan yang menentukan hasilnya sesuai usaha tersebut.

Filosofi kehidupan bermasyarakat Marrissa yaitu jujurkan keadilan dan adilkan kejujuran. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia berharap pemerintah tidak hanya menjalankan trilogi pembangunan yang terdiri dari stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Namun juga, ekonomi yang berpihak pada sektor Usaha Kecil dan Mikro (UKM).

Ekonomi syariah berpihak pada sektor riil yang mayoritas ada pada masyarakat Indonesia. UKM tersebut menjadi penolong di saat krisis global, yang muncul akibat runtuhnya pasar modal.

Ia berharap ekonomi syariah dapat maju menjawab tantangan jaman. Apalagi krisis global yang melanda beberapa negara saat ini dapat diatasi dengan sistem ekonomi yang berkeadilan seperti ekonomi syariah. Ekonomi syariah berada di pertengahan sistem ekonomi kapitalis dan ekonomi komunis. (Nola, www.pkesinteraktif.com)

Read more!

En Kleine Kadotje van Oom Fanny Habibie

Kalau Allah SWT sudah ingin bersegera menjawab ‘doa rintihan’ kita, maka jarak lintas laut dan benua bukan hal yang mustahil bagi-Nya.

Seucap Nyata

Adalah seorang hamba Allah orang Indonesia nomor wahid di Negeri Belanda yang menelpon di cellphone-ku menjelang tengah malam buta waktu Indonesia bagian barat 3 (tiga) hari yang lalu.
Setengah hati kuangkat telpon yang deringnya mengganggu konsentrasi gelombang alpha dzikir panjangku diatas sajadah empuk sederhana dikamar tidur.

Ah! Private number lagi… cobaan apa lagi ini yang datang tak henti-henti menerorku sejak dua hari berselang? Kenapa justru ditengah malam buta disaat saya sedang ‘senang-senangnya’ bersenandung lirih untuk-Nya?
“Marissa… apa khabarnya?,” kata suara laki-laki diseberang sana dengan nada semangat. “Masya Allah… saya senang sekali dengan tulisan kamu,” sambungnya lagi.

Saya terkesiap: “Ups, tulisan yang mana dan dimana, dan dengan siapa ini?” Saya memang perlu meyakinkan diri ini bahwa saya memang menulis bagus dan mendapatkan apresiasi. Karena pemberitaan diberbagai media terkait dengan langkah jihadku belakangan ini malah lebih banyak yang kontra produktif terhadap perjuangan itu daripada positifnya sendiri.

“Tapi,… maaf, dengan siapa ini saya bicara Pak?,” tanyaku ulang.“Masya Allah, tidak ingat suara saya? Ini lho saya yang suka duduk disamping kamu kalau di BKSAP-DPR RI (Badan Kerjasana Antar Parlemen), dan yang paling sering memarahi kamu kalau langkah dan ucapanmu di DPR RI kemarin kurang pada tempatnya. Kalau kamu kerja bagus saya selalu katakan bagus, namun kalau tidak bagus saya juga selalu mengatakan apa adanya ke kamu. Masih belum ingat?” sambung suara tersebut kembali.Saya malah menjawab dengan lirih: ”Maafkan saya Pak…saya tidak ingat, karena selama saya bekerja di DPR RI sebagai wakil rakyat saya sering kali dimarahi orang,” jawabku jujur apa adanya. Terdengar tawa renyah diseberang lautan sana sebagai respon atas jawabanku.

Ah, saya masih terus menerka-nerka siapa gerangan sang Bapak ini. Namun beliau langsung menyebut namanya dan saya merasa sangat surprise! “Saya Oom Fanny… Fanny Habibie, ayahnya Ade. Saya telpon dari Amsterdam, Belanda” jelas sang pemilik suara. Dan Bapak Fanny Habibie adalah Duta Besar Indonesia untuk negeri Belanda pada periode Presiden SBY ini.“Allahu Akbar! Saya sangat senang masih diingat oleh Oom Fanny,” jawabku. Sejak di DPR RI dulu, saya memang selalu memanggilnya Oom bukan Bapak. Karena anak beliau yang lulusan Fakultas Film dari Chicago School of Film adalah teman diskusi saya didalam pembuatan film beberapa saat sepulang saya dari Amerika Serikat. Istri beliau baru saja meniggal dunia dan dimakamkan dekat dengan mertua Shahnaz adikku – Bapak Ramadhan KH – di Pemakaman Tanah Kusir, Jaksel. Ibu Miriam binti Supardi yang dikasihi Allah yang telah lebih dahulu kembali kepangkuan-Nya, yang malam ini sengaja kukirimkan doa khusus untuknya.

***

Sejujurnya sebelum telpon tadi berdering, saya baru saja mengadukan kepada-Nya perihal ‘nasib’ ujian terbuka Doktorku dari IPB Bogor yang terus menerus molor karena masalah biaya. Dari 11 (sebelas) langkah menuju seorang PhD. Alhamdulillah saya telah melalui 10 (sepuluh) langkah. Satu langkah yang selama tiga bulan terakhir tidak maju-maju karena berbagai kendala ini dan itu.

