|
|
|
|
|
|

Thursday, 25 December 2008

Guru Sufiku dari Tanjung, Kalimantan Selatan

DI dalam berproses menjadi seorang muslimah yang lebih baik dari hari kehari, saya memiliki beberapa pembimbing spiritual dan mengikuti dua aliran tarekoh - Tarekat Sadziliyah dan Tarekat Naqsabandi Haqqani. Dari beberapa yang mendampingi saya secara intens terdapat seorang dari Kalimantan Selatan yang bernama Ustad Ahmad Jaro asal Tanjung, Kalsel. Dalam tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang Ustad Jaro yang dihari Raya Idul Adha ini sedang berada di Arafah berwukuf bersama pululan juta muslimin dan muslimat dari seluruh dunia.

Terakhir saya menemuinya di airport Cengkareng dalam perjalan pulang beliau ke Tanjung, Kalsel bersama seorang Polisi yang sekaligus menjadi ketua Yayasan Hasbunallah di Tanjung, yang biasa saya panggil Mas Tri. Saya masih sedang bercanda dan tertawa ria bersama Mas Tri dan dua orang polisi lainnya temannya dibandara, ketika Ustad Jaro mengatakan gantungan ditas hitam besarku yang ada bandulan berlogo Mabes Polri lucu juga melekat dengan baju gamis kaosku yang berwarna hitam. “Nggak matching ya Pak ustad?” tanyaku ringan. Ustad Jaro menjawab tak kalah ringan bercandaku dengan mengatakan bahwa kelihatannya saya suatu saat tak lama lagi bisa juga menyandang Brigjenpol namun ’tituler’ (sejenis honoris causa dalam civitas academica). Maka meledaklah tawaku sejadi-jadinya, karena memang saya merasa benar-benar ‘lucu’ dan sangat menyenangkanmursyid (guru) tasawufku yang satu ini. Karena memang sejujurnya sedari remaja saya menyenangi martial art dan mempunyai sifat sedikit tomboy. Memang tidak terlalu banyak orang mengetahuinya, bahwa saya pernah menguasai kungfu dan silat. Dahulu kala konon diceritakan bahwa tendangan kaki saya seperti ‘angin.’ Dan pernah membayangkan memasuki dunia pendidikan militer di angkatan udara (karena saya suka bunji jumping dan terbang layang) atau menjadi Polwan (polisi wanita). Tapi itukan dulu, duluuuuu… sekali!

DI dalam berproses menjadi seorang muslimah yang lebih baik dari hari kehari, saya memiliki beberapa pembimbing spiritual dan mengikuti dua aliran tarekoh - Tarekat Sadziliyah dan Tarekat Naqsabandi Haqqani. Dari beberapa yang mendampingi saya secara intens terdapat seorang dari Kalimantan Selatan yang bernama Ustad Ahmad Jaro asal Tanjung, Kalsel. Dalam tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang Ustad Jaro yang dihari Raya Idul Adha ini sedang berada di Arafah berwukuf bersama pululan juta muslimin dan muslimat dari seluruh dunia.

Terakhir saya menemuinya di airport Cengkareng dalam perjalan pulang beliau ke Tanjung, Kalsel bersama seorang Polisi yang sekaligus menjadi ketua Yayasan Hasbunallah di Tanjung, yang biasa saya panggil Mas Tri. Saya masih sedang bercanda dan tertawa ria bersama Mas Tri dan dua orang polisi lainnya temannya dibandara, ketika Ustad Jaro mengatakan gantungan ditas hitam besarku yang ada bandulan berlogo Mabes Polri lucu juga melekat dengan baju gamis kaosku yang berwarna hitam. “Nggak matching ya Pak ustad?” tanyaku ringan. Ustad Jaro menjawab tak kalah ringan bercandaku dengan mengatakan bahwa kelihatannya saya suatu saat tak lama lagi bisa juga menyandang Brigjenpol namun ‘tituler’ (sejenis honoris causa dalam civitas academica). Maka meledaklah tawaku sejadi-jadinya, karena memang saya merasa benar-benar ‘lucu’ dan sangat menyenangkanmursyid (guru) tasawufku yang satu ini. Karena memang sejujurnya sedari remaja saya menyenangi martial art dan mempunyai sifat sedikit tomboy. Memang tidak terlalu banyak orang mengetahuinya, bahwa saya pernah menguasai kungfu dan silat. Dahulu kala konon diceritakan bahwa tendangan kaki saya seperti ‘angin.’ Dan pernah membayangkan memasuki dunia pendidikan militer di angkatan udara (karena saya suka bunji jumping dan terbang layang) atau menjadi Polwan (polisi wanita). Tapi itukan dulu, duluuuuu… sekali!

