|
|
|
|
|
|

Thursday, 1 January 2009

Selamat dengan Ekonomi Syariah di Indonesia

Marissa Haque-Ekonomi Syariah Dukung Sektor Riil

.Saudara dan saudariku terkasih setanah air, berikut ini saya sekedar memforwardkan berita posistif dari perkembangan ekonomi syariah ditanah air. Semoga dapat sedikit mencerahkan bagi kita semua ya? Salam kasih, Marissa.

http://www.pkesinteraktif.com/content/view/3289/68/lang,id/

Rabu, 05 November 2008

Jakarta (4/11). Marissa Grace Haque (lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962; umur 46 tahun) adalah seorang aktris, sutradara, produser film dan politikus Indonesia. Menikah dengan Ahmad Zulfikar Fawzi (Ikang Fawzi) dan dianugerahi dua orang putri, yaitu Isabella Muliawati Fawzi (Bella) dan Marsha Chikita Fawzi (Kiki). Ia adalah kakak kandung dari Soraya Haque dan Shahnaz Haque.

Ia juga aktif menulis di media dan sebagai pengacara non-ligitasi, Direktur Utama PT SAI (Saya Anak Indonesia) Films, Direktur Eksekutif e-Gov Institute di Jakarta dan Surabaya, juru bicara dari Ristra Beauty Clinic and Cosmetics, Duta Lingkungan Hidup dari KLH, Duta WWF untuk Badak Cula Satu, dan Duta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Marissa telah menyelesaikan berbagai disiplin ilmu yaitu, Doktor S3 dari Institut Pertanian Bogor, jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup dan kini ia akan menjalani studi S2 Hukum Pidana Universitas padjadjaran.

Motto hidup duta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini yaitu menjalani hidup dengan mengalir seperti air (go with the flow) dan ikhlas menjalani ketentuan Allah Swt. Manusia berusia, namun tuhan yang menentukan hasilnya sesuai usaha tersebut.

Filosofi kehidupan bermasyarakat Marrissa yaitu jujurkan keadilan dan adilkan kejujuran. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia berharap pemerintah tidak hanya menjalankan trilogi pembangunan yang terdiri dari stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Namun juga, ekonomi yang berpihak pada sektor Usaha Kecil dan Mikro (UKM).

Ekonomi syariah berpihak pada sektor riil yang mayoritas ada pada masyarakat Indonesia. UKM tersebut menjadi penolong di saat krisis global, yang muncul akibat runtuhnya pasar modal.

Ia berharap ekonomi syariah dapat maju menjawab tantangan jaman. Apalagi krisis global yang melanda beberapa negara saat ini dapat diatasi dengan sistem ekonomi yang berkeadilan seperti ekonomi syariah. Ekonomi syariah berada di pertengahan sistem ekonomi kapitalis dan ekonomi komunis. (Nola, www.pkesinteraktif.com)

Read more!

En Kleine Kadotje van Oom Fanny Habibie

Kalau Allah SWT sudah ingin bersegera menjawab ‘doa rintihan’ kita, maka jarak lintas laut dan benua bukan hal yang mustahil bagi-Nya.

Seucap Nyata

Adalah seorang hamba Allah orang Indonesia nomor wahid di Negeri Belanda yang menelpon di cellphone-ku menjelang tengah malam buta waktu Indonesia bagian barat 3 (tiga) hari yang lalu.
Setengah hati kuangkat telpon yang deringnya mengganggu konsentrasi gelombang alpha dzikir panjangku diatas sajadah empuk sederhana dikamar tidur.

Ah! Private number lagi… cobaan apa lagi ini yang datang tak henti-henti menerorku sejak dua hari berselang? Kenapa justru ditengah malam buta disaat saya sedang ‘senang-senangnya’ bersenandung lirih untuk-Nya?
“Marissa… apa khabarnya?,” kata suara laki-laki diseberang sana dengan nada semangat. “Masya Allah… saya senang sekali dengan tulisan kamu,” sambungnya lagi.

Saya terkesiap: “Ups, tulisan yang mana dan dimana, dan dengan siapa ini?” Saya memang perlu meyakinkan diri ini bahwa saya memang menulis bagus dan mendapatkan apresiasi. Karena pemberitaan diberbagai media terkait dengan langkah jihadku belakangan ini malah lebih banyak yang kontra produktif terhadap perjuangan itu daripada positifnya sendiri.

“Tapi,… maaf, dengan siapa ini saya bicara Pak?,” tanyaku ulang.“Masya Allah, tidak ingat suara saya? Ini lho saya yang suka duduk disamping kamu kalau di BKSAP-DPR RI (Badan Kerjasana Antar Parlemen), dan yang paling sering memarahi kamu kalau langkah dan ucapanmu di DPR RI kemarin kurang pada tempatnya. Kalau kamu kerja bagus saya selalu katakan bagus, namun kalau tidak bagus saya juga selalu mengatakan apa adanya ke kamu. Masih belum ingat?” sambung suara tersebut kembali.Saya malah menjawab dengan lirih: ”Maafkan saya Pak…saya tidak ingat, karena selama saya bekerja di DPR RI sebagai wakil rakyat saya sering kali dimarahi orang,” jawabku jujur apa adanya. Terdengar tawa renyah diseberang lautan sana sebagai respon atas jawabanku.

