|
|
|
|
|
|

Friday, 26 December 2008

Kopi dan Kenangan

Marissa’s Story
Photography by Fernandez Hutagalung

Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran 14.. Hijriah. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Musholaku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok dibawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat dibawah sadarku. Orang-orang yang dekat dihati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah Ibuku, dan keluarga besar Ibuku yang aku kasihi. Masih teringat dibenak saat kecil kami berempat—Shahnaz adikku yang terkecil belum lagi lahir—Mama, Papa, Soraya, dan aku berlibur dari pelosok kabupaten kecil di Plaju-Baguskuning, Palembang tempat ayahku bekerja sebagai karyawan Pertamina, menuju kota Bondowoso, Jawa Timur kampung masa kecil almarhumah Ibuku.

Sepanjang perjalanan dengan memakai pesawat Fokker F28, yang sudah sangat terasa mewah saat itu, kami pergi terlebih dahulu menuju Jakarta, kemudian transit melalui Surabaya diteruskan perjalanan melalui darat melewati daerah Pasir Putih, baru setelah itu tiba di Bondowoso, Jawa Timur. Kami menginap dirumah besar orang Belanda istri kedua sepupu Eyang Putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap Ibuku dan semua sepupunya sebagai anaknya sendiri. Perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia.

Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku gengam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah,…wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, akan tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh dimasa ratusan tahun dibelakang. Oma Belanda ini sangat faham sejarah dunia, beliau juga sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan disekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang Jawa Timur adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi Bondowoso saat itu.

Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk duduk bersandar dibahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita memikat. Diceritakan bahwa biji kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang, yang keluar bersama kotorannya. Saat itu biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain ditanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor, juga daerah tetangganya di Jawa Timur, Jember. Biji-biji kopi yang merah tua itu disimpan dalam karung goni digudang selama lima sampai tujuh tahunan. Biji- biji tersebut kemudian dijemur dibawah sinar matahai selama minimal tujuh jam. Setelah itu ditumbuk, disangrai, setelahnya digiling. Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap- siap “pulang kampung” ke Bondowoso, bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi tersebut terutama melihat kondisinya setelah terkena landreform beberapa belas tahun yang lalu, serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur.

Cerita sang Oma semakin memikatku, apalagi setelah diperkaya oleh hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum sang Oma lahir, kerjasama yang didasarkan secara berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarang” nya dengan Eyang Kakung yang tidak utuh kuserap karena faktor usia. Kuingat Soraya sudah asyik terlelap dikasur lebar, dikaki Oma Belanda bersama para sepupu yang lain.

Sang Oma juga membagi resep, beliau mengatakan bahwa baginya usaha kopi sangat kaya seni. Seluruh proses produksi—diluar pembudidayaan kebun—dipegangnya sendiri. Ia berprinsip menjual kopi yang harus fresh. “Cara” baginya adalah sangat penting, jumlah bukan bidikan pertama. Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri, kata beliau. Kata-kata ini juga yang selalu terekam dibawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, yang penting adalah menikmati proses belajarnya. Karena belajar itu asyik. Harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu untuk bertanya, serta menjalin silaturahmi berkala kepada siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya—karena menurut beliau didunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu pada sesama.

Dan detik ini, aku lupa bahwa aku belum menyiapkan sarapan apapun untuk keluargaku. Bik Inah pembantu yang sudah ikut puluhan tahun di dalam keluargaku masih pulang kampung, belum balik lagi. Jadi sebenarnya inilah saat yang paling tepat bagiku untuk mengekspresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya adalah dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik biru kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang suamiku, sementara ukuran sedang untuk Mertuaku. Anak-anakku menyukai rasa kopi didalam campuran Mocca Cream dalam mug besar. Aku ingin meneruskan kebiasaan berdiskusi ringan dengan mereka semua dimeja makan. Tentang apa saja. Tentang headline dikoran hari ini, tentang Politik, Ekonomi, atau Sosial dan Budaya. Bila diskusi tidak nyambung, tidak mengapa. Aku ingin menciptakan suasana cerdas dimeja makan. Juga penting membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat Karir biasanya menjadi mentor informal. Sehingga Kopi bagiku bukan sekedar minuman belaka, tetapi juga adalah perekat tali emosi didalam keluarga.

Sementara itu diluar rumah, aku sering sekali memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai meeting point walau sekedar social chat demi menyambung silaturahmi. Lebih serius lagi sering pula menjadi tempat membina relationship dengan relasi bisnis.

Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tidak mau—walau sekedar hanya untuk menghirup aroma— menyita minimal satu atau dua detik untuk menikmatinya.