Hari ini saya sedang merasa sangat sedih dan prihatin melihat kondisi POLRI dengan menejemen yang semakin buruk serta mengulang banyak kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti dimasa Orde Baru yang lalu. Lihatlah bagaimana oknum komandan Polri memerintahkan anak buahnya masuk kekampus Unas (Universitas Nasional) dan memukuli mahasiswa yang sedang unjuk rasa namun dihalaman dalam kampus! Juga bagaimana Habib Riziq dijebak pada unjuk rasa anti gerakan Ahmadiyah dilapangan Monas yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuunnn…

Ganti Kapolri adalah uji kehandalan Presiden SBY didalam memilih salah satu unsur pembantunya. Apakah Bambang Hendarso memang diprediksi dan diposisikan untuk menjadi sahabat/mitra masyarakat, atau malah menjadi alat pembungkam masyarakat seperti kerjadian sepuluh tahun yang lalu dimasa rezim Orde Baru? Kenapa Rieke Dyah Pitaloka sahabat artisku yang sekolahan itu harus ditangkap dan di’polisikan’? Rieke kan hanya mengekspresikan ketidakadilan elit pemerintah didalam membimbing rakyat menuju jalan yang baik dan benar, yang adil dan seimbang tidak tebang pilih dalam proses hukum? Apalagi sekarang ini dia sedang hamil anak pertama yang telah lama ditunggu-tunggu.

Saya ingin memanjatkan doa selamat bagi NKRI agar selamat meniti perjalanan setapak dipenghujung tahun 2008 yang penuh duka ini. Wajah teduh Ustad Jaro membayang didalam doa panjang bagi para tabi-tabi-tabi-tabi-tabi-tabi’in tersebut… Allahu Akbar, kita belum merdeka!

Hari ini saya sedang merasa sangat sedih dan prihatin melihat kondisi POLRI dengan menejemen yang semakin buruk serta mengulang banyak kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti dimasa Orde Baru yang lalu. Lihatlah bagaimana oknum komandan Polri memerintahkan anak buahnya masuk kekampus Unas (Universitas Nasional) dan memukuli mahasiswa yang sedang unjuk rasa namun dihalaman dalam kampus! Juga bagaimana Habib Riziq dijebak pada unjuk rasa anti gerakan Ahmadiyah dilapangan Monas yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuunnn…

Ganti Kapolri adalah uji kehandalan Presiden SBY didalam memilih salah satu unsur pembantunya. Apakah Bambang Hendarso memang diprediksi dan diposisikan untuk menjadi sahabat/mitra masyarakat, atau malah menjadi alat pembungkam masyarakat seperti kerjadian sepuluh tahun yang lalu dimasa rezim Orde Baru? Kenapa Rieke Dyah Pitaloka sahabat artisku yang sekolahan itu harus ditangkap dan di’polisikan’? Rieke kan hanya mengekspresikan ketidakadilan elit pemerintah didalam membimbing rakyat menuju jalan yang baik dan benar, yang adil dan seimbang tidak tebang pilih dalam proses hukum? Apalagi sekarang ini dia sedang hamil anak pertama yang telah lama ditunggu-tunggu.

Saya ingin memanjatkan doa selamat bagi NKRI agar selamat meniti perjalanan setapak dipenghujung tahun 2008 yang penuh duka ini. Wajah teduh Ustad Jaro membayang didalam doa panjang bagi para tabi-tabi-tabi-tabi-tabi-tabi’in tersebut… Allahu Akbar, kita belum merdeka!

Read more!

Monday, 15 December 2008

Aminah

Oleh: Marissa Haque Fawzi
Diterbitkan oleh PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999

Aminah adalah seorang gadis kecil berjilbab. Ia hidup didaerah kumuh yang berdebu ditepi pantai Sampur, Jakarta.

Rumah-rumah disana terbuat dari papan dan kardus bekas. Sampah menggunung. Kaleng-kaleng bekas yang sudah berkarat bertebaran disana-sini. Dicelah-celah jendela, jemuran-jemuran bergantungan menunggu kering. Sebagian lagi bergantungan diatas tali-tali yang terbentang.

Aminah tinggal bersama ibunya. Setiap hari setelah selesai sholat Subuh, mereka menerima cucian yang dititipkan oleh keluarga-keluarga kaya dari luar lingkungan mereka. Sehabis menjemur semua pakaian tersebut, Aminah pergi bermain-main kepantai didekat rumahnya. Biasanya ia bermain diantara karang-karang diatas pasir. Terkadang beberpa anak kecil lainnya bermain bersamanya. Pada kesempatan lain, ia lebih suka sendirian. Berdiam diri memandang gelombang pasang yang berkejaran menerpa karang. Dibiarkannya desir angin memainkan ujung-ujung jilbabnya.

Malam harinya Aminah berjualan kembang. Aminah mengelompokkan kembang tersebut sesuai warnanya; mulai dari warna merah muda, jingga, putih, dan ungu. Bersama Halimah sahabatnya mereka menjual bunga-bunga tersebut dijalan dekat lampu merah. Disana banyak anak-anak sebayanya bermain-main.

Malam itu tak ada bulan. Bintangpun enggan menampakka dirinya. Langit hitam pekat tertutup awan. Walaupun malam terasa panas, kedua anak itu menggigil kedinginan sampai ketulang sumsum.

Aminah dan Halimah berjalan menjajakan kembangnya. Mereka sampai disebuah jalan yang penuh dengan lampu beraneka warna. Hingar binger kendaraan bermotor dan orang-orang yang berlalu lalang.

Tercium bau garam laut bercampur bau polusi yang berasal dari knalpot kendaraan-kendaraan bermotor yang bunyinya memekakkan telinga.

Aminah dan Halimah berjalan dianata mobil-mobil. Menawarkan kembang kepada para pengendara. Ketika bunyi klakson nyaring menyentak, Aminah dan Halimah buru-buru menyingkir.