Ah, saya masih terus menerka-nerka siapa gerangan sang Bapak ini. Namun beliau langsung menyebut namanya dan saya merasa sangat surprise! “Saya Oom Fanny… Fanny Habibie, ayahnya Ade. Saya telpon dari Amsterdam, Belanda” jelas sang pemilik suara. Dan Bapak Fanny Habibie adalah Duta Besar Indonesia untuk negeri Belanda pada periode Presiden SBY ini.“Allahu Akbar! Saya sangat senang masih diingat oleh Oom Fanny,” jawabku. Sejak di DPR RI dulu, saya memang selalu memanggilnya Oom bukan Bapak. Karena anak beliau yang lulusan Fakultas Film dari Chicago School of Film adalah teman diskusi saya didalam pembuatan film beberapa saat sepulang saya dari Amerika Serikat. Istri beliau baru saja meniggal dunia dan dimakamkan dekat dengan mertua Shahnaz adikku – Bapak Ramadhan KH – di Pemakaman Tanah Kusir, Jaksel. Ibu Miriam binti Supardi yang dikasihi Allah yang telah lebih dahulu kembali kepangkuan-Nya, yang malam ini sengaja kukirimkan doa khusus untuknya.

***

Sejujurnya sebelum telpon tadi berdering, saya baru saja mengadukan kepada-Nya perihal ‘nasib’ ujian terbuka Doktorku dari IPB Bogor yang terus menerus molor karena masalah biaya. Dari 11 (sebelas) langkah menuju seorang PhD. Alhamdulillah saya telah melalui 10 (sepuluh) langkah. Satu langkah yang selama tiga bulan terakhir tidak maju-maju karena berbagai kendala ini dan itu.

Jarang ada yang percaya bahwa orang seperti saya lebih sering berkendala dengan dana terkait dengan pendidikan, karena tanggung jawab menuju akhirat kami terkait dengan pendidikan anak-anak asuh kami juga memakan biaya tidak kecil.

Singkat kata, pada akhirnya Oom Fanny menyatakan sangat senang dengan tulisanku terakhir di blogdetik.com ini yang berjudul “Tak Ada Dendam dan Tak Perlu Membalas.” Saya sangat surprise bahwa beliau begitu perhatiannya kepada tulisan sederhana ungkapan hati dicatatan harian terbuka ini. Namun saya juga sadar bahwa keluarga besar Habibie adalah keluarga intelektual yang dari dulu sudah sangat melek dunia ICT (Information Communication and technology) disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum menyentuhnya.

Saya bercerita bahwa telpon Oom Fanny sebagai jawaban langsung dari Allah SWT ketika saya meminta jawaban ‘bantuan’ atas nasib ujian terbuka Doktorku yang sudah 4 (empat) bulan ini terkatung-katung. Sudah Doktor sih secara ‘ijab-kabul’, namun belum resmi karena belum ada muawiyah-nya (ramai-ramainya).

Saya bertanya terus kepada Oom Fanny, apa yang membuat beliau ter’ketuk hati’ untuk menelpon saya setelah saya tahu bahwa ketika beliau menelpon kenomor lama HP-ku tidak nyambung-nyambung. Lalu beliau secara berputar mencari nomor kontak saya melalui adik ibunya Gilang Ramadhan Bi’ Herna yang sesama Deplu dan pernah tinggal dan kerja di Belanda. Bi’ Herna kemudian bertanya ke Shahnaz. Setelah dapat, lalu kembali lagi menelpon balik Oom Fanny. Dan baru setelahnya tersambung kesaya. Oom Fanny mengatakan, kalau Allah sudah ingin menggerakkan hati seseorang walau jarah setengah perjalanan bumi dan terpisah ribuan mil samudra luas, kebaikan itu pasti akan bersegera datang.

Ya, Allahu Akbar! Saya teringat cerita The Al Chemist oleh Pablo Coelho, diceritakan bila kita meminta dengan hati bening kepada-Nya, maka seluruh isi dunia akan membantu sang peminta untuk mendapatkan apa yang didoakannya.

Oom Fanny spontan menyatakan ada dana halalnya yang harus dikeluarkan, dan itu akan diberikan langsung kerekening saya di BRI Senin besok ini. Dan masya Allah… jumlahnya persis seperti yang saya butuhkan yang saya pintakan kepada-Nya sampai dengan diwisuda bulan February 2009 nanti. Beliau hanya meminta jaminan kelulusan saya menjadi Doktor resmi sebelum tahun baru 2009.

Allahu Akbar! Jazakumullah khoir… Oom Fanny Habibie Kekasih Allah. Beliau yang juga sedang berduka karena kehilangan istri tercintanya, masih sempat memikirkan orang lain yang bukan siapa-siapanya ini dan mendoakan kesuksesan studi saya. Saya lalu meminta nama lengkap almarhumah istri beliau. Nama Ibu Miriam binti Supardi kemudian kukirimi doa paling dalam untuk ketenangan, kesejukan dialam kuburnya, dan menunggu saat tepat suatu masa nanti bersama-sama suaminya menuju Sang Kekasih Abadi dalam kondisi segalanya hanya yang terbaik dimata-Nya.

Didalam QS Ali Imran ayat 31 Allah SWT berfirman, dikatakan: “ Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikuti Aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyang.”

Allahu Akbar Oom Fanny… njenengan datang dikirim Allah untuk menjawab doa panjang saya kepada-Nya… Salam kasih saya buat Mas Ade dan istri manisnya yang pernah main di filmnya Mbak Nia Dinata, dan cium sayangku buat sang cucu mungil dirumah KBRI di Wassenar, Amsterdam sana. Sudah masuk musim dingin kelihatannya ya? Jaga kesehatan Oom, jangan lupa ’mencuri’ waktu untuk tetap cukup beristirahat. Indonesia membutuhkan anda, juga keluarga besar Habibie yang lain para Kekasih Allah. Mas Adrie Subono sedang sering bersama Ikang dirumahnya, dari pengajian bareng Aa’ Gym dan lainnya sampai bicara soal konsert musik bareng.Kami bangga dengan keluarga besar Habibie. Sesuai dengan makna nama tersebut didalam Bahasa Arab yang artinya Kekasih. Ya, Kekasih Allah… insya Allah demikian ya Oom Fanny.

Jazakumullah khoir sekali lagi atas kebaikan hatinya. Sukses selalu ditempat kerja di KBRI Kerajaan Belanda ya Oom? Dan insya Allah membawa nama bangsa kita kearah kerjasama bilateral yang lebih harum lagi.