Aroma Kopi, bagiku adalah aroma cerdas dan elegant.

(marissahaque@bali-marissa.com), December 02, 2003.

Read more!

Thursday, 25 December 2008

Salam Kasih

Assalamualaikum wr, wb, … Salam sejahtera bagi kita semua,
Saudara dan saudariku terkasih setanah air, apa khabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja ya? Salam perkenalan dari saya Marissa Haque. Saya ingin memiliki banyak sahabat baru dari kelompok pecinta dunia blog se Indonesia dan bilamana memungkinkan juga dari ranah internasional.

Saya ingin berbagi ilmu, pengalaman, bahkan dengan segala kerendahan hati termasuk sedikit nasehat spiritual kepada anda semua. Wa bil khusus yang terkait dengan SDALH (sumberdaya alam dan lingkungan hidup) yang terkait dengan isu pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Bagaimana kita sebagai warga negara Indonesia berusaha menyikapinya secara bijak, baik dan benar. Karena hari ini, kita menyaksikan kebangkrutan ekonomi kapitalistik akibat upaya sub-prime mortgage (’ternak’ uang/dengan cara memberikan tunjangan kepemilikan rumah bagi kelompok ‘duafa’ di AS yang menjaminkan resiko yang mungkin ditimbulkannya kepada beberapa pihak lainnya sehingga sulit ditelusuri lagi jejak entitas/wujud/thing barang jaminan real/nyatanya).

Indonesia sebagai Negara berkembang/dunia ketiga mau tidak mau hari ini mulai merasakan imbas negatifnya. Sebagai sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar pertama didunia, Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim sekitar 85% dari total jumlah 220 juta orang penduduk. Selama ini tidak pernah terlihat memiliki keberpihakan kepada keseimbangan kebijakan ekonomi-sosial-ekologi yang berbasis kepada sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Seluruh kebijakan Indonesia berbasis kepada economic growth (pertumbuhan ekonomi) semata.

Kita harus bangkit dengan sistem ekonomi milik kita sendiri. Sebuah sistem yang tumbuh dan berkembang sejatinya dekat dengan kepercayaan mayoritas penduduknya. Berupa salah satunya adalah intervensi dari negara atas keterjaminan pemerataan kesejahteraan bagi rakyatnya — (the Islamic way/the middle path/the third way) yang bukan sekedar mengejar segala sesuatu hanya berbasis kepada growth/pertumbuhan semata.

Inilah kritik saya terhadap teori ekonomi pembangunan yang dianut oleh Indonesia selama 6 (enam) periode pergantian Presiden RI sampai dengan sekarang. Dengan kekhususan kritik saya terhadap teori Trilogi Pembangunan pemerintahan SBY & JK — pro poor - pro growth - pro job. Melengkapinya dengan yang keempat sebagai Kwartologi Pembangunan yang pro kepada SDALH (pro environment).

Banyak yang belum tahu bahwa perjanjian Indonesia dengan IMF telah dimulai sejak saat Bung Karno selesai berpidato yang sangat berapi-api dengan mengatakan: “Go to hell with your aid America.”
Dan tak lama setelahnya sejarah mencatat dan kita semua tahu, bahwa atas tekanan faktor eksternalitas tak terkendali – The Washington Concensus (Rais, UGM, 2008) – Bung Karno secara terpaksa membuat 3 (tiga) buah Kepres terakhirnya sebelum masanya tiba meletakkan jabatan/dipenjara-rumahkan. Ketiga Kepres tersebut adalah Kepres 7, 8, dan 9 Tahun 1966 (Bashwir, UGM, 2008).

Saya hanya berpikir bahwa rasanya kini atas izin Allah SWT, kita sebagai sebuah bangsa dari negara yang bernama Indonesia dengan cara diplomatic way yang cantik dapat benar-benar bangkit memperjuangkan kembali kedaulatan sejati (souvereignity)-nya menjadi seutuhnya berada dipihak kita sendiri sebagai bangsa yang berdaulat. Karena kedaulat sejati yang terdiri atas: dari - oleh - untuk rakyat Indonesia.

Allahu Akbar! Merdeka!

Salam kasih, Marissa Haque Fawzi.

Read more!

Guru Sufiku dari Tanjung, Kalimantan Selatan

DI dalam berproses menjadi seorang muslimah yang lebih baik dari hari kehari, saya memiliki beberapa pembimbing spiritual dan mengikuti dua aliran tarekoh - Tarekat Sadziliyah dan Tarekat Naqsabandi Haqqani. Dari beberapa yang mendampingi saya secara intens terdapat seorang dari Kalimantan Selatan yang bernama Ustad Ahmad Jaro asal Tanjung, Kalsel. Dalam tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang Ustad Jaro yang dihari Raya Idul Adha ini sedang berada di Arafah berwukuf bersama pululan juta muslimin dan muslimat dari seluruh dunia.