Seorang wanita tertarik membeli lima tangkai kembang. Aminah dan Halimah tidak dapat menatap wajahnya, karena hanya tangannya saja yang terjulur keluar melalui celah jendela mobil. Wanita itu memberikan uang lima ribu rupiah.

Ketika lampu berubah warna menjadi hijau, mereka berdua kembali duduk sambil menatap kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Lampu-lampu jalan yang bersinar sangat terang, membuat bayangan pohon disekitarnya menjadi semakin dalam. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Udara makin dingin. Malam semakin larut.

Tiba-tiba terdengar bunyi tangisan keras yang menimpali bunyi kendaraan yang berlalu lalang. Aminah tahu siapa yang menangis. Segera didatanginya suara itu.

Seorang anak lelaki menggeliat diatas pangkuan ibunya. Sang ibu menepuk-nepuk punggung sang bocah sambil bersenandung lirih sampai sang bocah tertidur.

Aminah melihat kacang rebus jualan si ibu masih menggunung, belum laku. Ah, kasihan sekali. “Apa khabar Aminah? Banyak laku jualanmu?”, sapa ibu penjual kacang rebus itu. Namanya Ibu Rimpi. “Baru sedikit,” jawab aminah.

“Anakku ini menangis terus sepanjang hari. Tapi kami tak dapat pulang dulu krtumah kalau belum dapat uang. Lihat jualanku hari ini masih sangat banyak tersisa.” Senyum ibu Rimpi terlihat sangat getir sembari menatap wajah-wajah cilik dihadapannya yang manis, jujur, dan polos serta mempunyai kulit yang halus, mata yang bening, dan senyum yang tanpa beban.

Tiba-tiba anak lelakinya menangis lagi. Maka tahulah Aminah dan Halimah bahwa anak lelaki tersebut kelaparan dan kedinginan.

Dengan uang lima ribu rupiah hasil penjualan mereka malam itu, Aminah dan Halimah bergegas membeli makanan dan minuman hangat di sebuah warung dipinggir jalan dekat tempat mereka mangkal. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli empat gelas teh manis dan lima potong pisang rebus. “Ah, betapa mahalnya harga makana sekarang ini,” gumam Aminah.

Aminah dan Halimah membawakan makanan dan minuman itu ketempat Ibu Rimpi dan anakknya. Mereka berempat melahapnya dengan nikmat.

Tiba-tiba Aminah merasakan perutnya sakit bukan alang kepalang. “Ya Allah…apa yang terjadi dengan diriku ini?”, gumamnya. Halimah, Ibu Rimpi dan anak lelakinyapun terlihat kesakitan. Mereka semua limbung dan jatuh ketanah.

Tiba-tiba dunia terasa semakin kelam dari malam sesungguhnya. Aminah tak mampu lagi bernafas. Namun ia masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam lemahnya ia berdoa: “La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.” Yang artinya ‘Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau, hamba ini seorang aniaya’ (doa Nabi Yunus ketika diperut ikan Paus). Tidak ada tempat lain untuk berlindung serta memohon pertolongan kecuali kepada Nya.

Aminah keracunan makanan. Semua terjadi akibat pabrik-pabrik yang tak bertanggung jawab membuang limbah di Teluk Jakarta, dilokasi Aminah didaerah Sampur. Lalat-lalat berterbangan diparit-parit dan jamban-jamban dekat rumahnya. Menghinggapi makanan dan minuman yang dibelinya, meninggalkan racun dan kotorannya disana.

“Ya Allah setelah Ayahku meninggal karena TBC dua tahun yang lalu, bagaimana nanti nasib ibuku? Siapa nanti yang akan membantunya menyucikan pakaian? Bagaimana nanti dengan nasib Halimah, Ibu Rimpi dan anaknya…?” tangis Aminah.

Tiba-tiba tercium bau semerbak, wangi sekali. Langit kelam tiba-tiba menjadi terang. “Apa yang terjadi? Dimanakah aku?” Aminah kebingungan. “Apa yang harus aku lakukan?”
Desir ombak terdengar. Semakin lama semakin keras. Kaki-kaki mungil Aminah serasa menginjak air laut ditepi pantai. Anginpun seakan membisikkan sesuatu ditelinganya.

Aminahpun teringat akan kembang yang masih digenggamnya. Dipandanginya sesaat, sampai tiba-tiba terbersit sesuatu didalam pikirannya. Dilemparkannya kembang-kembang itu dilangit.

Langit pekat berganti terang, cahaya putih bersinar, membuat bintang-bintang tampak terang benderang. Aminah melihat orang-orang berhenti bercakap-cakap. Tak ada lagi deru kendaraan yang membisingkan. Wajah orang-orang terlihat bersih dan bersinar, menebar senyum dimana-mana. Betapa tenteram, betapa indah.

Perlahan Aminah berjalan meyusuri tepian pantai, pulang kerumah. Sendirian, terlepas dari kerumunan orang banyak. Mengikuti arah sinar, nun didepan sana. Samar-samar terlihat bayangan ayahnya. Tapi Aminah merasa tak pasti. Ia terus membaca shalawat. Mengayuhkan kaki kecilnya, ia ingin menemui ibunya dirumah.

Aminah terus berjalan dibawah kaki langit yang penuh rahasia. Ditatapnya taburan cahaya yang bersinar. Bintang-bintang nun jauh disana adalah miliknya.

Read more!