We trust you…

God bless you!

Read more!

Wednesday, 31 December 2008

Doa Cepat Sembuh untuk Rano Karno.

Rano Karno adalah Guru acting-ku yang Pertama. Pertama berpasangan difilm pertama saya berjudul “Kembang Semusim” dimana Mieke Widjaja dinobatkan pertama kali menjadi aktris terbaik FFI 1981 di Surabaya.

Dedikasi Rano Karno di Kabupaten Tangerang, Banten, 2008, membuatnya terserang sakit demam berdarah pasca penyeprotan anti nyamuk demam berdarah.

Rano adalah salah seorang artis / figur publik yang berhasil mulus menjadi seorang birokrat.

Kasihan Rano, semoga Dewi dapat terus merawat dan memberikan sentuhan kasih sehingga Rano segera dapat kerja seperti semula sebagai Wakil Bupati di Kabupaten Tangerang, Banten.

Totalitasnya didalam bekerja hampir selalu membuahkan kekaguman dari penggemarnya. Sampai diusia matang sekarangpun hampir pada setiap langkahnya Rano berhasil menerobos dinding penghalang.Kebanggan kami, doa ikhlas kami sekeluarga — Ikang, Icha, Bella, dan Kiki — untuk Uwak Rano Karno. Semoga cepat sembuh ya Ran? Bismillah…

Read more!

Tuesday, 30 December 2008

Saya Tidak Membenci Ratu Atut Chosiyah

SAYA memaafkan apapun kejahatan/delik pidana yang telah dilakukan Ratu Atut Chosiyah kepada saya Marissa Haque Fawzi.

Namun kebohongan publik yang ‘diduga’ telah dilakukan terkait dengan pidana pendidikan / jaringan mafioso pendidikan, lalu kemudian mendapatkan posisi birokrasi oleh karena buah upaya delik pidana berjamaah (konspirasi) tersebut, maka urusan equality before the law (bahwa dihadapan hukum adalah sama) — Hans Kelsen — tanggung jawabnya bukan lagi sekedar pribadi antara Atut dengan saya semata.

Namun pertanggung jawaban moral serta spiritual harus Atut berikan kepada agamanya, kepada seluruh anak bangsa Indonesia dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Termasuk siapapun dia ‘oknum’ yang ‘diduga’ melindungi / mempetieskan laporan delik pidana pendidikan ini diwilayah ruang kerja POLRI — Polda Metro Jaya dan Bareskrim Mabes Polri.

Juga Universitas Borobudur dan Yayasan Borobudur yang mengeluarkan ijazah Sarjana Ekonomi yang hanya diselesaikan Ratu Atut Chosiyah hanya didalam jangka waktu 17 (tujuh belas) bulan saja — masuk Januari 2003 dan skripsi asli yang ditemukan oleh Kompol Asep Adisaputra, SH, MH dari Kanit 4 Kamneg 4 Polda Metro Jaya, terketik bulan Mei 2004.

Kekhawatiran saya sebagai pribadi yang menjunjung tinggi institusi pendidikan, terdapat oknum diwilayah Dikti, Diknas yang terlibat. Karena jenis kejahatan seperti ini tidak pernah tunggal dan berdiri sendiri, namun dilakukan secara beramai-ramai / kejahatan berjamaah / konspirasi. Besar harapan saya yang terakhir ini tidak terjadi. karena betapa hancurnya masa depan kita bangsa Indonesia, karena kejahatan / delik pidana yang justru dilakukan oleh soko guru yang digugu dan ditiru.

Walaupun langit akan runtuh, namun hukum harus wajib tetap ditegakkan.

Allahu Akbar! Merdeka!

Salam kasih,

Marissa Haque Fawzi.

Read more!

Tak Ada Dendam dan Tak Perlu Membalas

Memaafkan Berbagai Kedzoliman

‘Oknum’ Pro DPP-PDIP & Ratu Atut Chosiyah kepada Saya Sekeluarga Baik Melalui TV, Koran, maupun Internet.

Tak ada Dendam dan Tak Perlu Membalas

Saya faham, ditengah masyarakat ‘bergetah’ Indonesia, tidak mudah menerima perlakukan tidak seimbang, curang, manipulasi, serta konspirasi dominan dari oknum kelompok elit disekitar kita. Indonesia memang sebuah negeri demokrasi, namun kalau boleh jujur level/kelasnya baru sampai pada demokrasi prosedural — sangat jauh dari harapan demokrasi konstitusional dalam koridor ruh sebuah negara berdaulat penuh seperti yang diharapkan oleh para founding fathers kita disaat kemerdekaan Indonesia dideklarasikan. Diperlukan dukungan doa dan moral support yang berkelanjutan (terus menerus secara kontinyu dan stabil) diantara para penjujur keadilan negeri ini. Demi menuju Indonesia yang lebih bermartabat, semoga dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi. Semoga,… amin.

Banalisasi - sebuah kejadian jahat yang berulang dan berkelanjutan sehingga dipercaya sebagai tidak jahat lagi - yang dilakukan oleh oknum atau beberapa oknum yang merupakan perpanjangan tangan oknumstatus quo Orde Baru belakangan ini, semakin hari semakin terasa menjadi-jadi. Padahal rakyat telah terpaksa mengakui bahwa didalam masa sepuluh tahun terakhir telah terjadi sebuah perubahan besar. Namun kiranya, reformasi Indonesia dianggap dianggap oleh sebagian besar rakyat Indonesia tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Seberapa jauh perubahan positif telah dirasakan oleh rakyat seperti apa yang mereka propagandakan dalam iklan layar kaca dan internet? Sampai hari ini rasanya tidak pernah benar-benar ada yang melaporkan telah melakukan riset intensif terkait dengan masalah tersebut. Apakah dengan menjadi bagianblogger network kita dapat menyumbang pemikiran progresif dan mengubah situasi status quo ketinggalan zaman warisan masa lalu, menjadi lebih promising bagi masyarakat lebih luas secara merata dan berkeadilan? Sejujurnya saya merasakan benar adanya, bahwa e-diplomacy atau jejaring diplomasi cyber/dunia maya adalah diplomasi masa depan ummat manusia dimuka bumi ini. Kurang lebihnya seperti our wolrd’s ‘second life’-lah. Besar harapan saya bahwa dunia keluarga besar blogger Indonesia kedepannya dapat menjadi sebuah industri mumpuni berbasis inovasi dan kreativitas seperti yang selama ini secara pesat terjadi di Korea Selatan. Dan membawa KESEJUKAN bagi Indonesia dengan menjadi media alternatiftabbayun (klarifikasi) dalam koridor komunikasi diplomatik.