Terakhir saya menemuinya di airport Cengkareng dalam perjalan pulang beliau ke Tanjung, Kalsel bersama seorang Polisi yang sekaligus menjadi ketua Yayasan Hasbunallah di Tanjung, yang biasa saya panggil Mas Tri. Saya masih sedang bercanda dan tertawa ria bersama Mas Tri dan dua orang polisi lainnya temannya dibandara, ketika Ustad Jaro mengatakan gantungan ditas hitam besarku yang ada bandulan berlogo Mabes Polri lucu juga melekat dengan baju gamis kaosku yang berwarna hitam. “Nggak matching ya Pak ustad?” tanyaku ringan. Ustad Jaro menjawab tak kalah ringan bercandaku dengan mengatakan bahwa kelihatannya saya suatu saat tak lama lagi bisa juga menyandang Brigjenpol namun ’tituler’ (sejenis honoris causa dalam civitas academica). Maka meledaklah tawaku sejadi-jadinya, karena memang saya merasa benar-benar ‘lucu’ dan sangat menyenangkanmursyid (guru) tasawufku yang satu ini. Karena memang sejujurnya sedari remaja saya menyenangi martial art dan mempunyai sifat sedikit tomboy. Memang tidak terlalu banyak orang mengetahuinya, bahwa saya pernah menguasai kungfu dan silat. Dahulu kala konon diceritakan bahwa tendangan kaki saya seperti ‘angin.’ Dan pernah membayangkan memasuki dunia pendidikan militer di angkatan udara (karena saya suka bunji jumping dan terbang layang) atau menjadi Polwan (polisi wanita). Tapi itukan dulu, duluuuuu… sekali!

DI dalam berproses menjadi seorang muslimah yang lebih baik dari hari kehari, saya memiliki beberapa pembimbing spiritual dan mengikuti dua aliran tarekoh - Tarekat Sadziliyah dan Tarekat Naqsabandi Haqqani. Dari beberapa yang mendampingi saya secara intens terdapat seorang dari Kalimantan Selatan yang bernama Ustad Ahmad Jaro asal Tanjung, Kalsel. Dalam tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang Ustad Jaro yang dihari Raya Idul Adha ini sedang berada di Arafah berwukuf bersama pululan juta muslimin dan muslimat dari seluruh dunia.

Terakhir saya menemuinya di airport Cengkareng dalam perjalan pulang beliau ke Tanjung, Kalsel bersama seorang Polisi yang sekaligus menjadi ketua Yayasan Hasbunallah di Tanjung, yang biasa saya panggil Mas Tri. Saya masih sedang bercanda dan tertawa ria bersama Mas Tri dan dua orang polisi lainnya temannya dibandara, ketika Ustad Jaro mengatakan gantungan ditas hitam besarku yang ada bandulan berlogo Mabes Polri lucu juga melekat dengan baju gamis kaosku yang berwarna hitam. “Nggak matching ya Pak ustad?” tanyaku ringan. Ustad Jaro menjawab tak kalah ringan bercandaku dengan mengatakan bahwa kelihatannya saya suatu saat tak lama lagi bisa juga menyandang Brigjenpol namun ‘tituler’ (sejenis honoris causa dalam civitas academica). Maka meledaklah tawaku sejadi-jadinya, karena memang saya merasa benar-benar ‘lucu’ dan sangat menyenangkanmursyid (guru) tasawufku yang satu ini. Karena memang sejujurnya sedari remaja saya menyenangi martial art dan mempunyai sifat sedikit tomboy. Memang tidak terlalu banyak orang mengetahuinya, bahwa saya pernah menguasai kungfu dan silat. Dahulu kala konon diceritakan bahwa tendangan kaki saya seperti ‘angin.’ Dan pernah membayangkan memasuki dunia pendidikan militer di angkatan udara (karena saya suka bunji jumping dan terbang layang) atau menjadi Polwan (polisi wanita). Tapi itukan dulu, duluuuuu… sekali!