Sunday, 14 December 2008

Fathu Makkah untuk Kasus Banten

(Bercermin Cara Rasulullah Muhammad SAW)
Bahagia rasanya berkawan akrab dengan para penggiat masjid Salman di ITB dan sebagian besar keluarga besar Parmusi (Persatuan Muslimin Indonesia)/PPP di Jawa Barat.


***


Saya sebagai seorang muslimah yang lahir sebagai Islam namun tidak pernah dibesarkan dipesantren, walau secara keturunan dari pihak ibu berdarah NU tulen, dan cicit dari Kyai Kholil Bangkalan, Madura dan Pangeran Benowo, sebagai sosok produk metropolitan saya merasa masih ada ruang ’kosong keislaman’ yang harus segera diisi dalam tempo singkat sebelum ajal datang mendahului. Beberapa saat yang lalu malam hari sembari minum es moccacino distasiun/pangkalan Travel Cipaganti kota Bandung bersama Menik asistenku dan Pak Suwardi Bapak PPP-ku, adalah Mas Harry Maksoem saudara Islam-ku seorang wartawan ekonomi syariah sebuah koran Islam di Jakarta-Bandung bercerita mengenai periode Fathu Makkah Rasulullah Muhammad SAW. Sebuah periode dimana Rasulullah berdiplomasi dengan approach dan metodologi yang sangat khas terkait dengan kondisi diri beliau dan kelompoknya yang teraliansi serta termajinlaisasikan diantara dominasi masyarakat Mekkah jahiliyah saat itu. Periode tersebut adalah periode sebelum kisah gemilang Rasulullah di Madinah al Munawaroh belum tiba.

Mas Harry merasa concern dengan perjuangan/jihad saya di Banten terkait dengan ditemukannya 112 (seratus dua belas) alat bukti (NOVUMs) dugaan ijazah palsu Ratu Atut Chosiyah, namun saya justru yang mendapat tekanan dari sana sini – baik dari pihak oknum POLRI sampai dengan keputussan Hakim PN Tangerang yang sangat aneh bin ajaib dimana pidana dijadikan perdata — terjadi pemutarbalikan fakta lapangan didalamnya oleh tangan-tangan pengikut aliran ’Keuangan yang Maha Kuasa.’

***


Yaumul Marhamah dari kisah saya kali ini adalah bagaimana kita mampu bersikap tidak memusuhi walaupun dimusuhi. Kemenangan untuk tidak membenci orang yang memerangi kita dengan jalan dzolim dan munkar. Bila terpaksa membela diri karena kita memiliki argumen kebenaran, dan terpaksa meladeni peperangan-bela diri-atau persaingan, namun menurut Cak Nun (2008) didalam bukunya ”Jejak Tinju Pak Kyai” memang dilakukan karena ’dipaksa’ oleh sebab TIDAK DIBERI FORMULA DIALEKTIKA YANG LAIN. Sehingga ketika kita melakukannya kita menyadari sepenuhnya bahwa segalanya dilaksanakan dalam koridor kasih sayang kemanusiaan dan kemakhlukan belaka. Tidak lebih! Kalau perjuangan belum berhasil, kita harus menyadari baru berapa lama kita memulai upaya perjuangan tersebut. Karena Rasulullah Muhammad SAW melakukannya di Mekkah selama masa 13 (tiga belas) tahun. Tiga belas tahun masa ’injury time’ dimana ketidakfahaman publik, sinisme massal, fitnah serta pemutarbalikan fakta, dan lain sebagainya. Namun, berkat keimanan serta kesabaran yang tawadlu dimasa-masa sulit itu, didapatkan bonus dari masa perjuangan lama tersebut. yaitu 180 (seratus delapan puluh) sahabat sejati dalam iman Islam berkualitas mumpuni. Mereka adalah para pecinta Allah sejati yang maju mempertaruhkan segalanya untuk kebenaran Allah SWT – God’s Law. Nah saya kan baru berjuang selama 2 (dua) tahun belaka? Namun bila menghitung lama masa setelah periode reformasi, maka tinggal ditambah 9 (sembilan) tahun saja lagi. Itulah perjuangan menegakkan harga diri negara Indonesia berbasis Hukum Positif yang konstitusional yang sampai dengan hari ini belum sempurna kita capai kecuali hukum semu prosedural belaka.

***


Ketika Rasulullah pada akhirnya menang dalam perjuangannya, terkait dengan konteks kekinian Indonesia (exizting condition,) kita kaum beriman diajarkan oleh Rasulullah untuk tidak menikmati secara berlebihan apalagi merayakannya. Karena sejatinya, didalam Islam kemenangan adalah mengalahkan diri sendiri. Maka ia tak disebut Yaumul Fath, atau hari kemenangan namun hari kasih sayang karena bukan kemenangan atas kekalahan musuh atau kelompok musuh. Peristiwa Fathu Makkah diabadikan Allah SWT didalam QS Al-Fath, perkenan dan proklamasi kemenangan fathan mubina, kemenangan sangat nyata. Didalam proklamasi disana dipaparkanka usulan pemaafan atas dosa-dosa para pejuang murni, dosa lalu maupun pada masa kiki, klausula penyempurnaan ni’mat, termasuk klausula pertolongan besar allah SWT atas masalah mereka semua saat itu.