***


Marsha Chita Fawzi, Seniman ‘Mungil’ku yang Mature.Sekitar dua mingguan yang lalu, Kiki bungsuku ini menelpon Ikang suamiku sambil menangis. Our angel ini sangat jarang menangis. Kalaupun juga hal ini dilakukan, pasti ada hal mendesak yang membuat rasa keadilannya terganggu namun belum mampu melakukan pembelaan atas gangguan tersebut. Sejak kecil karakter Kiki adalah jenis anak mandiri yang sebagian besar kebutuhan hidupnya ia selesaikan sendiri sampai tuntas. Seingat saya, Kiki menangis bila sedang sakit (menjelang operasi usu buntu saat TK dulu) atau atau menjelang haid diawal kejadian pertama kali mendapatkan haid. Rupanya dikampus MMU(Malaysian Multimedia University) dimana jaringan internet sangat baik dengan kilobytes per secon-nya yang tinggi, teman-teman Kiki menemukan berita bullying yang ‘diduga’ dilakukan oleh jaringan pendukung para vandalists Ratu Atut Chosiyah dan beberapa oknum dari DPP PDIP baik yang berada di DPR RI maupun yang tugas di kantor pusat Lenteng Agung. Berita yang diproduksi ‘diduga’ dengan niat pembunuhan karakter seperti misalnya melalui ruang respon dibeberapa mediacyber nasional semisal dan lainnya. Secara khusus dapat dilihat sejumlah dialog liar dan ‘liar’ yang bertebaran dalam ruang chating/diskusi dua arah dalam maupun blogs pribadi yang abal-abal! Astaghfirullahaladziiim… Ampuni mereka semua ya Allah…kelihatannya mereka tidak tahu apa yang mereka sedang lakukan.

Rupanya Chikita my baby tidak terima Ibunya tercinta dijelek-jelekkan oleh mereka yang ‘diduga’ dilakukan secara by design dan serius oleh jejaring mereka tersebut diatas. Tulisan sederhana saya kali ini, hanya sekedar memberikan sedikit gambaran kepada saudara dan saudariku pengunjung dan yang pernah mengetahui sepak terjangku didalam membela dan keberpihakan terhadap rakyat Indonesia semisal di: termasuk juga di

Curhat terbuka saya kepada seluruh saudara dan saudari baruku melalui blognet media dimanapun anda berada, semoga menjadi gambaran selintas bahwa kami para figur publik yang telah dan sedang serius membela rakyat dan negara jauh dari pujian dan tepuk tangan meriah. Sangat berbeda ketika kami sedang berada diatas panggung atau layar kaca/perak. Bahwa perjalanan panjang menuju menjadi Kekasih Allah sangat sering turut melibatkan stabilitas emosional orang-orang terdekat kita dirumah/anggota keluarga/mereka yang paling kita cintai dan dekat dihati.

Menurut Marsha Chikita ku tercinta yang sangat mengetahui perjalanan panjang jihad ibunya untuk masyarakat Banten melalui Pilkada 2006 yang lalu, berita mengenai saya Marissa Haque pada`media-media yang muncul tersebut sebagian besar tidak ada yang benar-benar lengkap yang secara holistik menceritakan kebenaran apa adanya. Berita yang muncul menurut Kiki terpenggal-penggal, entah sengaja atau tidak sengaja. Sehingga informasi yang sampai lepada pembacanya dimanapun berada terkesan ‘compang-camping’ dan cenderung kontra produktif bagi langkah perjuangan jihad Banten saya — Ibunya Chikita ini.

Allahu Akbar, nak! Terimakasih banyak cintaku, atas keberpihakanmu kepada perjuangan panjang Ibumu untuk ranah Banten. Provinsi Banten adalah tanah leluhur nenek moyang Ayah Ikang dari pihak Mbah Yuya yang berasal dari Lebak, Banten. Ternyata kamu sudah semakin matang didalam menganalisa dan memajukan kritik nak. Ibu sangat bangga kepada perkembanganmu ini. Alhamdulillah Ya Rob…

I am okey nak, I am fine,” demikian jawabku melalui sarana komunikasi chatting di Yahoo Messanger beberapa hari yang lalu. Yahoo Messanger intrument ini benar-benar dapat memangkas biaya pulsa telpon Ikang dan saya disaat ingin mengecek keberadaan serta kondisi anak-anak kami dimanapun mereka berada. ”Duh! Alhamdulillah Chikita sayang putri kebanggan Ibu Icha dan Ayah Ikang. Banyak baca doa tolak bala ya nak? Kami berdua ditambah kak Bella setiap hari mendoakan keberhasilanmu didunia akademik dinegara tetangga Malaysia sana. Cepat pulang diakhir tahun nanti ya sayang? Tak sabar rasanya Ibu, Ayah, dan Kak Bella untuk segera memeluk dan menciummu nak.Bismillah sayang…

Keberuntungan Memiliki Suami Bijak dan Tenang Seperti Ikang.