Hari ini saya sedang merasa sangat sedih dan prihatin melihat kondisi POLRI dengan menejemen yang semakin buruk serta mengulang banyak kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti dimasa Orde Baru yang lalu. Lihatlah bagaimana oknum komandan Polri memerintahkan anak buahnya masuk kekampus Unas (Universitas Nasional) dan memukuli mahasiswa yang sedang unjuk rasa namun dihalaman dalam kampus! Juga bagaimana Habib Riziq dijebak pada unjuk rasa anti gerakan Ahmadiyah dilapangan Monas yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuunnn…

Ganti Kapolri adalah uji kehandalan Presiden SBY didalam memilih salah satu unsur pembantunya. Apakah Bambang Hendarso memang diprediksi dan diposisikan untuk menjadi sahabat/mitra masyarakat, atau malah menjadi alat pembungkam masyarakat seperti kerjadian sepuluh tahun yang lalu dimasa rezim Orde Baru? Kenapa Rieke Dyah Pitaloka sahabat artisku yang sekolahan itu harus ditangkap dan di’polisikan’? Rieke kan hanya mengekspresikan ketidakadilan elit pemerintah didalam membimbing rakyat menuju jalan yang baik dan benar, yang adil dan seimbang tidak tebang pilih dalam proses hukum? Apalagi sekarang ini dia sedang hamil anak pertama yang telah lama ditunggu-tunggu.

Saya ingin memanjatkan doa selamat bagi NKRI agar selamat meniti perjalanan setapak dipenghujung tahun 2008 yang penuh duka ini. Wajah teduh Ustad Jaro membayang didalam doa panjang bagi para tabi-tabi-tabi-tabi-tabi-tabi’in tersebut… Allahu Akbar, kita belum merdeka!

Hari ini saya sedang merasa sangat sedih dan prihatin melihat kondisi POLRI dengan menejemen yang semakin buruk serta mengulang banyak kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti dimasa Orde Baru yang lalu. Lihatlah bagaimana oknum komandan Polri memerintahkan anak buahnya masuk kekampus Unas (Universitas Nasional) dan memukuli mahasiswa yang sedang unjuk rasa namun dihalaman dalam kampus! Juga bagaimana Habib Riziq dijebak pada unjuk rasa anti gerakan Ahmadiyah dilapangan Monas yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuunnn…

Ganti Kapolri adalah uji kehandalan Presiden SBY didalam memilih salah satu unsur pembantunya. Apakah Bambang Hendarso memang diprediksi dan diposisikan untuk menjadi sahabat/mitra masyarakat, atau malah menjadi alat pembungkam masyarakat seperti kerjadian sepuluh tahun yang lalu dimasa rezim Orde Baru? Kenapa Rieke Dyah Pitaloka sahabat artisku yang sekolahan itu harus ditangkap dan di’polisikan’? Rieke kan hanya mengekspresikan ketidakadilan elit pemerintah didalam membimbing rakyat menuju jalan yang baik dan benar, yang adil dan seimbang tidak tebang pilih dalam proses hukum? Apalagi sekarang ini dia sedang hamil anak pertama yang telah lama ditunggu-tunggu.

Saya ingin memanjatkan doa selamat bagi NKRI agar selamat meniti perjalanan setapak dipenghujung tahun 2008 yang penuh duka ini. Wajah teduh Ustad Jaro membayang didalam doa panjang bagi para tabi-tabi-tabi-tabi-tabi-tabi’in tersebut… Allahu Akbar, kita belum merdeka!

Read more!

Monday, 15 December 2008

Aminah

Oleh: Marissa Haque Fawzi
Diterbitkan oleh PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999

Aminah adalah seorang gadis kecil berjilbab. Ia hidup didaerah kumuh yang berdebu ditepi pantai Sampur, Jakarta.

Rumah-rumah disana terbuat dari papan dan kardus bekas. Sampah menggunung. Kaleng-kaleng bekas yang sudah berkarat bertebaran disana-sini. Dicelah-celah jendela, jemuran-jemuran bergantungan menunggu kering. Sebagian lagi bergantungan diatas tali-tali yang terbentang.

Aminah tinggal bersama ibunya. Setiap hari setelah selesai sholat Subuh, mereka menerima cucian yang dititipkan oleh keluarga-keluarga kaya dari luar lingkungan mereka. Sehabis menjemur semua pakaian tersebut, Aminah pergi bermain-main kepantai didekat rumahnya. Biasanya ia bermain diantara karang-karang diatas pasir. Terkadang beberpa anak kecil lainnya bermain bersamanya. Pada kesempatan lain, ia lebih suka sendirian. Berdiam diri memandang gelombang pasang yang berkejaran menerpa karang. Dibiarkannya desir angin memainkan ujung-ujung jilbabnya.

Malam harinya Aminah berjualan kembang. Aminah mengelompokkan kembang tersebut sesuai warnanya; mulai dari warna merah muda, jingga, putih, dan ungu. Bersama Halimah sahabatnya mereka menjual bunga-bunga tersebut dijalan dekat lampu merah. Disana banyak anak-anak sebayanya bermain-main.