Jarang ada yang percaya bahwa orang seperti saya lebih sering berkendala dengan dana terkait dengan pendidikan, karena tanggung jawab menuju akhirat kami terkait dengan pendidikan anak-anak asuh kami juga memakan biaya tidak kecil.

Singkat kata, pada akhirnya Oom Fanny menyatakan sangat senang dengan tulisanku terakhir di blogdetik.com ini yang berjudul “Tak Ada Dendam dan Tak Perlu Membalas.” Saya sangat surprise bahwa beliau begitu perhatiannya kepada tulisan sederhana ungkapan hati dicatatan harian terbuka ini. Namun saya juga sadar bahwa keluarga besar Habibie adalah keluarga intelektual yang dari dulu sudah sangat melek dunia ICT (Information Communication and technology) disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum menyentuhnya.

Saya bercerita bahwa telpon Oom Fanny sebagai jawaban langsung dari Allah SWT ketika saya meminta jawaban ‘bantuan’ atas nasib ujian terbuka Doktorku yang sudah 4 (empat) bulan ini terkatung-katung. Sudah Doktor sih secara ‘ijab-kabul’, namun belum resmi karena belum ada muawiyah-nya (ramai-ramainya).

Saya bertanya terus kepada Oom Fanny, apa yang membuat beliau ter’ketuk hati’ untuk menelpon saya setelah saya tahu bahwa ketika beliau menelpon kenomor lama HP-ku tidak nyambung-nyambung. Lalu beliau secara berputar mencari nomor kontak saya melalui adik ibunya Gilang Ramadhan Bi’ Herna yang sesama Deplu dan pernah tinggal dan kerja di Belanda. Bi’ Herna kemudian bertanya ke Shahnaz. Setelah dapat, lalu kembali lagi menelpon balik Oom Fanny. Dan baru setelahnya tersambung kesaya. Oom Fanny mengatakan, kalau Allah sudah ingin menggerakkan hati seseorang walau jarah setengah perjalanan bumi dan terpisah ribuan mil samudra luas, kebaikan itu pasti akan bersegera datang.

Ya, Allahu Akbar! Saya teringat cerita The Al Chemist oleh Pablo Coelho, diceritakan bila kita meminta dengan hati bening kepada-Nya, maka seluruh isi dunia akan membantu sang peminta untuk mendapatkan apa yang didoakannya.

Oom Fanny spontan menyatakan ada dana halalnya yang harus dikeluarkan, dan itu akan diberikan langsung kerekening saya di BRI Senin besok ini. Dan masya Allah… jumlahnya persis seperti yang saya butuhkan yang saya pintakan kepada-Nya sampai dengan diwisuda bulan February 2009 nanti. Beliau hanya meminta jaminan kelulusan saya menjadi Doktor resmi sebelum tahun baru 2009.

Allahu Akbar! Jazakumullah khoir… Oom Fanny Habibie Kekasih Allah. Beliau yang juga sedang berduka karena kehilangan istri tercintanya, masih sempat memikirkan orang lain yang bukan siapa-siapanya ini dan mendoakan kesuksesan studi saya. Saya lalu meminta nama lengkap almarhumah istri beliau. Nama Ibu Miriam binti Supardi kemudian kukirimi doa paling dalam untuk ketenangan, kesejukan dialam kuburnya, dan menunggu saat tepat suatu masa nanti bersama-sama suaminya menuju Sang Kekasih Abadi dalam kondisi segalanya hanya yang terbaik dimata-Nya.

Didalam QS Ali Imran ayat 31 Allah SWT berfirman, dikatakan: “ Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikuti Aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyang.”

Allahu Akbar Oom Fanny… njenengan datang dikirim Allah untuk menjawab doa panjang saya kepada-Nya… Salam kasih saya buat Mas Ade dan istri manisnya yang pernah main di filmnya Mbak Nia Dinata, dan cium sayangku buat sang cucu mungil dirumah KBRI di Wassenar, Amsterdam sana. Sudah masuk musim dingin kelihatannya ya? Jaga kesehatan Oom, jangan lupa ’mencuri’ waktu untuk tetap cukup beristirahat. Indonesia membutuhkan anda, juga keluarga besar Habibie yang lain para Kekasih Allah. Mas Adrie Subono sedang sering bersama Ikang dirumahnya, dari pengajian bareng Aa’ Gym dan lainnya sampai bicara soal konsert musik bareng.Kami bangga dengan keluarga besar Habibie. Sesuai dengan makna nama tersebut didalam Bahasa Arab yang artinya Kekasih. Ya, Kekasih Allah… insya Allah demikian ya Oom Fanny.

Jazakumullah khoir sekali lagi atas kebaikan hatinya. Sukses selalu ditempat kerja di KBRI Kerajaan Belanda ya Oom? Dan insya Allah membawa nama bangsa kita kearah kerjasama bilateral yang lebih harum lagi.

We trust you…

God bless you!

Read more!