***

Saya Marissa Haque Fawzi bukan siapa-siapa, dan tidak ingin menjadi yang lain kecuali menjadi Kekasih-Nya semata. Sembari menjalankan peran sebagai istri dari Ikang Fawzi dan Ibu dari Bella dan Kiki yang semakin beranjak dewasa, saya mensyukuri setiap jengkal titipan Allah didalam kehidupan sementara saya didunia ini. Batas usia Rasulullah adalah 63 tahun. Ibuku asal Madura, Jawa Timur (almarhumah) meninggal diusia 53 tahun, Ibu Ikang asal Lebak, Banten (almarhumah) meninggal diusia 54 tahun. Hari ini saya sudah berusia 46 tahun. Apabila memakai ratio usia hidup para perempuan didalam keluar Ikang-saya, maka jejak langkah saya didunia tinggal 7 – 8 tahunan lagi. Sebagai manusia yang mempunyai kebiasaan menghitung-hitung, maka dalam sisa usia yang seperti itu berapa banyak lagi pahala yang dapat kita kumpulkan untuk membasuh seluruh dosa-dosa yang telah kita perbuat dimasa lalu baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja? Mampukah disisa hidup kita tersebut kita tetap hidup dengan keihklasan tinggi agar siklus keberkahan selalu ada bersama kita? Walau sebaik-baik kita berupaya tidak perlu kita pikirkan apakah kita akan mendapatkan pahala besar-kecil-atau bahkan tidak berpahala sama sekali. Asalkan Allah SWT ridho kepada kita, langkah kanan kita insya Allah akan terkayuh selamat menuju ujung jembatan sirotholmustaqin. Amiiin….

***


Read more!

Friday, 28 November 2008

Perempuan Cantik Inspiring Ini Bernama Astrid

Astrid dulu dan Astris sekarang, masya Allah… Apakabar Astrid? Semoga silaturahmi kita tetap terjalin ya? Selamat bertugas dan menjadi Kekasih Allah…kapan-kapan kita berjumpa di MES ya? — Masyarakat Ekonomi Syariah.

Salam kasih, Marissa.

***

Astrid Bermodal Kejujuran
Sabtu, 22 November 2008
Wajah yang selalu bersinar dengan kerudung yang tak pernah ditanggalkan merupakan ciri khas dari wanita ayu dengan ketinggian 175 cm yang saat ini memimpin Ladies Branch Bank DKI Syariah, yang merupakan kantor cabang Bank DKI Syariah terkenal di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.Meski Ladies Branch Bank DKI Syariah baru didirikan di pertengahan 2008, wanita yang sering disapa Astrid ini saat memimpin bank syariah tak pernah berhenti mengendorkan gasnya dalam mengejar target yang dibebankan oleh perusahaan.

Hingga kini target DPK dan pembiayaan yang dibebankan dipundaknya sesuai dengan harapan perusahaanya. Terbukti di kawasan Pondok Indah sudah banyak masyarakat yang telah menjadi nasabahnya.

Lantas apa rahasianya, Astrid? Dengan senyumnya yang manis ia membuka rahasia sambil mengatakan rahasianya adalah berkerja untuk Allah. Ia menyakini berkerja di bank syariah bukan hanya sekedar bekerja tapi ada nilai-nilai yang didakwahkan pada masyarakat tentang halal dan haram.

”Maka saya selalu bilang pada karyawan saya—bahwa pekerjaan ini bukan dunia saja yang kita raih tapi akhirat yang insyaallah yang akan kita dapat,” tutur astrid dengan nama lengkap Astrid Ayudevi Dojearmawan.

Untuk itu dengan nada lirih, ia mengatakan pada karyawannya, bahwa untuk berkerja di bank syariah perlu modal kejujuran dengan kejujuran ia yakin bisa mensukseskan segala pekerjaan di bank syariah.

”Maka jangan berbohong jika berkerja karena jika kita berbohong semua benda yang ada di sekitar kita akan bercerita tentang ketidak jujuran diri kita,”aku Astrid.

Nah, bicara tentang bagaimana menjual produk perbankan syariah, kata Astrid harus disertai dengan modal kejujuran dan hal ini juga di praktekkan oleh Rasullah dan para sahabatnya. Astrid juga menyakini jika pelaku perbankan syariah penuh kejujuran ia yakin Allah akan memudah segala permsalahan pekerjaanya. Amien. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)

Read more!

Tuesday, 25 November 2008

Saya Tidak Membenci Ratu Atut Chosiyah

Saya memaafkan apapun kejahatan / delik pidana yang telah dilakukan Ratu Atut Chosiyah kepada saya Marissa Haque Fawzi.

Namun kebohongan publik yang ‘diduga’ telah dilakukan terkait dengan pidana pendidikan / jaringan mafioso pendidikan, lalu kemudian mendapatkan posisi birokrasi oleh karena buah upaya delik pidana berjamaah (konspirasi) tersebut, maka urusan equality before the law (bahwa dihadapan hukum adalah sama) — Hans Kelsen — tanggung jawabnya bukan lagi sekedar pribadi antara Atut dengan saya semata.

Namun pertanggung jawaban moral serta spiritual harus Atut berikan kepada agamanya, kepada seluruh anak bangsa Indonesia dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Termasuk siapapun dia ‘oknum’ yang ‘diduga’ melindungi / mempetieskan laporan delik pidana pendidikan ini diwilayah ruang kerja POLRI — Polda Metro Jaya dan Bareskrim Mabes Polri.