Beruntung saya memiliki suami seperti Ikang yang tenang dan bijak. Apapun yang terjadi ia selalu mampu menjadi penyeimbang serta penyejuk raga bagi kami sekeluarga. Ditambah lagi Ikang mampu selalu bersenandung dan sering menyanyi bersama gitarelectricnya diruang musik keluarga dirumah kami di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan. Dan motto kami sekeluarga adalah OUR FAMILY ALWAYS STICKS TOGETHER.

Sehingga bila saudara-saudariku pengunjung bog saya ini selalu melihat saya mampu tampil tegar didalam memperjuangkan prinsip MEMBINGKAI POLITIK DENGAN HUKUM dan MENJUJURKAN KEADILAN, alhamdulillah selain karena doa kepada Allah SWT yang tak pernah henti, juga karena saya memiliki seorang suami yang luar biasa memberikan dukungan total kepada seluruh aktivitas istrinya, juga kedua anak-anak yang sholehah serta baik prestasi akademiknya.

Ahamdulillah Ya Allah… inilah yang dinyatakan didalam QS. AR-Rahman yang didalamnya disebut berkali-kali: “Fabi ayyi ala i Robbi kumma tukadzdzibaannn…” Nikmat mana lagi yang akan kau dustakan hai manusia… Terimakasih banyak Ya Allah… terimakasih… terimakasih… terimakasih… Tidak ada lagi yang kupinta, kecuali selamatkan generasi penerus Indonesia ini Ya Allah. Anak-anakku Bella dan Kiki, serta seluruh anak-anak Indonesia lainnya diseluruh tanah air. Merekalah semuathe agent of change yang sejati dari bangsa ini. “Yes, CHANGE we believe in,” kata Presiden AS Obama.Orang-orang mulia berhati kesatria adalah mereka yang bersedia berjuang tanpa kenal pamrih dan lelah. Hidup perjuangannya selalu tajam dalam fokus yang terarah. Aspirasi hajat hidup orang banyak dari kelompokthe silent majority adalah nafas perjuangannya. Manusia pejuang dihargai atas apa yang telah dilakukannya, tidak memperdulikan berhasil atau belum berhasil. Karena itu hanyalah masalah berikutnya dan pernyataan resmi didalam kepala.

The best way to escape from a problem is to solve it! Jadi jangan pernah lari dari perjuangan, sekali kita menyatakan maju dalam sebuah perjuangan yang kita yakini kebenarannya serta bersandar hanya kepada-Nya.

Orang-orang mulia pilihan Allah teruji dan insya Allah yang mampu lulus dalam pertahanan hidup serta kehidupan yang bersandar hanya kepada Allah SWT semata. Kenapa tidak agar Indonesia tahun 2009 kedepan juga mampu menghasilkan ‘kemewahan’ perubahan yang sama seperti apa yang telah terjadi disebuah negara adidaya berjarakhalf way round the world Amerika Serikat baru-baru ini. Perubahan Indonesia, perubahan pemimpin Indonesia, untuk masa depan Indonesia yang lebih bermartabat. Insya Allah…

Bismillahi tawakal Allallaaahh… la haula wala quwwata illabillaaaah… Allahu Akbar! Merdeka!

Read more!

Saturday, 27 December 2008

Pahlawan Kepemimpinan Muda Indonesia

SEJAK semalam disalah satu tv swasta Indonesia dan headline hari ini diharian Kompas, Gramedia Grup mengabarkan tentang makna dan proses menjadi seorang pahlawan. Tentulah klop dengan tanggal hari ini tertanggal 10 November yang dinyatakan secara nasional sebagai Hari Pahlawan Indonesia. Di tv swasta semalam tersebut, salah seorang pakar motivasi Indonesia Mario Teguh mengatakan bahwa setiap dari kita adalah pahlawan. Seorang pahlawan bukanlah yang selalu yang berada pada posisi paling depan dimedan pertempuran dan tewas duluan. Dia dapat berada dimanapun, kapanpun, serta dalam kondisi apapun. Jadi artinya kita semua tanpa terkecuali mampu untuk menjadi pahlawan dilingkungan dimana kita bertempat tinggal.
Pagi ini saya dan Ikang Fawzi suamiku diundang oleh salah seorang sahabat kami Eko Patrio untuk menjadi narasumber disalah satu acaranya berjudul “Dewa Dewi” yang berbentuk talkshow semi komedi namun selalu mampu menyelipi beberapa pesan sosial-ekonomi-hukum yang lumayan serius.

Eko Patrio sebagai produser sekaligus merangkap host pada acaranya di TPI ini yang alhamdulillah dengan kecerdasan khasnya, mampu mendongkrak nama serta partainya sehingga mampu muncul menjadi calon legislatif 2009 yang paling diinginkan kedua terbesar setelah Agung Laksono yang memang sampai hari ini adalah Ketua DPR RI. Alhamdulillahnya, posisi ketiga diraih oleh saya sendiri Marissa Haque Fawzi. Insya Allah, ini merupakan sumbangan terbesar pertama dari saya sebagai seorang kader baru bagi partai kedua yang baru saya masuki dalam setahun belakangan ini. Dari 21 buah nama yang pop-up (muncul), ternyata tersebut 10 buah nama yang berasal dari kelompok selebriti (disebut: artis) Indonesia.

Jagad perpolitikan nasional tercengang, sebagian besar masyarakat elit dan intelektual protes keras. Sebagian positif, namun tak kurang yang negatif.Bahkan seorang pakar komunikasi dari UI (Universitas Indonesia) yang juga salah seorang pemandu acara semi komedi-politik disalah satu tv swasta memberikan komentar minor akan kenyataan resmi dari LSI (Lembaga Survei Indonesia) didepan mata ini.