Malam itu tak ada bulan. Bintangpun enggan menampakka dirinya. Langit hitam pekat tertutup awan. Walaupun malam terasa panas, kedua anak itu menggigil kedinginan sampai ketulang sumsum.

Aminah dan Halimah berjalan menjajakan kembangnya. Mereka sampai disebuah jalan yang penuh dengan lampu beraneka warna. Hingar binger kendaraan bermotor dan orang-orang yang berlalu lalang.

Tercium bau garam laut bercampur bau polusi yang berasal dari knalpot kendaraan-kendaraan bermotor yang bunyinya memekakkan telinga.

Aminah dan Halimah berjalan dianata mobil-mobil. Menawarkan kembang kepada para pengendara. Ketika bunyi klakson nyaring menyentak, Aminah dan Halimah buru-buru menyingkir.

Seorang wanita tertarik membeli lima tangkai kembang. Aminah dan Halimah tidak dapat menatap wajahnya, karena hanya tangannya saja yang terjulur keluar melalui celah jendela mobil. Wanita itu memberikan uang lima ribu rupiah.

Ketika lampu berubah warna menjadi hijau, mereka berdua kembali duduk sambil menatap kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Lampu-lampu jalan yang bersinar sangat terang, membuat bayangan pohon disekitarnya menjadi semakin dalam. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Udara makin dingin. Malam semakin larut.

Tiba-tiba terdengar bunyi tangisan keras yang menimpali bunyi kendaraan yang berlalu lalang. Aminah tahu siapa yang menangis. Segera didatanginya suara itu.

Seorang anak lelaki menggeliat diatas pangkuan ibunya. Sang ibu menepuk-nepuk punggung sang bocah sambil bersenandung lirih sampai sang bocah tertidur.

Aminah melihat kacang rebus jualan si ibu masih menggunung, belum laku. Ah, kasihan sekali. “Apa khabar Aminah? Banyak laku jualanmu?”, sapa ibu penjual kacang rebus itu. Namanya Ibu Rimpi. “Baru sedikit,” jawab aminah.

“Anakku ini menangis terus sepanjang hari. Tapi kami tak dapat pulang dulu krtumah kalau belum dapat uang. Lihat jualanku hari ini masih sangat banyak tersisa.” Senyum ibu Rimpi terlihat sangat getir sembari menatap wajah-wajah cilik dihadapannya yang manis, jujur, dan polos serta mempunyai kulit yang halus, mata yang bening, dan senyum yang tanpa beban.

Tiba-tiba anak lelakinya menangis lagi. Maka tahulah Aminah dan Halimah bahwa anak lelaki tersebut kelaparan dan kedinginan.

Dengan uang lima ribu rupiah hasil penjualan mereka malam itu, Aminah dan Halimah bergegas membeli makanan dan minuman hangat di sebuah warung dipinggir jalan dekat tempat mereka mangkal. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli empat gelas teh manis dan lima potong pisang rebus. “Ah, betapa mahalnya harga makana sekarang ini,” gumam Aminah.

Aminah dan Halimah membawakan makanan dan minuman itu ketempat Ibu Rimpi dan anakknya. Mereka berempat melahapnya dengan nikmat.

Tiba-tiba Aminah merasakan perutnya sakit bukan alang kepalang. “Ya Allah…apa yang terjadi dengan diriku ini?”, gumamnya. Halimah, Ibu Rimpi dan anak lelakinyapun terlihat kesakitan. Mereka semua limbung dan jatuh ketanah.

Tiba-tiba dunia terasa semakin kelam dari malam sesungguhnya. Aminah tak mampu lagi bernafas. Namun ia masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam lemahnya ia berdoa: “La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.” Yang artinya ‘Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau, hamba ini seorang aniaya’ (doa Nabi Yunus ketika diperut ikan Paus). Tidak ada tempat lain untuk berlindung serta memohon pertolongan kecuali kepada Nya.

Aminah keracunan makanan. Semua terjadi akibat pabrik-pabrik yang tak bertanggung jawab membuang limbah di Teluk Jakarta, dilokasi Aminah didaerah Sampur. Lalat-lalat berterbangan diparit-parit dan jamban-jamban dekat rumahnya. Menghinggapi makanan dan minuman yang dibelinya, meninggalkan racun dan kotorannya disana.