Juga Universitas Borobudur dan Yayasan Borobudur yang mengeluarkan ijazah Sarjana Ekonomi yang hanya diselesaikan Ratu Atut Chosiyah hanya didalam jangka waktu 17 (tujuh belas) bulan saja — masuk Januari 2003 dan skripsi asli yang ditemukan oleh Kompol Asep Adisaputra, SH, MH dari Kanit 4 Kamneg 4 Polda Metro Jaya, terketik bulan Mei 2004.

Kekhawatiran saya sebagai pribadi yang menjunjung tinggi institusi pendidikan, terdapat oknum diwilayah Dikti, Diknas yang terlibat. Karena jenis kejahatan seperti ini tidak pernah tunggal dan berdiri sendiri, namun dilakukan secara beramai-ramai / kejahatan berjamaah / konspirasi. Besar harapan saya yang terakhir ini tidak terjadi. karena betapa hancurnya masa depan kita bangsa Indonesia, karena kejahatan / delik pidana yang justru dilakukan oleh soko guru yang digugu dan ditiru.Walaupun langit akan runtuh, namun hukum harus wajib tetap ditegakkan.

Allahu Akbar! Merdeka!

Salam kasih,

Marissa Haque Fawzi.

Read more!

Saturday, 27 September 2008

Suamiku Ikang Fawzi Alhamdulillah Ayah Teladan


Terimakasih Ya Allah atas diberikannya ni’mat berkeluarga bagiku dengan memiliki Ikang Fawzi, Isabella Fawzi dan Marsha Chikita Fawzi yang melengkapi hidup dan kehidupanku sebagai seorang perempuan, ibu, dan khalifah-Mu Ya Rob…
Doa syukurku, Marissa Grace Haque.




www.gusmus.net

Ikang Fawzi sang Bapak Siaga
26 September 2008 22:19:38

Meski sudah berumur kepala empat, Ikang Fawzi yang dikenal sebagai rocker kawakan di era 1980-an masih tetap enerjik. Ditemui reporter gusmus.net seusai syuting sebuah acara musik di salah satu teve swasta, Ikang, panggilan akrabnya, tetap antusias menjawab pertanyaan seputar dinamika politik tanah air.

“Politisi kita umumnya tidak mau bekerja keras, sehingga terlihat lucu di mata publik”. Namun Ikang memakluminya sebagai sebuah proses demokratisasi dimana para politisi baru belajar berpolitik.

Terus, apakah sang istri Marissa Haque sebagai salah satu politisi DPR juga termasuk politisi yang lucu? “Yang saya tahu istri saya bekerja keras dan dia sangat serius dengan pekerjaannya sebagai anggota dewan”, demikian jawab Ikang. Sebagai seorang suami dari istri yang mendapat amanah sebagai wakil rakyat, Ikang selalu mendukung tugas istrinya. Sebaliknya, Marissa sebagai istri juga mendukung karier suaminya, termasuk keinginan Ikang untuk come back ke panggung belantika musik Indonesia.

Walaupun sama-sama sibuk dengan profesinya masing-masing, Ikang dan Marissa tetap memperhatikan dua putrinya. Bahkan Ikang mengajak putri pertamanya, Isabella yang baru lulus dari Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris untuk berduet dengannya dalam sebuah lagu dalam album yang baru dirilisnya. Baginya, keluarga adalah nomor satu sehingga sesibuk apapun, Ikang tetap memperhatikan keluarganya. Wah, salah satu contoh bapak siaga nih yang sekaligus juga Bapak Teladan Indonesia.

Read more!

Tuesday, 26 August 2008

Selebriti Menjawab Tantangan Zaman

Dalam kisah saya ini walau mungkin sedikit sudah agak ‘basi’,

saya ingin berbagi dengan saudara-saudariku setanah air sebuah tulisanku yang dimuat oleh

sahabatku Achmad Subechi yang kini menjadi Pemred di grup Kompas-Gramedia di Balikpapan, Kaltim, pada

rubrik Kolom Marissa tertanggal: Selasa, 26 Agustus 2008 | 14:38 WIB

Selebriti Menjawab Tantangan Zaman

BERBAGAI media masa Indonesia belakangan ini dipenuhsesaki oleh hiruk-pikuk sejumlah besar pesohor Indonesia memasuki pencalegan menuju kursi Wakil Rakyat 2009 di DPR RI maupun DPRD tingkat satu atau dua. Sikap pro maupun kontra mewarnai aktivitas ini, dari yang setuju sampai dengan yang sama sekali benar-benar tidak setuju. Atas kejadian tersebut, kelihatannya sebagai anak bangsa dari sebuah negeri yang dikatakan sebagai negara demokrasi prosedural, hendaknya kita semua tanpa terkecuali berendah hati dengan kepala dingin saling introspeksi diri dengan melakukan muhasabah, murakobah, serta ber-tabbayun satu dengan lainnya.