Hanya satu-dua komentar yang muncul dimedia yang memberikan dukungan positif atas kehadiran entitas ‘alien’ kami ini. Salah satu dari komentar manis tersebut datang dari Dr. Andi Malarangeng salah seorang staf khusus / jubir Presiden RI. Ia mengatakan bahwa adalah hak para selebriti untuk hadir menjadi politisi, karena memang peluang terbuka bagi siapapun yang mampu dan memenuhi syarat.

Ya benar, saya setuju dan memberikan apresiasi tinggi atas komentar positif tersebut. Karena sejujurnya, bahwa sang Presiden RI pun belakangan ini memasuki wilayah ruang selebritas di beberapa infotainment Indonesia.

Aha! Entah siapa konsultan medianya, karena yang jelas memang – diluar tugas konstitusional kenegaraan – langkah Presiden memasuki wilayah ‘remeh-temeh’ tersebut berdampak positif atas pelurusan berita gossip yang sempat menerpa sang Presiden. Semisal kelahiran cucu pertamanya yang dianggap dipaksakan melalui operasi secsio demi mengejar bersamaan dengan HUT proklamasi kemerdekaan Indonesia.Siang nanti saya diterima oleh Bambang Sulistomo anak Pahlawan Negara Bung Tomo asala Surabaya. Mas Bambang senior suamiku di FISIP-UI saat kuliah dulu, adalah salah seorang supporter utama saya selama berjihad menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum didalam menegakkan keadilan Pilkada Banten 2006 yang sangat kaya akan kecurangan serta intimidasi itu. Bung Tomo, Ayah Mas Bambang baru saja diresmikan menjadi salah seorang pahlawan Negara kita. Pertanyaannya kemudian: “Why it takes so long?” kenapa lama sekali pengakuan menjadi pahlawan ini diberikan sebuah negara yang katanya merdeka dan berdaulat? Apa yang salah selama ini dengan negeri ini didalam mengapresiasi para pahlawannya? Walau sejauh yang saya tahu bagi keluarga Mas Bambang, diakui atau tidak soal kepahlawanan ayahnya, mereka menganggap dari dulu ayah mereka adalah seorang pahlawan sejati.Menurut Mario Teguh semalam, dikatakah bahwa seorang pahlawan sejati tidak perlu pengakuan dari orang lain. Ia bagaikan sebuah lilin yang rela meleleh demi memberikan penerangan pagi sekelilingnya. Nah, bagaimana dengan kita semua? Sejauh mana (to what extent) keikhlasan kita berbuat banyak atas kebaikan tanpa orang lain harus mengetahuinya?Tiba-tiba tangan saya tanpa sengaja membuka sebuah sms yang sengaja saya simpan untuk tetap menjaga ‘bara’ jihad perjuangan menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum diranah Banten ini. Kiriman seorang wartawan perempuan yunior yang pernah saya kagumi kecerdasannya, lulusan sebuah univeritas bergengsi di Provinsi Jawa Timur. Saya memang mengirimkan lebih dulu sebuah sms undangan untuk hadir pada sidang pembuktian kasus ‘dugaan’ ijazah palsu Gubernur Banten disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 yang lalu di PN Tangerang, Banten.

Namun jawaban yang saya peroleh sangat mengagetkan karena sangat ketus dan menurut saya yang memiliki banyak sahabat para wartawan yang lebih senior, masya Allah… kurang berbudaya. Untungnya saya telah melaui perjuangan selama hampir 2 (dua) tahun dan telah melalui berbagai asam-manis-pahit perlakuan diskriminatif dari oknum media. Dan saya berhasil membuktikan kebenaran dari teori media massa The Framing Analysis yang mengatakan bahwa didalam era indutri media seperti sekarang ini, tidak ada media yang benar-benar seputih kapas. Semua media membawa misi dan visi sang pemilik/pemodal dibelakangnya. Semua menuju satu arah, yaitu growth only. Dalam koridor teori ekonomi pembangunan artinya adalah mengejar keuntungan setingi-tingginya, dan sebagian dari pelaku industi media terperosok dalam jebakan economic drive ini sehingga melupakan idealisme media sesungguhnya.Ikhlas dan sejujurnya, bahwa saya telah memamafkan sang wartawan perempuan yunior tersebut setelah dengan sangat ’sadis’ mengatakan kepada saya:”… saya tidak tertarik mengabarkan di media saya apa yang kamu lakukan karena kamu sudah kalah.Innalillahi… Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, sejujurnya sebagai manusia perempuan biasa saya sangat sedih atas dua kata dia yang terakhir, yaitu “sudah” dan “kalah.” Jawaban saya untuk dia semoga tidak mengecewakan almarhum ayah dan ibuku adalah sebagai berikut: “Hi mbak ‘…’ Bagi saya kekalahan itu hanyalah pernyataan didalam pikiran kita, tidak lebih. Terimakasih banyak atas balasan smsnya, namun tidak akan mempengaruhi jihad saya didalam menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum. Kegagalan hanyalah kemenangan yang tertunda. Juga menang adalah kemampuan mengalahkan diri sendiri. Saya akan tetap apa adanya dengan perjuangan saya ini, karena saya yakin Allah SWT selalu bersama langkah kanan saya – being blessed by God the Almighty, Allah SWT. Bismillaaaah… Salam kasih, Marissa.” Demikian kurang lebih isi sms saya dengan upaya nada bersahabat dan tidak ingin terpancing emosi.

Namun setelahnya lalu muncul didalam benak saya sebuah pertanyaan selanjutnya yaitu: “Apakah saya ingin dikatakan pahlawan dengan perjuangan melelahkan di Propinsi Banten ini?”

Masya Allah… hari ini dan seterusnya kedepan, saya harus meyakinkan diri saya sendiri, bahwa sebagai menantunya wong Banten saya hanya melakukannya hanya karena Allah SWT semata, untuk menjadi Kekasih-Nya. Tidak lebih dan tidak kurang, insya Allah demikian sejujurnya saya ungkapkan.

Allahu Akbar, merdeka!

Dr. Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum.

Read more!