“Ya Allah setelah Ayahku meninggal karena TBC dua tahun yang lalu, bagaimana nanti nasib ibuku? Siapa nanti yang akan membantunya menyucikan pakaian? Bagaimana nanti dengan nasib Halimah, Ibu Rimpi dan anaknya…?” tangis Aminah.

Tiba-tiba tercium bau semerbak, wangi sekali. Langit kelam tiba-tiba menjadi terang. “Apa yang terjadi? Dimanakah aku?” Aminah kebingungan. “Apa yang harus aku lakukan?”
Desir ombak terdengar. Semakin lama semakin keras. Kaki-kaki mungil Aminah serasa menginjak air laut ditepi pantai. Anginpun seakan membisikkan sesuatu ditelinganya.

Aminahpun teringat akan kembang yang masih digenggamnya. Dipandanginya sesaat, sampai tiba-tiba terbersit sesuatu didalam pikirannya. Dilemparkannya kembang-kembang itu dilangit.

Langit pekat berganti terang, cahaya putih bersinar, membuat bintang-bintang tampak terang benderang. Aminah melihat orang-orang berhenti bercakap-cakap. Tak ada lagi deru kendaraan yang membisingkan. Wajah orang-orang terlihat bersih dan bersinar, menebar senyum dimana-mana. Betapa tenteram, betapa indah.

Perlahan Aminah berjalan meyusuri tepian pantai, pulang kerumah. Sendirian, terlepas dari kerumunan orang banyak. Mengikuti arah sinar, nun didepan sana. Samar-samar terlihat bayangan ayahnya. Tapi Aminah merasa tak pasti. Ia terus membaca shalawat. Mengayuhkan kaki kecilnya, ia ingin menemui ibunya dirumah.

Aminah terus berjalan dibawah kaki langit yang penuh rahasia. Ditatapnya taburan cahaya yang bersinar. Bintang-bintang nun jauh disana adalah miliknya.

Read more!

Sunday, 14 December 2008

Fathu Makkah untuk Kasus Banten

(Bercermin Cara Rasulullah Muhammad SAW)
Bahagia rasanya berkawan akrab dengan para penggiat masjid Salman di ITB dan sebagian besar keluarga besar Parmusi (Persatuan Muslimin Indonesia)/PPP di Jawa Barat.


***


Saya sebagai seorang muslimah yang lahir sebagai Islam namun tidak pernah dibesarkan dipesantren, walau secara keturunan dari pihak ibu berdarah NU tulen, dan cicit dari Kyai Kholil Bangkalan, Madura dan Pangeran Benowo, sebagai sosok produk metropolitan saya merasa masih ada ruang ’kosong keislaman’ yang harus segera diisi dalam tempo singkat sebelum ajal datang mendahului. Beberapa saat yang lalu malam hari sembari minum es moccacino distasiun/pangkalan Travel Cipaganti kota Bandung bersama Menik asistenku dan Pak Suwardi Bapak PPP-ku, adalah Mas Harry Maksoem saudara Islam-ku seorang wartawan ekonomi syariah sebuah koran Islam di Jakarta-Bandung bercerita mengenai periode Fathu Makkah Rasulullah Muhammad SAW. Sebuah periode dimana Rasulullah berdiplomasi dengan approach dan metodologi yang sangat khas terkait dengan kondisi diri beliau dan kelompoknya yang teraliansi serta termajinlaisasikan diantara dominasi masyarakat Mekkah jahiliyah saat itu. Periode tersebut adalah periode sebelum kisah gemilang Rasulullah di Madinah al Munawaroh belum tiba.

Mas Harry merasa concern dengan perjuangan/jihad saya di Banten terkait dengan ditemukannya 112 (seratus dua belas) alat bukti (NOVUMs) dugaan ijazah palsu Ratu Atut Chosiyah, namun saya justru yang mendapat tekanan dari sana sini – baik dari pihak oknum POLRI sampai dengan keputussan Hakim PN Tangerang yang sangat aneh bin ajaib dimana pidana dijadikan perdata — terjadi pemutarbalikan fakta lapangan didalamnya oleh tangan-tangan pengikut aliran ’Keuangan yang Maha Kuasa.’