***

Tulisan sederhana yang merupakan wakil dari sebagian ekspresi masyarakat umum ini, semoga dapat menjadi pencerahan bagi kita semua tanpa terkecuali. Karena menari tango selalunya terdiri dari dua orang. Cover both side stories, demikianlah kira-kira. Sebuah wawancara secara random (acak) yang saya umpankan, memberikan beragam ekspresi jujur tanpa beban yang mengemuka secara spontan. Diharapkan hasil yang muncul ini dapatlah mewakili kepedihan hati sebagian dari kami para selebriti film dan televisi yang telah secara serius mempersiapkan diri dengan menyempurnakan kapasitas diri melalui pendidikan formal dan informal, mengasah diri dalam berbagai organisasi sosial-politik, serta uji identitas diri lainnya.Keinginan untuk di-wongke secara adil dan setara dengan para politisi senior lainnya menjadi keprihatinan sebagian besar dari kami. Karena sejujurnya sebagian oknum politisi senior telah terbukti terlibat didalam beberapa kasus besar korupsi ditanah air.

Bahkan gambar meraka bermunculan silih berganti diberagam media Indonesia. Sementara para aktor-aktris yang telah terlebih dulu masuk di Senayan, alhamdulillah bersih dari aktivitas korupsi yang memalukan bangsa. Kalaupun ada yang sempat satu-dua muncul dimedia, itu karena para suami mereka yang melakukan korupsi. Bukanlah sang artis yang bersangkutan yang melakukannya.

Karenanya tak heran saat pertanyaan balik diekspresikan para responden kepada saya. Antara lain sebagai berikut: ”Apa yang salah dengan para artis menjadi politisi?”, “Wong selama ini juga banyak politisi mendadak jadi artis.” Atau mengartiskan diri. “Lihatlah bagaimana teknik para politisi senior tersebut mulai Menjadi penyanyi dadakanlah, pembaca puisi dadakanlah, photo model dadakanlah, pembaca berita dadakanlah, penyiar radio dadakanlah, dan lain sebagainya.” “Katanya Indonesia negara demokrasi, kok diskriminatif sekali ya?” “Memangnya para pengamat politik itu sudah berbuat karya nyata apa sih buat Indonesia selain menjadi pengamat semata?” Bahkan: “Lha, wong Presiden-ne juga mendadak rekaman lagu, jadi yo podo ngartise.” Demikianlah kurang-lebih kalimat-kalimat yang muncul dalam wawancara sederhana yang saya umpankan kepada mereka.Sejujurnya, sebenarnya sudah sangat lama saya merasa terganggu disaat media tv, radio, internet bahkan cetak menyebutkan sepotong kata ‘artis’ yang merujuk kepada kami para aktor-aktris film serta sintron. Padahal menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan ejaan yang baik dan benar yang telah disempurnakan oleh Prof. Yus Badudu dan Prof. Anton Moeliono – para Guru Besar Bahasa Indonesia – kata artis merupakan sepengal kata serapan dari bahasa Inggris atas artist (pekerja seni). Kata ini merujuk kepada para pekerja seni dari seluruh bidang kesenian. Antara lain; pelukis, penari, pemahat, penyair, pemain teater, penyayi, dan pemain film serta pemain sinetron. Maka kesalahkapahaman kita selama ini, yang didalam Ilmu Keberbahasaan / Linguistics disebut hiper-corrections.

Besar harapan saya, dengan segala kerendahan hati melalui tulisan sederhana ini semoga menjadi pencerahan bagi kita semua adanya. Khususnya dikala rasa keadilan anda terganggu atas berbondong-bondongnya kehadiran para selebriti-politisi dadakan didalam upaya pencalegkan diri menuju kursi Wakil Rakyat 2009. Mari kita periksa apa-siapa para aktor-aktris DPR RI pada periode 2004-9. Tercatat ada lima pesohor yang berhasil masuk di Senayan. Kenapa pesohor saya pakai? Karena ada yang bukan aktor-aktris yang sebenarnya, namun karena kisah percintaannya dengan sang aktor, maka ia didaulat media infotainment sebagai ’artis.’ Lima pesohor yang masuk terdiri dari tiga pria dan dua perempuan: Adjie Massaid, Dede Yusuf, Qomar, Angelina Sondakh, dan saya Marissa Haque.Sejujurnya juga, hanya empat dari kami berlima yang sesungguhnya aktor-aktris. Angelina Sondakh adalah Putri Indonesia. Tiga artis kondang Nurul Arifin, Puput Novel (keduanya dari Partai Golkar) dan Rieke Pitaloka (Wasekjen PKB versi Gus Dur) belum beruntung memasuki Senayan. Ketiganya terpental bukan karena sekedar nomor urut yang tidak strategis, namun juga karena kesalahan membaca wilayah basis masa pendukung partainya (konstituen) di wilayah Dapil (daerah Pemilihan) masing-masing. Karena Rieke Pitaloka dari PKB berada dalam nomor urut 1 di Dapilnya yang lalu. Seorang Qomar yang pelawak (dari Partai Demokrat) lebih sering dianggap sedang melawak pada saat ia ingin serius menunjukkan dedikasinya. Sebagai contoh disaat ia dengan keihklasan luar biasa memberikan tiga bulan penuh gajinya kepada seorang guru SMP didaerah Melawai, Kebayoran Baru saat sang guru didzolimi penguasa lokal. Kejadian tersebut membubuhkan kesan positif terdalam dihati saya.