Possitive Deviant Dharma Pongrekun

Possitive Deviant
Dharma Pongrekun

Tidak banyak polisi didunia yang baik, termasuk juga di Indonesia.

Seringkali secara sambil bercanda saya mengatakan kepada beberapa teman polisi yang dekat dihati bahwa yang baik itu hanya patung polisi dan polisi tidur. Polisi tidurpun seringkali membuat susah pengemudi mobil maupun motor.
Hari ini tanggal 26 Desember 2008, saat dimana saya baru mampu berdiri seimbang dan bengkak mata akibat terus menerus menangis mulai sirna serta energi untuk menulis muncul lagi. Sudah lama rasanya saya tidak menangis sesegukan seperti itu, dimana selama dua hari berturut-turut airmata keluar berhamburan bagai tak terbendung. Penyebabnya tak lain adalah karena dua kejadian ‘luar biasa’ menyangkut penegakan hukum di Indonesia yang ingin saya bagi dengan anda semua. Dalam tulisan ini saya akan memulainya dengan kisah AKBP. Drs. Dharma Pongrekun, MM, MH.

Sore hari sekitar Pk 17.00 pada tanggal 24 Desember 2008 yang baru saja berlalu, menjelang malam misa dimana ummat Kristiani bersiap-siap menjalani Ibadah Misanya dalam keheningan malam. Mas Dharma (AKBP Drs. Dharma Pongrekun, MM, MH) mendapatkan surat pemecatannya sebagai Wakil Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Saat itu rasa berdosa luar biasa langsung menyergap dilubuk-jantung hatiku yang paling dalam. Seorang polisi baik, yang sedang berusaha menjujurkan keadilan ditempatnya bekerja harus mendapatkan penghentian kerja ‘hanya’ karena berusaha membantu jihad Bantenku.

Awal perkenalan dengan Mas Dharma dimulai dengan ketidak sengajaan, ketika saya bersama 14 orang tim lawyer yang baru yang dipimpin oleh Bang Sahara Pangaribuan, SH, mencoba mengendap-endap menjebak Kompol Joko Purwadi, SH, MH diruang kerjanya di Kanit 5, Kamneg 4, Polda Metro Jaya, yang selama 9 bulan sejak pelaporan pertama saya terkait dengan dugaan penggunaan ijazah aspal Ratu Atut Chosiyah, SE pada saat mengikuti Pilkada Banten 2006 tidak pernah terlihat batang hidungnya, tidak ada komunikasi SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) tahu-tahu SP3 (Surat Pemberitahuan Pemberhentian Perkara) keluar! Masya Allah… innalillahi wa innailahi rojiuuunnn…. Rupanya lengkingan suara teriakan saya yang sangat keras yang saya tujukan kepada Kompol Joko Purwadi tersebut terdengar disepanjang selasar Reskrimum. Hal itu membuat Mas Dharma melompat dari ruang kerjanya yang sedang secara bersamaan mengurus kasus Marcella Zalianti dan Lia Eden, dan mendatangi saya yang sedang protes sangat keras atas kinerja buruk oknum Polri di Polda Metro Jaya.

Singkat kata, akhirnya Mas Dharma memenuhi permintaan saya agar dilakukan GELAR PERKARA hari itu juga terhadap kebenaran isu SP3 dugaan DELIK PIDANA ijazah aspal (asli tapi palsu) Ratu Atut Chosiyah, SE. Hasil yang ditemukan saat itu juga membuat bulu kuduk saya berdiri. Karena ternyata dugaan kami bahwa Atut menyelesaikan kuliah S1 nya selama 17 bulan, pada gelar perkara pertama pada tanggal 22 Desember 2008 tersebut benar-benar membuka mata saya karena ditemukan bukti lain secara ‘telanjang’ bahwa Atut hanya kuliah 8 bulan belaka! Innalillahi wa innailaihi rojiuuunnn… Delik pidana yang melibatkan Ratut Atut Chosiyah, SE tersebut senyatanya lebih mengerikan dari perkiraan saya dan tim lawyer selama ini.

Hal ini belum termasuk kejahatan abuse of power yang dilakukan Atut sejak awal mengikuti pencalonan kandidat Gubenrnur Banten 2006. bahwa sesungguhnya Atut adalah seorang CARE TAKER bukan INCUMBENT, karena Atut adalah Plt atau Pelaksana Tugas Sementara. Atut menabrak dengan sangat sadar dan terencana UU 32/2004 jo PP 6/2005 jo PP 17/2005 jo PP 25/2007 jo Kep KPUD Banten 2005 jo Azas-azas Pemerintahan yang Baik, mengatakan SEORANG PENJABAT DILARANG IKUT PILKADA. Sehingga selama 2 tahun masa saya memperjuangan menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum atas Pilkada Banten 2006 yang penuh dengan intrik, manipulasi, serta gratifikasi tersebut.Jasa Mas Dharma didalam langkah perjuanganku soal Banten ini adalah MELAKUKAN GELAR PERKARA HARI ITU JUGA. Sehingga dari sana saya dan tim lawyers melihat dengan mata kepala sendiri, menyaksikan adanya desain konspirasi licik dan terencana didalam mempeti-eskan urusan delik pidana dugaan ijazah aspal (asli tapi palsu) Atut sampai dengan menggulirkan isu SP3 kepada publik melalui konfrensi pers oleh Atut dan O.C. Kaligis pengacara kroni Soeharto disebuah hotel di Jakarta. Kepada seluruh media yang datang dalam konfrensi tersebut Kligis dan atut mengatakan sudah 7 kali upaya Marissa gagal. Hhhmm… memang KEUANGAN ATUT MAHA KUASA. Seluruh gugatan saya melaui sidang Perdata dan TUN ( yang terakhir ini masih saya pending agar tidak perlu buru-buru diputus estela seorang makelar kasus meminta uang sukses pada saya) diberi hasil N.O (Niet Onvanklikverklaard). Sebagai anak bangsa yang patuh azas hukum, pernyataan ini membuat saya tidak habis geleng-geleng kepala. Karena N.O (Niet Onvanklikverklaard) artinya selama saya memperkarakan keabsahan Atut dianggap selalu salah kamar dan salah pintu.