***


Yaumul Marhamah dari kisah saya kali ini adalah bagaimana kita mampu bersikap tidak memusuhi walaupun dimusuhi. Kemenangan untuk tidak membenci orang yang memerangi kita dengan jalan dzolim dan munkar. Bila terpaksa membela diri karena kita memiliki argumen kebenaran, dan terpaksa meladeni peperangan-bela diri-atau persaingan, namun menurut Cak Nun (2008) didalam bukunya ”Jejak Tinju Pak Kyai” memang dilakukan karena ’dipaksa’ oleh sebab TIDAK DIBERI FORMULA DIALEKTIKA YANG LAIN. Sehingga ketika kita melakukannya kita menyadari sepenuhnya bahwa segalanya dilaksanakan dalam koridor kasih sayang kemanusiaan dan kemakhlukan belaka. Tidak lebih! Kalau perjuangan belum berhasil, kita harus menyadari baru berapa lama kita memulai upaya perjuangan tersebut. Karena Rasulullah Muhammad SAW melakukannya di Mekkah selama masa 13 (tiga belas) tahun. Tiga belas tahun masa ’injury time’ dimana ketidakfahaman publik, sinisme massal, fitnah serta pemutarbalikan fakta, dan lain sebagainya. Namun, berkat keimanan serta kesabaran yang tawadlu dimasa-masa sulit itu, didapatkan bonus dari masa perjuangan lama tersebut. yaitu 180 (seratus delapan puluh) sahabat sejati dalam iman Islam berkualitas mumpuni. Mereka adalah para pecinta Allah sejati yang maju mempertaruhkan segalanya untuk kebenaran Allah SWT – God’s Law. Nah saya kan baru berjuang selama 2 (dua) tahun belaka? Namun bila menghitung lama masa setelah periode reformasi, maka tinggal ditambah 9 (sembilan) tahun saja lagi. Itulah perjuangan menegakkan harga diri negara Indonesia berbasis Hukum Positif yang konstitusional yang sampai dengan hari ini belum sempurna kita capai kecuali hukum semu prosedural belaka.

***


Ketika Rasulullah pada akhirnya menang dalam perjuangannya, terkait dengan konteks kekinian Indonesia (exizting condition,) kita kaum beriman diajarkan oleh Rasulullah untuk tidak menikmati secara berlebihan apalagi merayakannya. Karena sejatinya, didalam Islam kemenangan adalah mengalahkan diri sendiri. Maka ia tak disebut Yaumul Fath, atau hari kemenangan namun hari kasih sayang karena bukan kemenangan atas kekalahan musuh atau kelompok musuh. Peristiwa Fathu Makkah diabadikan Allah SWT didalam QS Al-Fath, perkenan dan proklamasi kemenangan fathan mubina, kemenangan sangat nyata. Didalam proklamasi disana dipaparkanka usulan pemaafan atas dosa-dosa para pejuang murni, dosa lalu maupun pada masa kiki, klausula penyempurnaan ni’mat, termasuk klausula pertolongan besar allah SWT atas masalah mereka semua saat itu.

***

Saya Marissa Haque Fawzi bukan siapa-siapa, dan tidak ingin menjadi yang lain kecuali menjadi Kekasih-Nya semata. Sembari menjalankan peran sebagai istri dari Ikang Fawzi dan Ibu dari Bella dan Kiki yang semakin beranjak dewasa, saya mensyukuri setiap jengkal titipan Allah didalam kehidupan sementara saya didunia ini. Batas usia Rasulullah adalah 63 tahun. Ibuku asal Madura, Jawa Timur (almarhumah) meninggal diusia 53 tahun, Ibu Ikang asal Lebak, Banten (almarhumah) meninggal diusia 54 tahun. Hari ini saya sudah berusia 46 tahun. Apabila memakai ratio usia hidup para perempuan didalam keluar Ikang-saya, maka jejak langkah saya didunia tinggal 7 – 8 tahunan lagi. Sebagai manusia yang mempunyai kebiasaan menghitung-hitung, maka dalam sisa usia yang seperti itu berapa banyak lagi pahala yang dapat kita kumpulkan untuk membasuh seluruh dosa-dosa yang telah kita perbuat dimasa lalu baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja? Mampukah disisa hidup kita tersebut kita tetap hidup dengan keihklasan tinggi agar siklus keberkahan selalu ada bersama kita? Walau sebaik-baik kita berupaya tidak perlu kita pikirkan apakah kita akan mendapatkan pahala besar-kecil-atau bahkan tidak berpahala sama sekali. Asalkan Allah SWT ridho kepada kita, langkah kanan kita insya Allah akan terkayuh selamat menuju ujung jembatan sirotholmustaqin. Amiiin….

***


Read more!

Friday, 28 November 2008

Perempuan Cantik Inspiring Ini Bernama Astrid

Astrid dulu dan Astris sekarang, masya Allah… Apakabar Astrid? Semoga silaturahmi kita tetap terjalin ya? Selamat bertugas dan menjadi Kekasih Allah…kapan-kapan kita berjumpa di MES ya? — Masyarakat Ekonomi Syariah.

Salam kasih, Marissa.