Dan saya yakini juga masyarakat penonton infotainment diseluruh Indonesia. Begitu juga dengan Dede Yusuf dan Adjie Massaid, berbagai aktivitas sosial mereka lakukan baik secara diam-diam maupun dengan publikasi media. Angelina Sondakh sendiri dengan seluruh energi luar biasanya melakukan belasan langkah signifikan dalam pelestarian lingkungan hidup Indonesia. Saya pribadi, telah melakukan kerja plus-plus atas kerja pengawasan dengan memakai media audio-visual tanpa gaji tambahan dari negara.Semoga pembaca masih yang ingat bagaimana ditahun pertama saya sebagai anggota Komisi VIII yang membawahi bidang Perempuan, Agama, dan Sosial, termasuk salah seorang anggota dewan yang terpilih untuk dikirim ke Saudi Arabia guna mengungkap Kejahatan Mafia Perhajian

Pengawasan Haji 2005 yang saya lakukan bersama tim pemantau Haji 2005, berdampak atas digiringnya mantan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Said Agil kepenjara atas tuduhan penyalahgunaan Dana Abadi Ummat. Tahun kedua saya dipindah Fraksi PDI Perjuangan ke Komisi 4 yang membawahi bidang Kehutanan, Perikanan, Pertanian & Bulog sesuai kopetensi saya yang mahasiswi Program Doktor Jurusan PSL-IPB (Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor).

Kita semua tahu bahwa disaat tersebut mantan Menteri Perikanan dan Ketua Bulog tergiring pula kepenjara. Bahkan ketika saya bersikukuh tidak bersedia mendukung seorang kader partai lain yang didukung PDIP dengan alasan dugaan ijazah aspal (asli tapi palsu) dan terdapatnya laporan BPK selama 2 semester berturut-turut (2005-2006) diduga korupsi, untuk menjadi Cagub Banten dalam Pilkada Banten 2006. Bahkan sayapun tidak bersedia mengundurkan diri ketika diancam pecat sebagai anggota dewan. Alasan saya kepada oknum elit PDIP saat itu karena tidak ada dalam filosofi hidup saya mengundurkan diri dari tanggung jawab yang disumpah dibawah Al Quran. Kalau mau silahkan pecat jawab saya saat itu.

Karena kedepannya dengan saya dipecat partai akan menjadi jelas bagi saya untuk menjelaskannya kembali kepada konstituen saya dari Dapil Jabar 2 (Kabupaten Bandung, Jabar). Dan bukanlah semata karena ingin menjadi Wakil Gubernur Banten niatan saya kemarin ikut dalam Pilkada 2006 itu. Melainkan, semata berjihad di Propinsi Banten untuk menjujurkan keadilan serta membingkai politik disana dengan hukum. Oleh karenanya saya tidak berkecil hati saat kehilangan kursi empuk DPR RI pada Januari 2007.

Sedihkah saya disaat kehilangan jabatan dan kursi empuk DPR RI? Sejujurnya ya, saat itu saya memang sedikit terluka. Terluka karena saya sangat mencintai Ibu Politik pertama saya Megawati Soekarnoputri dan PDIP sebagai partai. Namun kesadaran cepat datang. Menyadari bahwa dengan segala kelebihan sekaligus kelemahannya, Ketua Umum PDIP hanyalah manusia biasa seperti kita semua. Keikhlasan memaafkan Megawati, membuat luka dihati saya cepat sembuhnya. Namun bukan berarti saya berhenti untuk terus berjuang di Banten untuk menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum.

Bahkan alhamdulilllah, hari ini saya dapat tersenyum lepas ketika menyadari bahwa Allah SWT adalah Maha ’Bercanda.’ Allah SWT telah menyelamatkan saya dari bencana dipermalukan pada Komisi 4 DPR RI. Karena kita semua faham bahwa hari ini mantan Ketua Komisi 4 dan 2 orang mantan anggota Komisi 4 berada didalam penjara KPK.Termasuk juga beberapa oknum anggota Komisi 4 dari berbagai macam latar belakang partai yang masih aktif, mereka masah terus bermasalah dengan KPK. Tentulah, sisa dari anggota komisi 4 yang tadinya berjumlah 50 orang tentu hari-harinya belakangan ini sedang tidak nyaman berada dikursi empuk DPR RI. Karena boleh dikatakan bahwa seluruh langkah kegiatan politik mereka sedang dalam pengawasan KPK. Bahkan termasuk seluruh pembicaraan melalui telpon genggam mereka. Beruntung saya sebagai selebriti sudah tidak berada disana. Dapat dibayangkan bagaimana media infotainment akan membuat sang selebriti menjadi bulan-bulanan mereka?

Selepas dari DPR RI dan selama kurang-lebih setahun tidak berpartai, saya masih tetap dengan perjuangan menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum. Gugatan Penyelundupan Hukum Pilkada Banten terus saya kerjakan di 2 peradilan – umum dan TUN (Tata Usaha Negara).

Sekali lagi tentunya dengan segala kerendahan hati, saya sang ’artis’ yang bukan siapa-siapa serta belum berhasil menjadi seorang negarawati ini, paling tidak mau dan mampu berjanji kepada rakyat pemilih / konstituen baik di Dapil saya maupun diseluruh Indonesia untuk tetap hanif dan istiqomah didalam perjuangan menjujurkan keadilan serta membingkai politik dengan hukum. Insya Allah selama hayat dikandung badan.

Semoga semangat ini dapat menular kepada teman-teman selebriti yunior lain kedepannya. Bismillah, dimulai dengan langkah kanan, positive thinking!

Salam kasih…

Read more!