Awal Januari 2009 besok ini saya akan melakukan gugatan sengketa kewenangan Pilkada Banten 2006 ke MK (Mahkamah Konstitusi), karena kejorokan mafia peradilan Indonesia sampai hari ini masih sangat menjadi-jadi. O.C. Kaligis sendiri sebagai pengacara keluarga besar Soeharto pernah beberapa kali kalah didalam menjalankan pembelaannya semisal kegagalan membela Arthalita dan Jaksa Urip terkait dengan kasus pidana gratifikasi BLBI kemarin ini. Jadi sangat mungkin dalam menangani urusan delik pidana Atut ini Kaligis bisa gagal. Insya Allah demikian adanya, semoga…

Ciri-ciri dari kelompok rezim sisa Orde Baru yang selama ini terekam dalam ingatan publik adalah: pembungkaman HAM, pemutarbalikan fakta, penekanan dari kekuatan/kekuasaan militer TNI/POLRI, dominasi praktek mafia peradilan, dll. Dan mengacu kepada apa yang dilakukan kelompok ini pada perjuanganku adalah contoh sebagai berikut:

1. Didatanginya saya dirumah Bintaro oleh seorang Intel dari Kabag Intelkam Mabes Polri bernama panggilan Mas AKBP Baron (orang Sunda) yang dengan serius meminta saya berhenti didalam perjuangan untuk Banten dengan alasan takut karir Ikang suamiku didalam pencalegan menjadi terganggu.
2. Laporan saya sebagai masyarakat awam/umum yang memiliki citizen law suit, terkait dugaan penggunaan ijazah aspal (asli tapi palsu) Atut disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 yang lalu dilama-lamakan (buying time). Sehingga sang penjahat yang sangat keras diduga melakukan delik pidana tersebut keburu ancang-ancang untuk menyempurnakan kejahatannya. Dan proses berlama-lama ini tidak dilakukan sendirian melainkan konspirasi berjamaah.
3. Kebenaran materil diabaikan, dan mereka berupaya membuat kesimpulan sendiri dengan mengedepankan argumen eksklusif kroni mereka dengan penguasaan berbagai macam dan bentuk media serta penggiringan opini publik seperti contoh klipin dibawah ini pada sebuah koran lokal di Banten yang diduga sudah ’terbeli’ dengan berbagai macam iklan dari pihak Gubernuran Banten.
4. Biasanya mereka bersembunyi dibawah “menunggu izin presiden” / FORUM PREVILEGIATUM agar tidak tersentuh jeratan hukum. Nah didalam kasus Atut, Mas Dharma Pongrekun berjasa luar biasa karena saya jadi tahu bahwa didalam kenyataannya SP3 atut adalah abal-abal alias tidak sah! Karena untuk mengeluarkan sebuah SP3 harus melalui kurang lebihnya antara lain:

1) Memiliki Laplabkrim (laporan Laboratorium Kriminal)

2) Bahan dugaan kejahatan yang dianggap asli maupun palsu minimal ada dalam bentuk photo copy didalam pengarsipannya

3) Telah siap kapanpun juga dengan slight dengan overhead projector dalam penjelasan didalam power pointsDari kesemua hal tersebut diatas tidak ada pada hasil kerja Kompol joko Purwadi, SH, MH sang Kanit 5, Kamneg 4, Polda Metro Jaya. Jadi dengan kata lain bahwa SP3 Atut adalah BODONG! Dan kebodongan tersebut dibuat oleh oknum Polri sendiri di Polda Metro Jaya selama ini. Ibarat istilah jeruk makan jeruk begitu…

Saya tak berkendak mengatakan seluruh anggota Polri nakal dan jahat, sama sekali tidak. Karena diantara sekelompok oknum Polri ‘bergetah’ tersebut dua-tiga orang dari mereka merupaka positive deviant alias yang bekerja sangat baik, cepat, dan benar. Salah satunya adalah AKBP Drs. Dharma Pongrekun, MM, MH ini.Besok tertanggal 27 Desember 2008, seharusnya oleh Mas Dharma dan tim Kanit 5, Kamneg 4 Polda Metro Jaya dilakukan GELAR PERKARA KEDUA atas kasus dugaan ijazah palsu Atut. Namun karena Mas Dharma telah dipecat / dimutasi oleh atasannya di Polda Metro Jaya, maka rencana mulia menjujurkan keadilan ini menjadi turut tertunda. Saya mempunyai firasat sangat kuat, bahwa Mas Dharma dipecat / dimutasi oleh atasannya bukan semata karena kasus Marcella Zalianti, tapi karena masalah Atut dan bukti SP3 yang bodong tersebut!

Karena kita semua mahfum bahwa akan ada yang ‘terbakar jenggot’nya di Polda Metro Jaya karena saya dan orang luar lainnya mengetahui kebenaran ‘telanjang’ dari permainan busuk oknum Polri di Polda Metro Jaya terkait dengan laporan dugaan ijazah aspal AtutBesar harapan saya anda semua pembaca esei saya ini dapat mendoakan langkah perjuangan saya didalam membingkai politik dengan hukum serta menjujurkan keadilan yang senyatanya sangat berat dan tidak pernah sederhana ini.

Juga doa ikhlas untuk saudara kita Mas Dharma Pongrekun agar mendapatkan tempat mutasi yang baik bagi karir kepolisiannya, teman-teman dekat lebih banyak dan lebih berkualitas yang ‘chemistry’ berjuangnya sama seirama dalam menjalankan fungsi optimal POLRI sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat Indonesia.

Allahu Akbar, kita belum merdeka!

Read more!