***

Astrid Bermodal Kejujuran
Sabtu, 22 November 2008
Wajah yang selalu bersinar dengan kerudung yang tak pernah ditanggalkan merupakan ciri khas dari wanita ayu dengan ketinggian 175 cm yang saat ini memimpin Ladies Branch Bank DKI Syariah, yang merupakan kantor cabang Bank DKI Syariah terkenal di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.Meski Ladies Branch Bank DKI Syariah baru didirikan di pertengahan 2008, wanita yang sering disapa Astrid ini saat memimpin bank syariah tak pernah berhenti mengendorkan gasnya dalam mengejar target yang dibebankan oleh perusahaan.

Hingga kini target DPK dan pembiayaan yang dibebankan dipundaknya sesuai dengan harapan perusahaanya. Terbukti di kawasan Pondok Indah sudah banyak masyarakat yang telah menjadi nasabahnya.

Lantas apa rahasianya, Astrid? Dengan senyumnya yang manis ia membuka rahasia sambil mengatakan rahasianya adalah berkerja untuk Allah. Ia menyakini berkerja di bank syariah bukan hanya sekedar bekerja tapi ada nilai-nilai yang didakwahkan pada masyarakat tentang halal dan haram.

”Maka saya selalu bilang pada karyawan saya—bahwa pekerjaan ini bukan dunia saja yang kita raih tapi akhirat yang insyaallah yang akan kita dapat,” tutur astrid dengan nama lengkap Astrid Ayudevi Dojearmawan.

Untuk itu dengan nada lirih, ia mengatakan pada karyawannya, bahwa untuk berkerja di bank syariah perlu modal kejujuran dengan kejujuran ia yakin bisa mensukseskan segala pekerjaan di bank syariah.

”Maka jangan berbohong jika berkerja karena jika kita berbohong semua benda yang ada di sekitar kita akan bercerita tentang ketidak jujuran diri kita,”aku Astrid.

Nah, bicara tentang bagaimana menjual produk perbankan syariah, kata Astrid harus disertai dengan modal kejujuran dan hal ini juga di praktekkan oleh Rasullah dan para sahabatnya. Astrid juga menyakini jika pelaku perbankan syariah penuh kejujuran ia yakin Allah akan memudah segala permsalahan pekerjaanya. Amien. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)

Read more!

Tuesday, 25 November 2008

Saya Tidak Membenci Ratu Atut Chosiyah

Saya memaafkan apapun kejahatan / delik pidana yang telah dilakukan Ratu Atut Chosiyah kepada saya Marissa Haque Fawzi.

Namun kebohongan publik yang ‘diduga’ telah dilakukan terkait dengan pidana pendidikan / jaringan mafioso pendidikan, lalu kemudian mendapatkan posisi birokrasi oleh karena buah upaya delik pidana berjamaah (konspirasi) tersebut, maka urusan equality before the law (bahwa dihadapan hukum adalah sama) — Hans Kelsen — tanggung jawabnya bukan lagi sekedar pribadi antara Atut dengan saya semata.

Namun pertanggung jawaban moral serta spiritual harus Atut berikan kepada agamanya, kepada seluruh anak bangsa Indonesia dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Termasuk siapapun dia ‘oknum’ yang ‘diduga’ melindungi / mempetieskan laporan delik pidana pendidikan ini diwilayah ruang kerja POLRI — Polda Metro Jaya dan Bareskrim Mabes Polri.

Juga Universitas Borobudur dan Yayasan Borobudur yang mengeluarkan ijazah Sarjana Ekonomi yang hanya diselesaikan Ratu Atut Chosiyah hanya didalam jangka waktu 17 (tujuh belas) bulan saja — masuk Januari 2003 dan skripsi asli yang ditemukan oleh Kompol Asep Adisaputra, SH, MH dari Kanit 4 Kamneg 4 Polda Metro Jaya, terketik bulan Mei 2004.

Kekhawatiran saya sebagai pribadi yang menjunjung tinggi institusi pendidikan, terdapat oknum diwilayah Dikti, Diknas yang terlibat. Karena jenis kejahatan seperti ini tidak pernah tunggal dan berdiri sendiri, namun dilakukan secara beramai-ramai / kejahatan berjamaah / konspirasi. Besar harapan saya yang terakhir ini tidak terjadi. karena betapa hancurnya masa depan kita bangsa Indonesia, karena kejahatan / delik pidana yang justru dilakukan oleh soko guru yang digugu dan ditiru.Walaupun langit akan runtuh, namun hukum harus wajib tetap ditegakkan.

Allahu Akbar! Merdeka!

Salam kasih,

Marissa Haque Fawzi.

Read more!